Tradisi

Tradisi Pembuatan Cokbakal di Kabupaten Jombang

Kepercayaan rakyat atau yang sering disebut takhayul adalahkepercayaan yang dianggap sederhana, dan tidak berdasarkanlogika, sehingga secara ilmiah tidak dapat dipertanggungjawabkan. Takhayul bukan saja mencakup kepercayaaan (belief), melainkan juga kelakuan (behafior), pengalaman-pengalaman(experiences), ada kalanya juga alat, dan biasanya juga ungkapanserta sajak.    Dalam adat Jawa, kita masih banyak menemukan berbagaikebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat khususnya masyarakatdi pedesaan. Latar belakang mengapa masyarakat yang sudahmodern masih percaya kepada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang terdahulu sampai saat inidiantaranya dikarenakan cara berfikir mereka yang salah, kegemaran secara psikologis umat manusia untuk percaya kepadayang gaib-gaib, teori keadaan dapat hidup terus, perasaan ketidaktentuan akan tujuan-tujuan yang sangat didambakan, ketakutanakan hal-hal yang tidak normal atau penuh resiko dan takut akankematian, pemodernisasian takhayul, serta pengaruh kepercayaanbahwa tenaga gaib dapat tetap hidup berdampingan dengan ilmupengetahuan dan agama. Salah satu dari beberapa tradisi kepercayaan itu adalahpembuatan cokbakal. Di desa Wuluh kecamatan Kesambenkabupaten Jombang masih terdapat adat pembuatan cokbakal. Desa tersebut terletak didekat sungai Brantas dan jauh dari pusatkota Jombang yaitu sekitar 20 km. Kota Jombang terkenal akansebutan sebagai kota santri, hal itu dikarenakan banyaknyapondok pesantren yang berdiri di kota ini. Walaupun mayoritasmereka berasal dari latar belakang religius tetapi tradisi ini masihtetap dijadikan pegangan oleh beberapa masyarakat.  Arti dari kata cokbakal tidak diketahui secara pasti, karena secaratidak langsung masyarakat menyebut serangkaian sesaji itudengan sebutan cokbakal. Secara garis besar, pengertian cokbakalmerupakan serangkaian sesaji yang dibuat dan ditujukan kepadaroh nenek moyang dalam suatu acara tertentu yang bertujuan agar roh nenek moyang tersebut tidak mengganggu terselenggaranyasuatu acara. Dengan itu dapat dikatakan bahwa roh nenek moyangterdahulu meminta bagian dari adanya suatu acara denganpersembahan cokbakal yang ditujukan untuk dirinya.    Hal ini tidak jauh beda dengan pemberian tumbal yang diberikanoleh suatu kelompok masyarakat kepada roh nenek moyang, tapibedanya cokbakal ini tidak menggunakan makhluk hidup sebagaijaminannya seperti ayam, sapi, kerbau ataupun manusia, melainkan bahan-bahan makanan seperti beras, bumbu dapur dan lain-lain. Adanya tradisi pembuatan cokbakal ini bermula dari kisah SyekhSubakir yang kala itu sedang membuka hutan di pulau Jawa(babad tanah Jawi) guna dijadikan sebagai pemukiman. Keadaanpulau Jawa pada waktu itu sangat rawan karena banyaknyadhemit atau jin yang menghuni pulau Jawa. Makhluk gaib atauyang disebut dhemit adalah roh sakti yang mendiami tempat-tempat angker tertentu. Karena banyaknya dhemit yang mengganggu itu kemudian Syekh Subakir berinisiatif untukmembuat cokbakal. Syekh Subakir memulai membuatserangkaian sesaji itu dengan banyak macam bahan. Setelah sesajicokbakal tersebut selesai dibuat, Syekh Subakir meletakkannyaditengah-tengah hutan dan membacakan doa yang berisikanpermintaan Syekh Subakir agar beliau diberi kemudahan dalammembabat hutan. Dengan adanya cokbakal itu diharapkan dhemityang menghuni hutan di pulau Jawa dapat pergi dan tidakmengganggu pekerjaan Syekh Subakir kembali. Ternyata usaha beliau tersebut berhasil, berkat adanya cokbakalitu akhirnya dhemit yang menghuni pulau Jawa bisa pergi dan pindah ke tempat yang lebih luas yaitu di Segara Kidul. Untuk itusampai saat ini Segara Kidul tidak pernah dijamah oleh manusiakarena dipercaya terdapat banyak hal mistis yang dapatmengganggu keselamatan manusia. Cokbakal dibuat tidak hanya pada satu acara, tetapi ada beberapaacara tertentu yang mewajibkan adanya pembuatan cokbakal ini. Acara tersebut diantaranya adalah wiwit (panen), acara pernikahan, acara khitanan, persembahan ke punden dan lain-lain. Acara-acara tersebut dianggap sangat sakral sehingga diperlukanadanya pembuatan cokbakal. Dalam pembuatan cokbakal ada beberapa persyaratan yang harusdipenuhi, tapi persyaratan dalam setiap acara tersebut terdapatbeberapa perbedaan. Seperti halnya dengan pembuatan cokbakaldalam acara pernikahan dan panen. Persyaratan yang harusdipenuhi dalam pembuatan cokbakal pada acara pernikahanadalah bunga, segala macam bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, merica, lada, cabe, kunyit, jahe, lengkuas, ketumbar, jinten, kemiri, gula, garam, asam Jawa, dan lain-lain, nasi yang dicetak serupa dengan nasi...

Makna Tumpeng dalam Tradisi Jawa

Nasi tumpeng, atau banyak dikenal dengan istilah “tumpeng” saja, adalah sajian khas yang banyak dijumpai dalam berbagai acara perayaan atau “selamatan” baik di desa-desa...

Kesenian Para Wali dalam Menyebarkan Tradisi Islam

Masyarakat jawa sudah akrab dengan ajaran religius, tata susila, basa krama, saba sita yang demikian kuat. Bahkan, dicirikan dengan semangat gotong royong dan solidaritas...

Islamisasi Kebudayaan, Gerakan Dakwah Walisongo

Dalam konteks kesejararahan, keberadaan Walisongo di satu sisi berkaitan erat dengan kedatangan muslim asal Champa yang ditandai kemunculan tokoh Sunan Ampel, sesepuh Walisongo, di...

DAKWAH LEWAT SENI DAN BUDAYA

HIDAYATUNA.ID - Seni Pertunjukan yang potensial menjadi sarana komunikasi dan transformasi informasi kepada publik, terbukti dijadikan sarana dakwah yang efektif oleh wali songo dalam usaha...

Menelusuri Tradisi Keagamaan Islam Champa

Proses Islamisasi secara terorganisasi dan sistematis di Nusantara dilakukan setelah kehadiran dua bersaudara asal negri Champa, yaitu Raden Rahmat (Sunan Ampel) dan...

Tradisi Ziarah Wali Songo Menurut Ulama

Saya pernah ditanya: “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?” saya jawab: “Isin (malu)!” Jawaban saya masih dikejar:...

Tradisi Suku Sawang Bangka Belitung

Kita sebagai warga Negara harus mengetahui bahwa di Negara Indonesia ini, terdapat berbagai macam suku-suku yang tersebar diseluruh penjuru Indonesia dan banyak adat istiadat...

Menelisik Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok

Islam Wetu Telu adalah sistem kepercayaan sinkretik hasil saling silang ajaran Islam, Hindu, dan unsur animisme dan antropomorfimisme (Boda). Komunitas Islam Wetu...

FIKIH

Ikuti

9,845FansSuka
984PelangganBerlangganan