Derajat Salat Malam Sesuai Pembagian Waktunya

 Derajat Salat Malam Sesuai Pembagian Waktunya

Tahajud Sebelum Tidur, Apakah Boleh? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Malam hari menjadi waktu yang tepat untuk melaksanakan salat dan mustajab untuk berdoa. Selain itu, di waktu-waktu itulah Allah SWT. turun untuk melihat hamba-Nya mengadu dan bersujud kepada-Nya.

Rasulullah Saw pun tidak pernah melewatkan waktu malamnya untuk bermunajat. Salat malam beliau tujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keistimewaan yang diberikan Allah SWT.

Beliau menganjurkan umatnya untuk melaksanakan salat malam, yang di dalamnya terdapat banyak sekali keutamaan. Sebagaimana ditulis dalam buku “Hadiah Indah Penjelasan Tentang Sunnah-Sunnah Sehari-Hari” karya Abdullah Hamud al Furaih.

Keutamaan salat malam ini ada 3 tingkatan, di antaranya sebagai berikut:

1. Tidur setengah malam pertama

Dalil tingkatan ini ada pada hadis Abdullah bin Umar radhiallahu anhu, Rasulullah Saw bersabda:

إِنَّ أَحَبَّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ وَأَحَبَّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ وَكَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا

“Sesungguhnya puasa yang paling dicintai oleh Allah adalah puasa Daud, dan sholat yang paling dicintai oleh Allah juga sholat Daud, dia tidur setengah malam, bangun pada sepertiganya, dan tidur pada seperenamnya. Dia puasa satu hari dan berbuka satu hari,” (HR Bukhari dan Muslim).

2. Bangun pada sepertiga malam

Tingkatan bangun pada sepertiga malam terakhir dalilnya adalah hadis Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah Saw bersabda,

ينزل رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يَقُولُ : مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

“Rabb kita tabaraka wa ta’ala turun setiap malam ke langit dunia saat tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman, “Siapa yang memohon kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya. Siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya. Siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.” (HR Bukhari dan Muslim)

3. Tidur pada seperenam malam

Jika khawatir tidak terbangun pada akhir malam, maka berpindah pada tingkatan yang ketiga. Tingkatan ketiga yaitu salat pada awal malam, atau kapan saja pada waktu malam sesuai kemudahan.

Dalilnya adalah hadis Jabir radhiyalluanhu, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ، وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ، فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ، وَذَلِكَ أَفْضَلُ

“Barangsiapa yang khawatir tidak bangun pada akhir malam, hendaknya dia sholat witir pada awalnya. Barangsiapa yang bertekad untuk bangun pada akhirnya, maka hendaknya dia sholat witir pada akhir malam, sesungguhnya sholat pada akhir malam itu disaksikan, dan itu lebih utama.” (HR Muslim).

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *