Cegah Teroris dengan Metode Dakwah Walisongo

 Cegah Teroris dengan Metode Dakwah Walisongo

Pergeseran Otoritas Ulama di Era Digital (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Penangkapan tiga orang terduga teroris, yang salah satunya adalah anggota Komisi Fatwa MUI Pusat yakni Zain An-Najah cukup mengejutkan. Selain Ustaz Zain, Densus 88 Antiteror Mabes Polri juga menangkap 2 orang terduga teroris yakni Farid Okbah dan Anung Al-Hamad.

Hal tersebut menuai protes keras dari masyarakat luas. Pasalanya, MUI dianggap kecolongan terhadap anggotanya. Sebagian orang bahkan meminta MUI untuk dibubarkan.

Akan tetapi, hal tersebut dianggap berlebihan oleh sebagian kalangan, seperti diungkapkan oleh Pak Mafud MD (Menkopolhukam) dan Aminuddin Ma’ruf (Stafsus Presiden). Terlepas dari pro kontra pembubaran MUI, ada hal yang lebih penting yaitu bahaya faham terorisme.

Tentu saja, paham di atas dapat dipengaruhi dan mempengaruhi siapa saja. Tanpa terkecuali, entah itu teman, sahabat, guru, dosen, bahkan ia yang dianggap sebagai seorang Ustaz. Tentu saja banyak faktor penyebab seseorang menjadi terorisme, salah satunya adalah memahami teks-teks keagamaan.

Untuk mencegah hal tersebut, ada beberapa hal metodologi memahami teks-teks keagamaan yang harus dicontoh dari dakwahnya para Walisongo. Agar Islam yang disampaikan dapat mencerminkan sebagai mana yang disebutkan dalam QS. Al-Anbiya’ [21]: 107 yakni sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Walisongo dan Metodologi Dakwah

Membincang Walisongo dan metodologi dakwahnya selalu menarik. Terlebih hari-hari ini, yang mana Islam hanya dipahami sebagai legal formal semata. Selain itu pula, metode yg digunakan oleh walisongo sudah seharusnya menjadi ‘role model’ untuk setiap tempat dan waktu.

Oleh karenanya, sebagai sebuah percontohan dalam menyebarkan Islam, dalam landscape dakwah hari ini, yang tidak hanya di dunia nyata tetapi juga dunia maya. Perlu diterapkan dengan inovasi-inovasi terbaru.

Kalau dulu Walisongo menggunakan wayang sebagai alat dakwah, maka hari ini ada media sosial yang menjadi alatnya. Begitu pula dengan memahami Islam, ia tidak hanya melulu tentang legal formal.

Lebih dari itu ada nilai-nilai substansi dari Islam yang lebih penting. Sehingga dalam penerapan dakwahnya Walisongo tidak hanya melihat legal formal belaka, akan tetapi melihat lebih dalam nilai inti ajaran Islam itu sendiri.

Hal di atas berimplikasi pada cara pandang Walisongo. Alhasil, seseorang dianggap sudah ‘masuk Islam’ walaupun secara tradisi yang ada tetap dilakukan selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam.

Dalam pada itu, terhadap memahami teks keagamaan, metodologi yang dicontohkan oleh Walisongo setidaknya ada 3 yaitu; kontektualisasi, menghargai tradisi selama tidak bertentangan dengan syari’at, dan membebaskan (dalam arti mengetengahkan).

1. Kontekstualisasi Ajaran

Secara substansi, Islam adalah agama yang sarat akan nilai-nilai kebaikan, kepasrahan, dan ketundukan. Sehingga dalam proses dakwah, ia selalu memahami ruang dan waktu agar lebih mudah diterima semua kalangan.

Misalnya, Sunan Kudus dalam berdakwah di Kudus yang notabene masyarakatnya beragama Hindu. Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Sapi adalah hewan yang dimuliakan. Sehingga, untuk menghormati dan menyebarkan ajaran Islam, Sunan Kudus pun melarang Sapi untuk dikonsumsi.

Kemudian diganti dengan kerbau. Walaupun dalam Islam hukum memakan daging sapi adalah halal.

2. Menghargai dan Melestarikan Tradisi

Dalam konteks menghargai dan melestarikan tradisi, Walisongo tidak memusuhi dan meninggalkannya. Tradisi dan budaya justru dijadikan alat menghidupkan serta memasukkan nilai-nilai Islam.

Walisongo membangun keakraban Islam dan tradisi untuk menarik para pemeluknya kala itu. Contoh paling nyata dan sampai hari ini masih lestari adalah tradisi wayang.

Wayang digunakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai ajaran Islam agar mudah diterima. Sehingga tak ada tradisi, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yang dijauhi, justru sebaliknya dijadikan alat untuk berdakwah.

3. Membebaskan dalam Arti Mengetengahkan

Oleh karena problem keumatan dan kemanusiaan selalu berkembang dan berubah-ubah disetiap zamannya. Maka, Islam sebagai aktifitas dakwah, harus mampu mengetengahkan dan mengedepankan solusi terhadap problem tersebut.

Tidak sebaliknya, menyempitkan cara pandang untuk menjawab problem-problem yang ada. Islam hadir untuk memanusiakan manusia serta kebaikan bersama.

Dalam hal ini, Walisongo telah mencontohkan sekaligus kritik, khususnya bagi pendakwah masa kini, yang cenderung formalistik dalam berdakwah. Sudah seharusnya Islam di sebarkan secara ramah dan juga menyebarkan nilai-nilai rahmah.

Mengambil hal baik tanpa harus menyingkirkan tradisi yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai substansi Islam. Wallahu’alam bish-showab.

Abdus Salam

Santri di PP. Sunan Pandanaran, Yogyakarta

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *