Catur Piwulang Sunan Derajat dan Strategi Penyebaran Agama Islam

 Catur Piwulang Sunan Derajat dan Strategi Penyebaran Agama Islam

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Catur Piwulang dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai empat ajaran. Ini merupakan peninggalan berharga dari Sunan Derajat bagi generasi saat ini.

Sunan Derajat sendiri adalah salah satu dari 9 wali yang dikenal menyebarkan agama Islam di seluruh tanah Jawa. Sementara itu, sunan Derajat adalah kabupaten Lamongan dan sekitarnya.

Sunan Derajat adalah saudara kandung dari Sunan Bonang, ayahnya adalah Sunan Ampel, ibunya bernama Dewi Candrawati. Nama kecilnya adalah Raden Syarifuddin dikenal sebagai Raden Qasim dan sunan Derajat. Oleh Raden Patah diberi gelar Sunan Mayang Madu.

Dalam berdakwah Sunan Derajat dikenal sebagai sunan yang toleran. Dia melanjutkan metode dakwah dari sang ayah yang tidak pernah merusak budaya lokal masyarat di tempatnya berdakwah. Dia juga dikenal sebagai sunan yang dermawan dengan membantu para fakir miskin.

Menyebarkan Islam di Lamongan, Jawa Timur

Pesantren yang dikembangkan oleh Sunan Derajat juga memiliki ciri yang hampir sama dengan pesantren yang dikembangkan oleh Sunan Ampel di Surabaya. Salah satu metode dakwahnya adalah dengan cara memberikan bantuan pada fakir miskin di daerah Paciran, Kabupaten Lamongan.

Sunan Derajat juga yang mengajarkan masyarat di daerah Paciran untuk bercocok tanam. Sunan Derajat juga memiliki sifat sosial yang cukup tinggi.

Namun ia tidak melakukan dakwah terlebih dahulu, tetapi malah membangun masyarakat yang sejahtera. Kemudian melakukan dakwah jika masyarakat sudah sejahtera.

Metode dakwah yang lainnya adalah dengan berdakwah lewat musik dan juga pementasan wayang kulit. Hal ini hampir sama seperti sunan Bonang (kakak sunan Derajat) dan Sunan Kalijaga.

Bukti bahwa sunan Derajat sering berdakwah lewat musik dan wayang adalah seperangkat alat Gamelan yang masih tersimpan di Museum Sunan Derajat. Seperangkat alat gamelan ini dinamakan dengan Singo Mengkok.

Catur Piwulang

Salah satu peninggalan dari Sunan Derajat yang bisa dipakai untuk pedoman hidup hingga sekarang adalah Catur Piwulang (4 ajaran).

Di dalam buku berjudul Sunan Derajat (Raden Qosim) karya dari Yoyok Rahayu Basuki, catur Piwulang adalah salah satu ajaran hidup yang dibuat oleh Raden Qosim, dan masih relevan jika digunakan untuk masa sekarang ini.

Berikut adalah 4 ajaran hidup tersebut:

1. Menehono teken marang wong kang wuto

Artinya adalah “Berikanlah tongkat kepada orang buta.” Di sini Sunan Derajat mengajarkan untuk memberikan pertolongan kepada orang buta. Jadi ketika melihat orang buta, hendaknya kita memberikan tongkat agar dia bisa berjalan.

Tetapi secara makna, Kata tersebut juga bisa diartikan sebagai memberikan pengajaran pada orang yang tidak tahu. Buta dalam kata di atas bisa diartikan sebagai orang yang tidak berilmu. Dan tongkat bisa diartikan sebagai ilmu.

Jadi ketika kita memiliki satu ilmu, dan melihat orang lain tidak memiliki ilmu tersebut. Sudah seharusnya kita mengajarkan ilmu tersebut.

2. Menehono mangan marang wong kang luwe

Artinya adalah “Berikanlah makanan kepada orang yang kelaparan,” Sunan Derajat dalam kalimat ini sungguh terlihat sebagai orang yang cinta akan sesamanya.

Dia kemudian menganjurkan pada para muridnya untuk berbuat baik, seperti memberikan makanan pada orang yang sedang kelaparan tetapi mereka tidak memiliki uang untuk membelinya.

3. Menehono busana marang wong kang kawudan

Artinya adalah “Berikanlah pakaian kepada orang yang tidak memakai pakaian.” Maksudnya adalah memenuhi kebutuhan bagi orang yang tidak mampu. Seperti pakaiannya, pendidikannya dan lainnya.

4. Menehono payung marang wong kang kodanan

Artinya “Berikanlah payung kepada orang yang kehujanan.” Menurut penulis kata hujan tidak hanya bisa dimaknai sebagai hujan. Tetapi menurt penulis kata hujan adalah sebagai lambing dari tertimpa Musibah.

Jadi ketika melihat sebuah musibah kita harus mau memberikan bantuan kepada orang yang terkena musibah tersebut.

Itulah ajaran dari sunan Derajat yang kemudian dikenal sebagai Catur Piwulang. Sebuah ajaran yang masih relevan dan bisa dipakai sampai sekarang.

 

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twelve + seventeen =