Cancel Preloader

Ceramah Habib

Ceramah Habib Rizieq, Benarkah Islam Ajarkan Kekerasan?

Digiqole ad

Kalau ada ceramah mengatakan “Jangan salahkan umat Islam kalau besok kepalanya di jalan” itu #TidakAtasNamaSaya. Saya muslim dan menolak diatasnamakan untuk tindak kekejian seperti itu.

  • Alisa Wahid (Koordinator Nasional GusDurian)

HIDAYATUNA.COM – Tanggapan tegas di atas disampaikan Alisa Wahid sebagai tanggapan dari ceramah penyeru pada kekerasan. Ceramah yang dimaksud disampaikan oleh Habib Rizieq yang dinilai menyerukan pembenaran terkait pemenggalan kepala.

Jimly Asshiddiqie juga merespon dan menanggapi ceramah Habib Rizieq tersebut “Jika dibiarkan provokasinya bisa meluas dan melebar. Hentikan ceramah seperti ini, apalagi mengatasnamakan dakwah yang mesti dengan hikmah dan mau’zhoh hasanah.”

Ternyata bukan hanya Habib Rizieq yang menyampaikan ceramah tentang pemenggalan kepala, tetapi menantunya, Habib Hanif juga sempat menyampaikan ceramah hampir senada. Ia menyampaikan dengan berapi-api penggagambaran perilaku sahabat Nabi yang memengagal kepala orang yang menghina Nabi.

Namun sayang sekali apa yang disampaikan ternyata keliru dan justru menyesatkan umat terhadap pemahaman sejarah. Jelas saja ceramahnya itu disanggah oleh akun Khazanah Gus Nadirsyah Hosen. “Yang disampaikan Habib Hanif, menantunya Habib Rizieq, ini keliru. Khalid bin Walid bukan yg menebas leher Malik, tapi Dhirar bin Azwar atas perintah Khalid.”

Menurutnya, sebab pemenggalan kepala tersebut bukanlah karena menghina Nabi, melainkan karena dianggap murtad. Tindakan Khalid yang demikian itu dikecam oleh Umar bin Khattab.

Benarkah Islam mengajarkan kekerasan?

Jelas Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam mengajarkan kasih sayang dan cinta damai. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad Saw yang diutus untuk menyempurnakan akhlak justru menyeru pada kekerasan.

Sebetulnya banyak bukti yang disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Islam itu anti kekerasan dan mewujudkan perdamaian dunia. Diantaranya;

Pertama, Islam menegaskan pengharaman menumpahkan darah, mengambil harta orang lain dan menodai kehormatan orang.

Allah SWT berfirman :

مِن أَجلِ ذٰلِكَ كَتَبنا عَلىٰ بَني إِسرائيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفسًا بِغَيرِ نَفسٍ أَو فَسادٍ فِي الأَرضِ فَكَأَنَّما قَتَلَ النّاسَ جَميعًا وَمَن أَحياها فَكَأَنَّما أَحيَا النّاسَ جَميعًا ۚ وَلَقَد جاءَتهُم رُسُلُنا بِالبَيِّناتِ ثُمَّ إِنَّ كَثيرًا مِنهُم بَعدَ ذٰلِكَ فِي الأَرضِ لَمُسرِفونَ

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain. atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi. mako seakan-akan Dia telah membunuh manusia seluruhnva. Dan barangsiapa yang mememihara kehidupan seorang manusia. Maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. ” (QS. Al- Maidah : 32).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat memuliakan nyawa seseorang. Jadi, apabila ada tindak kekerasan yang sampai menghilangkan nyawa, meski dengan dalih atas nama agama (yang salah) sebagaimana tindakan ISIS atau pemenggalan kepala di Prancis, sesungguhnya itu bukanlah ajaran Islam.

Kedua, Islam menjadikan bentuk hubungan antar bangsa adalah Saling melengkapi. saling memahami dan Saling mengenal; bukan perseteruan dan peperangan.

Allah SWT berfirman:

يا أَيُّهَا النّاسُ إِنّا خَلَقناكُم مِن ذَكَرٍ وَأُنثىٰ وَجَعَلناكُم شُعوبًا وَقَبائِلَ لِتَعارَفوا ۚ إِنَّ أَكرَمَكُم عِندَ اللَّهِ أَتقاكُم ۚ إِنَّ اللَّهَ عَليمٌ خَبيرٌ

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya Orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang palingTaqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Huiurat: 13)

Ketiga, Islam menjamin kebebasan dalam memeluk suatu keyakinan. Tidak ada paksaan atas seseorang untuk memeluk sebuah kepercayaan atau madzhab.

