Cancel Preloader

Di Luar Islam, Ar-Rihlah Ibnu Battuta Baru Dikenal Awal Abad 19

 Di Luar Islam, Ar-Rihlah Ibnu Battuta Baru Dikenal Awal Abad 19
Digiqole ad


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Salah satu tokoh Islam yang sangat terkenal di dunia adalah Ibnu Battuta. Ia dikenal dengan perjalanannya menjelajahi dunia, yang kemudian melahirkan sebuah buku masterpiece berjudul Ar-Rihlah.

Tapi tahukah bahwa buku Ar-Rihlah karya Ibnu Battuta ini ternyata baru dikenal dunia di luar Islam pada awal abad ke-19. Hal ini dijelaskan oleh lulusanbMaster of Science dari Ohio Universtiy, Amerika Serikat, Ishadi SK.

Ishadi mengungkapkan bahwa Ibnu Battuta menyelesaikan kisah perjalanannya dalam sebuah buku Ar-Rihlah yang artinya perlawatan, yang selesai ditulisnya pada tahun 1355.

“Meskipun Ar-Rihlah menjadi rujukan para penulis Islam selama berabad-abad kemudian, Ar-Rihlah baru dikenal orang di luar dunia Islam pada permulaan abad ke-19,” ungkap Ishadi SK dalam sebuah tulisan kolomnya dikutip Hidayatuna.com, Rabu (10/6/2020).

Komisaris Transmedia itu menambahkan, selama 400 tahun sesudahnya tatkala musafir sekaligus penjelajah Jerman Ulrich Jasper Seetzen (1767-1811) mendapatkan sekumpulan naskah di Timur Tengah, di antaranya sejilid naskah setebal 94 halaman yang berisi salah satu versi ringkas dari Ar-Rihlah Ibnu Battuta.

“Sejak itu, berbagai pengkaji dan universitas ternama di Jerman, Prancis, Swiss, dan Universitas Cambridge Inggris berlomba-lomba untuk mengkaji buku petualangan Ibnu Battuta,” jelasnya.

Sebagai informasi, Ibnu Battuta lahir di Maroko tahun 1304 (703 H), putera keluarga ulama fikih di Tangier, Maroko.

Ibnu Battuta adalah pengelana yang sebagian besar hidupnya, yaitu sepanjang 30 tahun, dihabiskan untuk melakukan perjalanan dari Maroko ke Mesir, Afrika Utara, Afrika Tengah, sampai ke China melewati perjalanan darat dan laut sejauh tidak kurang dari 13.000 kilometer, melewati 44 negeri di Eropa, Afrika, Timur Tengah, Jazirah India, Srilanka, Sumatera, Malaysia, Vietnam, hingga Beijing Utara yang waktu itu masih dikuasai Bangsa Mongol.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

9 + 18 =