Dirjen Pendidikan Islam: Critical Thinking di Pesantren Sudah Bergeser

 Dirjen Pendidikan Islam: Critical Thinking di Pesantren Sudah Bergeser

FOTO: Santri mengikuti kilatan kitab kuning yang dipimpin Kiai Fahmi Amrullah di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, Selasa (7/5/2019). (Istimewa)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, JOMBANG – Dalam memperingati 120 tahun lahirnya Pondok Pesantren Tebuireng Jombang menggelar diskusi bertema “Memadukan Pendidikan Islam dan Pendidikan Nasional” di Gedung Yusuf Hasyim Jombang, Ahad (25/8/2019).

Seminar itu menghadirkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Phil Kamaruddin Amin, Kepala Badan Penelitian, Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Toto Suprayitno.

Kamaruddin memaparkan, berbagai tantangan pendidikan Indonesia saat ini, dan lembaga pendidikan metuntut tidak hanya memperkuat kualitas pendidikan dalam bidang kognitif seperti kemampuan membaca, menulis, matematika, dan sains. Akan tetapi juga dituntut meningkatkan kualitas pembinaan karakter.

“Kognitif tidak bisa menghandle tantangan di abad 21. Tantang terbesar kita selain dalam bidang kognitif tadi adalah tantangan pembinaan karakter. Tentang integritas, tentang kolaborasi, tentang kemandirian akan membentuk karakter. Ini semua ada di pondok pesantren,” papar Kamaruddin.

Tentang pembinaan karakter tersebut, lanjut Kamaruddin, lembaga pendidikan Islam, utamanya pesantren memiliki keunggulan dibanding lembaga pendidikan nasional. Pesantren-pesantren dirasanya mempunyai kekhasan dalam membina karakter para santrinya. Dimana di pesantren, para santri selalu mempelajari dan mengaplikasikan pendidikan integritas, kolaborasi, dan kemandirian.

Kamaruddin juga mengapresiasi rasa ingin tahu para santri yang semakin hari semakin berkembang. Dimana saat ini, santri tidak begitu saja menerima mentah-mentah apa yang dikatakan kiyainya. Tapi, para santri saat ini juga sudah kritis, yang itu dirasanya akan baik bagi pendidikan karakter di pesantren.

“Critical thinking di pesantren sudah mulai bergeser ke arah yang sangat positif. Dimana santri-santri kita juga sudah mulai kritis dan logis, atau mereka memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka juga harus menjadikan murid atau santri menjadi pribadi yang terus bersemangat dan menghargai orang lain, sehingga selesai lah tugas guru. Dan inilah yang sesungguhnya sekali lagi tugas yang tidak mudah,” ujarnya.

Kemudian Kamaruddin mengingatkan, guru-guru, termasuk di pesantren memiliki tugas kita bukan saja untuk mencerdaskan murid-murid atau santri-santrinya saja. Tapi, kata dia, guru memiliki tugas bagaimana mentransformasi murid atau santrinya menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa, berintegritas, disiplin, kreatif, serta memiliki rasa ingin tahu. Ia juga mengklaim, lembaga pendidikan Islam di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Madrasah misalnya, di Indonesia saat inj jumlahnya tidak kurang dari 52 ribu. Kemudian pondok pesantren yang jumlahnya mencapai 30 ribu, serta perguruan tinggi Islam yang jumlahnya juga banyak

“Kita punya siswa-siswi madrasah sekitar 10 juta, mahasiswa sekitar satu jutaan, kita juga punya santri yang jumlahnya sudah 7 jutaan. Jadi jumlahnya sangat besar yang paling besar di dunia,” pungakasnya.

Hari ini, kata dia, inovasi-inovasi yang dikembangkan lembaga pendidikan Islam juga tidak kalah dari inovasi-inovasi yang dihasilkan lembaga pendidikan nasional. Hal ini menunjukkan, tingkat lembaga pendidikan Islam dengan lembaga pendidikan nasional di Indonesia setara. Lembaga pendidikan madrasah di Indonesia juga diakuinya paling modern di dunia.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × four =