Cancel Preloader

Mensalatkan

Dicari!! Teman yang Bisa dan Mau Mensalatkan Saya

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Sebuah unggahan di media sosial tentang salat jenazah berbunyi “Dicari Teman yang Bisa dan Mau Mensalatkan Saya Ketika Wafat” menarik perhatian warganet.

Ramai dari mereka tersentuh dengan status yang diposting oleh akun Aspani Yaslan, seorang jurnalis senior di Sumatera Selatan itu.

Dalam postingannya tersebut, ia menuliskan bahwa karangan bunga duka cita di jaman sekarang tidak menambah apa pun.

Postingan penuh hikmah tersebut ditulis berdasar kisah seorang ternama yang di akhir hayatnya, saat melayat didatangi ribuan orang yang berjejalan.

Begini kisahnya:

Ada seseorang yang kami kenal sebagai seorang yang diberikan kedudukan yang tinggi di dunia ini dihadapan manusia. Beberapa waktu yg lalu beliau rahimahullah wafat.

Maa shaa Allah. Selang satu jam tersiar berita duka, semua masyarakat bergerak. Tamu berdatangan ke rumah megahnya.

Tidak sampai tiga jam, jalan raya di sekitar rumah duka, penuh degan karangan bunga yang tersurat dari rupa-rupa orang besar di negeri ini. Jalanan ditutup untuk umum, dijaga oleh polisi militer. Patroli pengawal disiapkan, panitia pengurusan jenazah didatangkan secara khusus.

Keluarga tidak mau merepotkan pengurusan oleh jemaah Masjid. Tak masalah. Hingga selesailah jenazah dikafani, dan siap disalatkan. Diluar rumah orang ratusan sudah berjejalan hadir. Maka diputuskan jenazah disalatkan di masjid.  Segera kami siapkan, masjid siap, jenazah sudah dihadapan imam, tetapi yang berbaris dibelakang imam baru enam orang! Subhanallah, kami susul para pelayat di luar masjid.

“Pak, Bu… ayo ambil wudhu. Salat jenazah mau dimulai. Ayo pak!” kami menyeru.

Namun, tamu-tamu elit dan sosialita ini berujar diluar dugaan, “ini susah buka sepatunya, dek! Atau kami doakan saja, dek, dari sini,” timpal ibu yang lain sambil bercermin ke kaca mobil.

Subhanallah, kami seru tetangga-tetangga kampung kami yang sama-sama hadir menyaksikan prosesi megah ini. “Pak, Bu, ayo! Cepet wudhu! Ayo, pak, diminta keikhlasannya!”

Bapak ibu tetangga kami ini hanya menggeleng, sambil tersenyum, “nggak, dek”.

Malu banyak orang besar, namun tak meneyurutkan niat kami. Akhirnya kami kembali kedalam masjid, yang saat itu terhimpun sekitar 11 orang yang kemudian kami bagi menjadi tiga shaf. Jenazah pun disalatkan.

Semoga Allah mengampuni almarhum, menyayangi beliau, dan memasukkan beliau ke dalam syurga-Nya yang penuh kenikmatan.

Ibrah Bagi yang Masih Hidup

Berkawanlah dengan mereka yang pada waktunya, ikhlas menyalatkan jenazah kita. Meski harus menempuh jarak. Mereka yang ikhlas mau mendoakan ampunan Allah bagi kita ketika jasad ini sudah kaku. Berdekatanlah dengan mereka yang benar-benar menyayangi kita dunia-akhirat karena karangan bunga tidak menambah amalan kita. Takziah dan ikut men-salatkan jenazah serta mendoakan itulah yang paling utama.

Carilah teman taat dunia- akhirat supaya kelak kita tidak hanya menerima kiriman karangan bunga. Sebab, rezeki terakhir kita didoakan dalam salat jenazah.

Sudahkah kita mempunyai teman seperti itu? Semoga dan InsyaaAllah.

Pipit Enfiitri

Pipit Enfiitri

https://hidayatuna.com/

Suka menulis hal-hal random yang dekat dengan dirinya.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

15 + 12 =