Cara Mengatasi Persoalan Hidup dalam Pandangan Pahlawan Banten

 Cara Mengatasi Persoalan Hidup dalam Pandangan Pahlawan Banten

KH Syam’un (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Ada pandangan khusus yang KH Syam’un terapkan dalam mengatasi persoalan hidup. KH Syam’un adalah salah satu ulama kharismatik dari Banten yang menjadi pahlawan Indonesia dalam mengusir sekutu pergi dari Indonesia.

Pandangan ini bisa menjadi pijakan bagi masyarakat. Dia mengatakan jika pendidikan (mencari ilmu pengetahuan) adalah salah satu cara terbaik untuk mengatasi segala persoalan hidup. 

Wujud dari gagasan ini adalah pola dari pesantren yang dibangung oleh KH Syam’un. Pesantrennya tidak hanya fokus mengajarkan pada bidang tata bahasa Arab, fiqih, hadits, tafsir, dan akidah. 

Tetapi KH Syam’un juga menambahkan ilmu-ilmu modern seperti, matematika, ilmu alam, ilmu hayat, ilmu bumi, kosmografi, sejarah, bahasa Inggris, bahasa Belanda. Bahkan, KH Syam’un juga mengajarkan santrinya untuk melakukan kegiatan tambahan, seperti olahraga, kesenian dan lainnya. 

Bergabung dengan PETA, dan mati Syahid 

Ketika Jepang datang ke Indonesia, KH Syam’un adalah salah satu tokoh yang didekati oleh Jepang. Oleh pemerintah Jepang, KH Syam’un diangkat sebagai daidanco (komandan batalyon) di wilayah Cilegon-Serang. 

Jabatan ini membuat masyarakat semakin menaruh hormat pada KH Syam’un. Setelah kemerdekaan, KH Syam’un Menjadi bupati di Serang Banten. Dia adalah sosok ulama kharismatik yang nilai nasionalismenya tidak perlu diragukan lagi.

Pada tahun 21 Juli 1947, beliau ikut aktif dalam memerangi agresi militer yang dilakukan oleh Belanda. Pada agresi Militer Belanda yang kedua, pihak Belanda menyasar kota Serang. Banyak dari pejabat dan tokoh-tokoh publik ditangkap oleh pihak Belanda. 

Tetapi KH Syam’un berhasil lolos, dia bersama para santri yang mengikutinya melakukan perlawanan-perlawanan dengan cara gerilya. Pada tahun 1949 bulan Maret tanggal 2, KH Syam’un wafat.

Mencari Pengetahuan untuk Mengatasi Persoalan Indonesia

Dalam perjuangannya dia tidak pernah surut semangatnya, dia bahkan kerap bertemu dengan para tentara Republik Indonesia. Selain itu beliau juga memberikan semangat pada para santri dan tempat-tempat yang disinggahinya.

KH Syam’un menyemangati mereka untuk tetap bersabar dan terus berusaha untuk mengusir para penjajah di Indonesia. Pada tahun 2018, atas jasa-jasanya dalam berjuang mengusir para penjajah, Presiden Joko Widodo memberikan gelar pahlawan Nasional.

KH Syam’un lahir di Cilegon Banten pada 14 April 1883. Ayahnya bernama H. Alwidjan dan ibunya bernama Siti Hadjar. 

Sejak kecil KH Syam’un sudah digembleng dengan ilmu-ilmu agama, belajar di pesantren Delingseng milik KH Sa’i pada 1901. Kemudian pindah Kamasan, asuhan KH Jasim di Serang pada 1904.

KH Syam’un juga pernah belajar di Mekkah selama kurang lebih 5 tahun. Dia juga pernah belajar di Al-Azhar, Kairo, Mesir pada tahun 1910. 

Di Mekkah, selain belajar, KH Syam’un dikabarkan melakukan aktivitas mengajar, banyak murid-muridnya juga berasal dari Nusantara. Pada tahun 1915 KH Syam’un kembali ke Nusantara, di Banten dia kemudian mendirikan pesantren di Citangkil, Cilegon untuk menyebarkan agama Islam.

Selain menyebarkan agama Islam, Ulama kharismatik ini juga berjuang untuk melawan penjajah. Lewat pesantren KH Syam’un menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada para santrinya, hingga ketika pasukan sekutu akan menduduki Banten, Kh Syam’un dan para santrinya berjuang di garis depan untuk mengusir para pasukan sekutu.

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × 3 =