Bukti Nabi Muhammad SAW Adalah Pendidik Dan Pengajar Handal

 Bukti Nabi Muhammad SAW Adalah Pendidik Dan Pengajar Handal

Muhammad

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kehadiran Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini salah satunya adalah sebagai seorang pendidik dan pengajar yang handal. Realitas tersebut tidak perlu diragukan lagi dengan adanya hadits-hadits yang sudah cukup membuktikan.

Dalam suatu riwayat Ibnu Majah dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu anhu mengatakan:

“Rasulullah SAW keluar di suatu hari dari rumahnya lalu memasuki masjid dan terdapat dua kelompak, salah satunya membaca Al-Quran dan berdoa. Sedangkan kelompok yang lain sedang belajar dan mengajar.”

Rasulullah SAW bersabda:

“Semuanya dalam kebaikan, mereka membaca Al-Quran dan berdoa kepada Allah, dan mereka akan diberi ataupun ditolak sesuai kehendak Allah dan kelompok yang lain sedang mengajar dan belajar, dan sesungguhnya aku diutus sebagai pengajar.”

Kemudian Rasulullah SAW duduk dengan mereka.

Diutusnya Nabi Muhammad SAW ke bumi ini, benar adanya adalah sebagai guru yang besar dan tinggi ilmunya. Apa yang diajarkan oleh beliau telah menjadi petunjuk bagi umat. Semua ajarannya telah diikuti, begitu pun dengan ucapannya yang membuat banyak orang tunduk kepada beliau.

Diketahui bersama bahwa guru adalah profesi yang selama ini dipandang sebagai sumbernya ilmu. Tidak jarang juga didengar bahwa guru adalah seseorang yang “digugu dan ditiru”.

Digugu berarti apa yang disampaikannya di sekolah akan selalu dipercaya dan diyakini murid sebagai suatu hal yang benar. Sedangkan ditiru merupakan posisi guru sebagai contoh yang akan diikuti oleh setiap muridnya.

Jika diperhatikan dengan baik, selama Nabi Muhammad SAW hidup dan menjalani aktivitasnya adalah serangkaian pengajaran untuk setiap umat. Meski beliau dimusuhi, diperangi, dan dicaci maki, beliau menghadapinya dengan bersabar dan rela menanggung beban tersebut.

Tetapi masih banyak umat yang berada di dekat beliau yang rela meninggalkan keluarga dan sanak saudara untuk berperang dan tetap memprioritaskan Nabi Muhammad SAW, meski yang dilawan adalah saudara maupun keluarga sendiri.

Hal ini menjadi bukti bahwa Nabi SAW adalah sosok pengajar yang disegani dan selalu diikuti, apapun kondisi beliau. Tidak hanya handal dalam ilmu, Nabi Muhammad SAW juga memberikan teknik pengajaran yang handal.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari Muawiyah bin Hakam As-Sulami radhiyallahu anhu berkata: Tatkala saya sholat bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba ada seorang jamaah yang bersin. Maka aku berkata, “Semoga Allah ta’ala merahmatimu.” Semua jamaah menoleh dan melihatku.

Lalu aku mengatakan, “Celaka, mengapa kalian memandangku?” Mereka pun memukulkan tangan di paha, tatkala itulah aku sadar bahwa mereka berusaha menenangkan aku dan seketika aku diam. Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan sholatnya, aku pun dipanggil.

Sungguh, demi ayah dan ibuku, tidak pernah aku melihat pengajar sebelum dan sesudahnya yang lebih baik darinya dalam memberikan pelajaran. Demi Allah, beliau Nabi SAW tidak membentak, tidak memukul, dan tidak mencelaku.

Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya sholat ini tidak layak sedikit pun adanya ucapan manusia, sholat hanyalah berupa tasbih, takbir, dan membaca Al-Quran.”

Kisah tersebut menggambarkan bahwa orang yang belum mengetahui syariat, maka tidak apa-apa. Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan bahwa untuk mengingatkan orang yang tidak mengetahui syariat tidaklah harus menggunakan bentakan, pukulan, dan mencela, tetapi berlaku lemah lembut.

Beliau menyelesaikan terlebih dahulu kewajiban sholatnya dan setelah itu memberitahu secara baik-baik. Inilah pelajaran berharga yang sudah sepatutnya diaplikasikan dalam kehidupan saat ini. Guru mengemban tugas yang sangat penting dalam membentuk generasi penerus bangsa.

Bukan hanya mentransfer ilmu saja, tetapi juga mengajarkan akhlak yang baik. Untuk memberikan pengajaran tersebut, akan lebih baik jika meneladani Nabi Muhammad SAW.

Bahkan Allah SWT telah berjanji untuk menyelamatkan orang yang mengamalkan ilmunya sehingga diselamatkan dari panas matahari di atas kepala saat hari kiamat. (Hidayatuna/Ok)

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × 1 =