Allah SWT berfirman:

لا إِكراهَ فِي الدّينِ ۖ قَد تَبَيَّنَ الرُّشدُ مِنَ الغَيِّ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqoroh: 256).

Jadi, menegakkan Islam dengan cara kekerasan, apalagi sampai menimbulkan kerusakan, adalah suatu tindakan yang tidak dibenarkan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Daruqutni, Nabi Muhammad SAW bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Artinya: “Tidak boleh melakukan yang berbahaya (kepada diri sendiri) dan tidak boleh menimbulkan bahaya (kepada orang lain).” Karena itu, Hendaknya dalam berdakwah kita mengutamakan Amar ma’ruf bi ma’ruf (mengajak kebaikan dengan cara kebaikan) bukan Amar ma’ruf bi Munkar (mengajak kebaikan dengan cara yang munkar).

Keempat, Islam juga menegaskan bahwa dakwah harus dilakukan dengan penuh hikmah dan nasehat yang baik, jauh dari pernyataan kasar, tekanan dan kekerasan.

Allah SWT berfirman:

ادعُ إِلىٰ سَبيلِ رَبِّكَ بِالحِكمَةِ وَالمَوعِظَةِ الحَسَنَةِ ۖ وَجادِلهُم بِالَّتي هِيَ أَحسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-Mu dengan hikmah dan nasehat yang baik dan debatlah mereka dengan cara yang terbaik”. (QS. An-Nahl: 125). Allah SWT juga berfirman:

وَلَو كُنتَ فَظًّا غَليظَ القَلبِ لَانفَضّوا مِن حَولِكَ

“Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159)

Kelima, Islam menjadikan hubungan aman dan damai sebagai bentuk dasar hubungan antar bangsa, sedangkan perang hanyalah pengecualian.

Allah SWT berfirman :

وَاقتُلوهُم حَيثُ ثَقِفتُموهُم وَأَخرِجوهُم مِن حَيثُ أَخرَجوكُم

“Dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil haram, Kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka perangilah mereka.” (QS. Al-Baqoroh: 191)

Keenam, Islam menentukan hukuman-hukuman terberat dan memberikan kecaman yang sangat keras bagi orang yang merusak kedamaian dan keamanan.

Dalam hal ini, Islam mensyariatkan hukuman atas tindakan kriminalitas yang mengancam keamanan dan perdamaian, seperti: hukuman pencurian, perzinahan, penjarahan dan lainnya. Allah SWT berfirman:

إِنَّما جَزاءُ الَّذينَ يُحارِبونَ اللَّهَ وَرَسولَهُ وَيَسعَونَ فِي الأَرضِ فَسادًا أَن يُقَتَّلوا أَو يُصَلَّبوا أَو تُقَطَّعَ أَيديهِم وَأَرجُلُهُم مِن خِلافٍ أَو يُنفَوا مِنَ الأَرضِ ۚ ذٰلِكَ لَهُم خِزيٌ فِي الدُّنيا ۖ وَلَهُم فِي الآخِرَةِ عَذابٌ عَظيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, adalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka akan mendapatkan siksaan yang besar“. (QS. Al-Maidah: 33).

Selain dari nash-nash Al-Qur ‘an, nabi Muhammad Saw telah mencontohkan kepada kita bagaimana seharusnya umat Islam bersikap sebagai muslim yang cinta damai dan menjauhkan diri dari segala bentuk kekerasan.

Dalam sebuah kisah diceritakan ada seorang Yahudi yang disewa oleh Abu Jahal untuk menyakiti Nabi Muhammad Saw. Setiap hari orang Yahudi tersebut meludahi Nabi Muhammad Saw. Sampai suatu hari Nabi Saw tidak menemukan orang Yahudi yang biasa meludahinya. Beliau pun mencari tahu dimanakah gerangan orang Yahudi tersebut.

Setelah mendengar jika orang Yahudi tersebut sakit, beliau pergi ke pasar untuk membawakan oleh-oleh menjenguk orang Yahudi. Si Yahudi kaget ketika ternyata orang yang selama ini dia sakiti malah menjadi orang yang pertama menjenguknya. Sebaliknya, Abu Jahal yang menyuruhnya menyakiti Nabi Muhammad Saw tidak datang menjenguk, meski sudah diutus seseorang untuk menyampaikan kondisinya.

Menurut satu riwayat, seketika itu juga si Yahudi menyatakan masuk Islam. Hal menunjukkan bahwa perlunya mengutamakan kemuliaan akhlak dan menjauhkan diri dari sikap kekerasan dalam berdakwah.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

thirteen + 18 =