Cancel Preloader

Cara Bisnis Tanpa Modal Ala Nabi Muhammad Saw

 Cara Bisnis Tanpa Modal Ala Nabi Muhammad Saw

Kota Tarim Warisan Budaya Islam (Ilust/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Modal merupakan faktor penting untuk menjalankan sebuah bisnis. Banyak orang yang mengurungkan niatnya untuk bisnis karena faktor tidak memiliki modal. Hal itu menjadi wajar manakala kita menganggap bahwa modal bisnis hanya sekadar perihal material (baca : uang).

Padahal jika kita mau memaknai modal secara luas, modal tidak hanya perihal uang. Lebih dari itu, segala kemampuan atau skill yang dimiliki. Mampu mengontrol emosional diri itu juga bisa dimaknai sebagai modal. Untuk memantapkan hati dan pikiran hingga mampu melahirkan gerak untuk menjalankan bisnis, kita mungkin bisa mencontoh kisah bisnis dari Nabi Muhammad Saw.

Dalam memulai bisnisnya, Nabi Muhammad tidak mengandalkan modal dalam konteks material. Namun beliau memulai bisnisnya dengan hanya bermodalkan kepercayaan. Mafhum kita ketahui bersama kepercayaan adalah hal yang penting dalam menjalin suatu hubungan. Jika rusak kepercayaannya maka akan rusaklah hubungannya.

Pada ruang lingkup berbisnis juga demikian adanya. Kepercayaan konsumen adalah hal yang penting dan sangat berpengaruh bagi usaha yang sedang kita bangun dan jalankan.

Nabi Muhammad Saw dalam kisah bisnisnya mengajarkan bahwa rahim dari kepercayaan adalah kejujuran. Jadi untuk mendapatkan kepercayaan dari konsumen, wajiblah bagi kita untuk jujur dalam segala hal, khususnya yang berkaitan dengan bisnis kita.

Bisnis Ala Nabi Muhammad

Nabi Muhammad dari kecil memang sudah muncul jiwa bisnisnya. Bahkan jika kita melihat, jiwa bisnis beliau tumbuh karena keterbatasan hidupnya yang dijalani.

Beliau sejak kecil sudah jadi seorang yatim piatu. Saat diasuh oleh pamannya, beliau harus berbagi makanan dengan anak-anak pamannya. Nabi Muhammad saat masih kecil itu, tidak bisa ikut berebut, dia dipojokan bibirnya membiru dengan wajah pucat. Kemudian sang paman bertanya kepada Nabi Muhammad, “Mengapa?” tanya pamannya.

Ternyata Nabi Muhammad kelaparan, karena tidak kebagian rebutan makanan dengan anak-anak sang paman. Dari situlah kemudian muncul dan tumbuh keinginan beliau untuk bisa mandiri. Harus bisa kenyang dengan usahanya sendiri.

Pada usia delapan tahun Nabi Muhammad sudah mulai berdagang, tanpa modal. Beliau hanya bermodalkan kepercayaan dari orang, membawa barang dari kota B dan kemudian dijual ke kota C. Beli barang di kota C kemudian dijualnya ke kota D. Begitulah kisah beliau saat berdagang, hingga wilayah perdagangannya kala itu sangat luas sejazirah Arab. Bahkan keluar hingga beliau mencapai tingkat perekonomiannya terbilang cukup tinggi.

Tips Bisnis Tanpa Modal Ala Nabi Muhammad

Nabi Muhammad Saw juga pernah mengambil stok dari Khadijah, seorang konglomerat kaya yang kemudian pada akhirnya menjadi istrinya. Beliau sangat jujur kepada Khadijah. Beliau juga jujur dengan para pelanggannya. Saat sedang memasarkan dagangannya beliau menjelaskan keunggulan atau kelebihan dan kekurangan dari barang dagangan yang dijualnya.

Dari sisi tersebut, kita dapat menilai bahwa sikap kejujuran yang diajarakan Nabi Muhammad Saw sangat penting dilakukan untuk meraih kepercayaan pelanggan atau konsumen.

Ada sebuah tips supaya kita bisa berbicara dan berperilaku jujur pada saat bisnis, berdagang atau dalam kehidupan sehari-hari. Yaitu selalu ingatlah kuasa Allah yang Maha Melihat, Mengetahui, Maha Mendengar. Maka saat kita ingat Allah, tidak ada peluang untuk kita berbohong, sebab kita selalu dalam pengawasannya, kapan dan dimanapun kita berada.

Jangan takut untuk memulai bisnis tanpa modal secara material. Gunakan skill anda sebagai modal untuk memulai bisnis. Kemudian asah sikap emosional anda dalam berbisnis. Contohlah pribadi Nabi Muhammad Saw dari kisah di atas, yang memulai bisnisnya dengan hanya bermodalkan kepercayaan. Namun ingatlah kepercayaan lahir dari sikap jujur. Artinya jujur sangatlah penting bagi perkembangan dari setiap usaha atau bisnis yang akan anda jalankan.

Muhammad Iqbal Shukri

Muhammad Iqbal Shukri

Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Perbankan Syariah UIN Walisongo Semarang

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seven + 13 =