Doa Masyarakat Lombok Timur Saat Tahun Baru Islam

 Doa Masyarakat Lombok Timur Saat Tahun Baru Islam
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Lombok Timur – Warga Nahdlatul Wathan di Ponpes Darunnahdlatain NW Pancor Lombok Timur, dalam rangka menyambut tahun baru Islam, mengekspresikan dengan menggelar pengajian.

Sebetulnya, pengajian 1 Muharram itu sudah menjadi agenda rutin warga Nahdlatul Wathan, sejak hayat pendiri NWDI, NBDI, dan NW Almaghfurlah Maulanasyeikh TGKH Muhammad Zainddin Abdul Madjid.

“Kepada ummat Islam yang mengisi momentum-momentum atau hari-hari penting dalam Islam untuk memperbanyak mengingat Allah SWT, agar diberi rahmat dan hidayah. Amin,” kata ketua Baznas NTB TGH. Dr. Salimul Jihad, dalam pengantar pengajiannya, di Lombok Timur, Minggu (01/9/2019).

Ia juga menginginkan, setidaknya ada tiga hal yang harus kita lakukan. Pertama, memperbanyak memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan salah yang telah kita lakukan pada tahun sebelumnya. Kedua, memohon kepada Allah supaya bisa terus dapat memperbanyak amal-amal baik kita di hari-hari sisa hidup kita. Ketiga, memuhasabah diri kita

“Seiring bertambahnya usia harusnya diikuti dengan bertambahnya kebaikan yang kita lakukan. Dan jangan sampai mengikuti kelompok-kelompok yang menggunakan bendera yang mengatasnamakan Islam, namun ajarannya justru ingin memecah belah umat Islam,” pesannya.

Hadirnya kelompok bernama Hizbut Tahrir yang benderanya Islam, tapi justru isi dan tujuannya ingin memecah belah umat Islam dalam suatu bangsa dan menganggap hanya fahamnyalah yang benar sesuai ajaran Islam.

“Almaghfurlah Maulanasyeikh, sudah jelas menggariskan kita untuk berislam dengan Islam yang moderat. Islam yang tidak memisahkan antara agama dengan negara. Wahai Indonesia, engkau adalah lambang persatuanku,” tegas TGB, yang kalimat terakhir mengutip salah satu bagian dari syair Maulanasyeikh.

Selain itu, di pengajian yang digelar dalam rangka menyambut tahun baru Islam di ponpes Darunnahdlatain NW Pancor Lombok Timur itu, TGB berpesan kepada santri/santriwati agar ikut serta untuk menyebarkan faham-faham yang diajarkan oleh para tuan guru di pondok pesantren. Salah satu caranya adalah dengan menulis ilmu-ilmu melalui berbagai media sosial.

“Ada banyak imam-imam hebat selain dari imam mazhar yang kita kenal namun ajarannya tidak bertahan lama sampai dengan saat ini karena tidak ada murid-muridnya yang menulis lalu kemudian menyebarkannya,” pungkas TGB yang juga ketua OIAA Indonesia ini.

Pengajian ditutup dengan pembacaan doa pusaka yang dipimpin oleh TGH. Mustofa Alawi.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × five =