Canda yang Bijak Baginda

 Canda yang Bijak Baginda

Canda yang Bijak (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Membaca sirah dan hadis-hadis Nabi terkadang memunculkan kesan bahwa kehidupan beliau dan para sahabatnya penuh dengan hal-hal yang serius. Bisa dikata hampir tak ada ruang untuk bercanda.

Padahal sesungguhnya tidak sedikit episode-episode yang dapat mengundang tawa dalam keseharian tokoh-tokoh besar itu. Ini membuktikan bahwa mereka juga manusia biasa yang bisa untuk ditiru.

Namun demikian, canda dalam kehidupan mereka bukan sesuatu ketersengajaan dan dibuat. Semua alami dan spontanitas. Oleh karena itu, ia tetap bermakna, berhikmah dan berkelas.

Seorang sahabat Nabi bernama Khawwat bin Jubair bercerita, dalam sebuah perjalanan bersama Rasulullah, kami berhenti sejenak di sebuah daerah bernama Marr Zhahran. Aku keluar dari kemah.

Tiba-tiba aku melihat beberapa wanita sedang asyik berbincang-bincang. Aku pun tertarik untuk ‘nimbrung’. Lalu aku kenakan jubah, kemudian duduk di dekat mereka.

Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kemahnya. Beliau melihatku dan berkata, “Hai Abu Abdillah, apa yang membuatmu duduk di dekat para wanita itu?” Aku merasa malu dan segan. Untuk menutupi malu, aku pun berkata, “Ada ontaku yang lepas, ya Rasul… Aku sedang mencari tali untuk mengikatnya.”

Rasulullah hanya tersenyum. Beliau pun berlalu. Aku segera mengikutinya.

☆☆☆

Suatu saat beliau menitipkan sorbannya padaku karena beliau akan buang hajat dan berwudhu’. Selesai berwudhu, sambil mengenakan sorbannya, beliau bertanya padaku, “Wahai Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?” Aku hanya terdiam malu.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Setiap kali beriringan, Rasul selalu berkata padaku, “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”

Aku berusaha mempercepat kudaku agar sampai lebih awal di Madinah. Beberapa hari aku sengaja tidak datang ke masjid. Aku juga berusaha untuk menghindari pertemuan dengan Rasul. Tapi karena sudah cukup lama, akhirnya aku pergi juga ke masjid. Namun aku sengaja datang saat masjid sudah kosong. Lalu aku shalat.

Tiba-tiba Rasulullah keluar dari kamarnya. Beliau shalat dua rakaat. Setelah itu beliau duduk. Aku sengaja melama-lamakan shalat dengan harapan beliau pergi dan meninggalkanku. Tiba-tiba beliau bersabda, “Panjangkan saja semaumu wahai Abu Abdillah, aku tidak akan beranjak sampai engkau selesai.”

Aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku akan minta maaf pada Rasul dan berterus-terang atas apa yang sebenarnya terjadi.” Aku pun mengakhiri shalatku.

Baru saja aku selesai salam, Rasul berkata, “Assalamualaikum Abu Abdillah, bagaimana kabarnya ontamu yang lepas itu?”

☆☆☆

Akhirnya aku berkata dengan jujur, “Demi Zat yang telah mengutusmu wahai Rasulullah, sebenarnya tidak ada ontaku yang lepas…”.

Mendengar pengakuan jujurku itu beliau tersenyum dan berkata, “Semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu… semoga Allah menyayangimu…”

Sejak saat itu beliau tidak lagi bertanya padaku tentang onta lepas itu.

صلى الله عليك يا سيدي يا رسول الله يا معلم الناس الخير ورضي الله عن صحابتك الأخيار

Kisah ini dinukilkan oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam bukunya berjudul Akhbar azh-Zhiraf ; sebuah kitab berisi riwayat dan kisah-kisah jenaka penuh hikmah ; buku yang sangat baik dibaca sebagai refreshing setelah membaca kitab-kitab yang ‘berat’.

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty − 14 =