Doa Iftitah/Istiftah dalam Salat

 Doa Iftitah/Istiftah dalam Salat

Bagaimana Hukumnya Berpuasa Ramadhan Tapi Meninggalkan Sholat? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Bahasan lawas soal bacaan iftitah atau istiftah ini sedang marak lagi sepertinya. Saya tidak mau berpanjang kalam soal sebenarnya apa redaksinya.

Kalau kita lihat hadis sih macam-macam, banyak banget redaksi yang pernah dibaca Nabi dalam permulaan salat. Ada juga redaksi karangan sahabat yang sebenarnya bid’ah sebab tidak pernah diajarkan Nabi tetapi ternyata ketika diucapkan di belakang Nabi Muhammad malah beliau memujinya.

Hanya saja kalau dalam mazhab Syafi’i, yang disarankan adalah menggabungkan dua bacaan yang ada dalam hadis sahih, yakni yang dimulai dengan bacaan “Subhanakallahumma Wabihamdika… “. Lalu diteruskan dengan “Wajjahtu wajhiya …”.

Ini yang bilang adalah Imam Rafi’i dalam Fathul Aziz-nya. Teksnya sebagai berikut:

وحكى بعض الاصحاب ان السنة في دعاء الاستفتاح ان يقول سبحانك اللهم وبحمدك الي آخره ثم يقول وجهت وجهى الي آخره جمعا بين الاخبار ويحكى هذا عن أبي اسحق المروزى وابى حامد وغيرهما الثانية يستحب بعد

Imam Nawawi juga sama menyarankan menggabung dua redaksi di atas. Beliau menulis dalam Raudlatut Thalibin sebagai berikut:

وقالَ جَماعَةٌ مِن أصْحابِنا، مِنهُمْ: أبُو إسْحاقَ المَرْوَزِيُّ، والقاضِي أبُو حامِدٍ: السُّنَّةُ أنْ يَقُولَ: (سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ، وتَبارَكَ اسْمُكَ، وتَعالى جَدُّكَ، ولا إلَهَ غَيْرُكَ).

ثُمَّ يَقُولُ: (وجَّهْتُ وجْهِيَ…) إلى آخِرِهِ

Jadi, yang benar adalah semua bacaan tersebut adalah bacaan Rasul bukan bacaan ormas tertentu. Tapi jangan lupa, ada banyak versi lagi selain kedua versi di atas, silakan cari sendiri.

***

Kalau diperhatikan, redaksi “wajjahtu” di atas tanpa kata “Inni” di awalnya seperti dalam berbagai riwayat hadis. Perlu diketahui bahwa versi tanpa “inni” inilah yang populer dalam kitab-kitab babon mazhab Syafi’i, bahkan hingga kitab kecil seperti Kifayatul Akhyar pun juga menulis redaksi yang tanpa “inni”.

Lalu kalau yang pakai tambahan “Inni” sehingga menjadi “Inni Wajjahtu wajhiya” sebagaimana populer di masyarakat Indonesia bagaimana? Ya sama, itu juga merupakan bacaan Rasul menurut versi riwayat lain yang kurang populer, yakni riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman.

Redaksi hadisnya seperti berikut:

عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ أبِي رافِعٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أبِي طالِبٍ ، أنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ كانَ إذا اسْتَفْتَحَ كَبَّرَ ثم قالَ: «إني وجَّهْتُ وجْهِي لِلَّذِي فَطَرَ السَّماواتِ والأرْضَ حَنِيفًا وما أنا مِنَ المُشْرِكِينَ

Jadi, kalau masih sama-sama bisa dibenarkan maka hemat saya tak perlu diributkan. Toh sahabat yang ngarang bacaan iftitah sendiri seperti redaksi berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

dan ada juga yang ngarang redaksi sebagai berikut:

للهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

Meski karangan ternyata keduanya malah dipuji oleh Rasulullah sebab jelas itu bacaan bagus. Hanya saja tentu paling bagus adalah redaksi yang dicontohkan Rasulullah sendiri.

Oleh karena itu sebaiknya tenaga yang berlebih untuk memperdebatkan redaksi iftitah atau nyalah-nyalahin redaksi bacaan orang lain digunakan untuk hal lain. Apalagi ketika tidak membaca apa pun (tidak membaca iftitah sama sekali) juga bukan masalah menurut semua ulama.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *