Dekatlah Kepada Allah Agar Tidak Diseret Dengan Rantai Cobaan

 Dekatlah Kepada Allah  Agar Tidak Diseret Dengan Rantai Cobaan

Dekatlah Kepada Allah Agar Tidak Diseret Dengan Rantai Cobaan

Oleh: Prof. H. Ahmad Thib Raya

HIDAYATUNA.COM – Kali ini Ibn Atha’illah Al-Iskadari memberi peringatan keras kepada mereka yang tidak mau dekat kepada Allah. Dia berkata: “Siapa yang tidak mendekat kepada Allah padahal dia sudah dihadiahi (dianugerahi) berbagai kenikmatan, akan diseret oleh Allah (agar mendekat) kepada-Nya dengan rantai cobaan.” Alangkah indah kalimat hikmah yang disampaikan oleh Ibnu Atha’illah, dalam pesan hikmahnya yang ke-65 itu, yang saya kutip di dalam bukunya, Terjemah al-Hikam, hal. 92.

Saya akan mencoba menjelaskan dan menguraikan apa yang dimaksud oleh Ibn Atha’illah dalam pesan hikmahnya itu, sebagai berikut.

Begitu banyak nikmat Allah yang sudah dianugerahkannya kepada kita, manusia, yang tidak mungkin kita dapat menghitungnya, dan tidak mungkin pula dapat menyebutnya. Lihatlah berbagai nikmat Allah yang ada pada dirimu. Lihatlah berbagai nikmat yang ada pada fisikmu. Lihat segala nikmat yang ada dalam rohanimu.  Perhatikanlah keadaan dalam dirimu. Tanpa semua nikmat itu, kamu tidak akan hidup, kamu tidak akan bisa hidup dengan normal, tidak dapat hidup dengan baik. Bahkan, mungkin engkau akan mati, sekiranya mencabut semua itu.

Lihatlah berbagai nikmat yang Allah berikan dari bumi. Lihatlah kepada semua makanan yang engkau makan. Lihatlah semua minuman yang engkau minum. Lihatlah kepada daging yang engkau makan. Lihatlah bahan-bahan makanan yang kamu makan setiap hari. Lihatlah kepada bahan minuman yang engkau minum setiap. Lihatlah kepada air yang engkau minum. Lihatlah kepada garam yang engkau gunakan untuk masakanmu. Lihatlah kepada gula yang gunakan untuk memaniskan makanan dan minumanmu.

Lihatlah kepada apa yang ada di luar dirimu. Rasakan enaknya udara yang kau rasakan setiap saat. Lihatlah kepada tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan hijau dan telah memberikan kesejukan bagi kehidupanmu. Lihat kepada tanah yang engkau injak setiap saat, yang dari dalamnya engkau banyak mendapatkan kenikmatan yang tidak terhitung banyak. Engkau tidak akan pernah pakai cincin emas, kalau bumi tidak memberi emas itu. Lihatlah kepada matahari yang berputar di peredarannya, yang setiap hari berganti dengan malam. Tanpa matahari kamu tidak akan bisa hidup. Lihatlah kepada malam, yang padanya engkau istirahatkan dirimu. Lihatlah kepada bulan yang berputar, mulai dari sabit di awalnya, purnama di tengahnya dan sabit di akhirnya. Lihatlah kepada bintang-bintan yang taat membagi bahagiannya dengan bulan dan matahari. Kalau matahari, muncul maka dia tidak berani muncul. Kalau bulan juga muncul, maka mereka tidak berani muncul. Tetapi, kalau kedua tidak, baru dia berani muncul.

Nikmat-nikmat apalagi yang engkau dustakan, wahai manusia, wahai saudara-saudaraku. Semuanya Allah telah memberikan kepadamu, menumpahkan kepadamu, dan mencurahkan kepadamu. Kamu tinggal memilih mana yang kamu sukai, mana yang kamu senangi. Allah memberikan semuanya itu dalam bentuk prasmanan, bagaikan di tempat yang sangat terbuka, kamu dapat memilih yang sesuai dengan selera dan kondisi kalian masing-masing. Apalagi yang kamu inginkan dari Allah. Semuanya telah Allah curahkan untukmu.

Mengapa engkau tidak mau dekat kepada-Nya? Padahal semuanya Allah sudah hadiahkan kepadamu apa saja. Seharusnya engkau sudah mendekat kepada-Nya sedekat-dekatnya. Engkau tidak boleh lagi menjauh dari-Nya. Bertambah dekat engkau kepada-Nya dengan nikmat itu, maka bertambah banyak lagi nikmat yang Allah berikan kepadamu, yang kamu tidak tahu dari mana datangnya, yang kamu tidak tahu lagi berapa jumlah tambahannya yang datang sesudahnya. Jika engkau tidak mau datang kepada Allah untuk mendekat dan lebih dekat kepada-Nya, maka engkau akan diseret oleh Allah untuk dekat kepada-Nya dengan berbagai rantai cobaan. Kamu akan dicoba oleh Allah dengan berbagai cobaan, yang ringan maupun yang berat, yang semuanya kamu tidak sukai, dan semua cobaan itu tidak menyenangkan kamu. Maka pada saat itulah,  baru engkau mau dekat kepada-Nya, tetapi sudah diuji dengan berbagai rantai cobaan. Baru pada saat engkau meminta ampun atas dosamu. Baru kamu berdoa kepada Allah agar melepaskan darimu berbagai ujian-Nya. Saat itu pula baru kamu ingat Allah.

Ingatlah kata Allah di dalam QS. Fushshilat [41]: 51

وَإِذَآ أَنۡعَمۡنَا عَلَى ٱلۡإِنسَٰنِ أَعۡرَضَ وَنَ‍َٔا بِجَانِبِهِۦ وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ فَذُو دُعَآءٍ  ٥١

Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.

Allah telah menggambar tabiat manusia seperti ini. Kalau diberi nikmat, membangkang, menyimpang dari ajaran Allah, dan tidak mau dekat kepada Allah.  Setelah diuji dengan berbagai cobaan, hal-hal yang tidak menyenangkan baginya, baru mereka mau dekat, baru mau mengingat Allah, dan baru mau meminta kepada Allah.


Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eleven − seven =