Dua Tahun Pasca Ledakan Beirut, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan

 Dua Tahun Pasca Ledakan Beirut, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan

Dua Tahun Pasca Ledakan Beirut, Keluarga Korban Masih Menanti Keadilan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM -Pada tahun 2020, dua tahun lalu, terjadi ledakan Beirut di Pelabuhan Beirut yang menghancurkan ibu kota dan menewaskan lebih dari 200 orang. Termasuk petugas pemadam kebakaran yang dikirim untuk memadamkan api ledakan juga turut menjadi korban.

Ribuan orang berkumpul di ibu kota Lebanon, Beirut, untuk memperingati dua tahun sejak ledakan pelabuhan mematikan tahun 2020, menyerukan pertanggungjawaban.

Para demonstran menyerukan agar mereka yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban.

Salah satu dari tiga pawai yang diadakan di seluruh kota dimulai di stasiun pemadam kebakaran di Karantina, sebuah lingkungan yang terletak tepat di sebelah pelabuhan, di mana keluarga memegang peti mati putih dengan nama 10 petugas pemadam kebakaran yang tewas.

Keluarga korban telah memprotes upaya pemerintah untuk merobohkan silo (struktur yang digunakan untuk menyimpan bahan curah) yang tersisa agar tidak menghapus memori 4 Agustus dan meninggalkan bukti di tempat.

Mireille Bazergy Khoury, ibu Elias Khoury, yang baru berusia 15 tahun ketika dinding kamarnya runtuh setelah ledakan mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tidak ada yang dilakukan untuk menghentikan api yang mengamuk di silo.

“Silo-silo ini sangat penting bagi kami … ada beberapa keluarga yang masih berharap menemukan bagian tubuh anak-anak mereka di bawah sana,” kata Khoury sebagaimana dikutip dari Al Jazeera.

Hingga kini, dua tahun pasca ledakan, keluarga masih berjuang tanpa lelah untuk mencari keadilan karena penyelidikan lokal atas ledakan itu dihentikan oleh politisi Lebanon yang telah didakwa atau dipanggil untuk diinterogasi.

Bukti yang telah muncul dari investigasi oleh kelompok hak asasi, jurnalis dan hakim Libanon dengan kuat menunjukkan bahwa pejabat tinggi di pemerintahan dan pasukan keamanan tahu tentang risiko dari timbunan amonium nitrat dan diam-diam menyembunyikannya.

Keluarga menuntut Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) mengirim misi pencarian fakta ke Lebanon.

“Kami menekankan bahwa kami membutuhkan intervensi internasional sekarang. Sejarah tidak akan berbelas kasih kepada siapa pun yang tidak akan menyelidiki pelanggaran ini, itu akan merekam mereka yang tidak melakukan apa-apa,” kata Khoury.

“Bukan hanya orang Lebanon yang terbunuh. Oleh karena itu, ini bukan hanya masalah Lebanon, ini adalah masalah internasional dan sudah saatnya mereka bertanggung jawab mengingat mandat HRC adalah untuk menyelidiki pelanggaran hak asasi manusia,” imbuhnya.

 

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

17 + 6 =