Cerita Masa Kecil Muhammad Ali Tentang Kulit Putih Vs Kulit Hitam

 Cerita Masa Kecil Muhammad Ali Tentang Kulit Putih Vs Kulit Hitam
Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Setelah kasus kematian akibat kekerasan yang menimpa pria kulit hitam bernama George Floyd yang melibatkan seorang petugas polisi Minneapolis Amerika Serikat mencuat, gelombang protes masyarakat dunia terus terjadi.

Konten-konten media sosial menggelorakan dukungan terhadap masyarakat kulit hitam dan menolak keras terhadap tindakan rasis dan kekerasan.

Perlawanan masyarakat terhadap dominasi kulit putih diketahui telah berlangsung sejak dahulu kala. Mantan petinju profesional Amerika Serikat Muhammad Ali adalah salah satu tokoh yang yang lantang menyuarakan perlawanan terhadap dominasi kulit putih dan kebanggaan untuk ras Afrika Amerika sejak tahun 1960-an.

Hal tersebut terlihat dalam sebuah dokumentasi wawancara Muhammad Ali pada tahun 1971, dimana Muhammad Ali menceritakan tentang banyak kebingungannya di masa kecil tentang kulit hitam dan kulit putih.

“Waktu kecil saya tanya ke ibu bagaimana bisa segala hal disebut putih? Kenapa Yesus digambarkan berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru. Kenapa seluruh murid yesus,malaikat, paus,bunda maria semua digambarkan berkulit putih?” papar Ali bercerita pada sesi wawancaranya dalam acara bincang-bincang bersama Michael Parkinson sebagaimana diunggah oleh akun Instagram BBC Indonesia, Minggu (14/6/20).

Ali yang sewaktu kecil beragama Kristen mengaku dirinya sempat bertanya-tanya apakah kulit hitam sebagaimana dirinya dapat masuk surga kelak. Sebab dalam gambaran surga yang selalu ia lihat tidak ada satu pun orang berkulit hitam di dalamnya.

“Ibu,apa kita meninggal akan masuk surga? tentu saja kata ibu. Lalu kenapa tidak ada malaikat berkulit hitam? oh kata ibu saat orang-orang putih masuk surga, orang kulit hitam sedang menyiapkan susu dan madu jadi tidak ikut masuk ke dalam gambar,” kenang Ali, dan disambut decak tawa penonton.

Meskipun dalam dialog terkesan dikemas dengan banyak humor, akan tetapi dirasakan sangat sarat makna. Ali mempertanyakan mengapa banyak peranan bahkan tempat-tempat yang diistimewakan hanya mengambil warna putih. Warna putih banyak dipakai untuk berbagai merek barang dan bahkan kediaman Presiden Amerika dinamakan White House atau kita kenal sebagai Gedung Putih.

Sedangkan warna hitam selalu identik dengan kejahatan dan keburukan, seperti penggunaan istilah kambing hitam, kucing hitam, pesan ancaman dan pemerasan bahkan diistilahkan dengan ‘blackmail’.

Muhammad Ali yang memutuskan menjadi mualaf pada tahun 1964-an, memang kerap melayangkan kritik terkait dominasi kulit putih. (AS/Hidayatuna.com)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 − seven =