Bolehkah Seorang Muslim Mewasiatkan Seluruh Hartanya Untuk Orang Lain?

 Bolehkah Seorang Muslim Mewasiatkan Seluruh Hartanya Untuk Orang Lain?
Digiqole ad

Wasiat adalah berpesan tentang suatu kebaikan yang akan dijalankan sesudah orang meninggal dunia. Wasiat berasal dari kata washa yang berarti menyampaikan atau memberi pesan atau pengampunan. Dengan arti lain, wasiat adalah harta yang diberikan oleh pemilikanya kepada orang lain setelah si pemberi meninggal dunia.

Menurut para fuqaha wasiat adalah pemberian hak milik secara sukarela yang dilaksanakan setelah pemberinya meninggal dunia. Pemberian hak milik ini bisa berupa barang, piutang atau manfaat. Sesuai firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 180:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 180)

Rukun wasiat ada 4, antara lain:

  • Pemberi wasiat

Pemberi wasiat atau orang yang berwasiat itu harus orang yang waras (berakal), baligh dan mumayyis.

  • Penerima wasiat

Penerima wasiat bukanlah ahli waris, kecuali jika disetujui oleh para ahli waris lainnya.

  • Barang yang diwasiatkan

Barang haruslah yang bisa dimiliki seperti harta atau rumah dan kegunaannya.

  • Kalimat wasiat

Sebanyak-banyanya wasiat adalah sepertiga dari harta dan tidak boleh lebih dari itu kecuali apabila diizinkan oleh semua ahli waris sesudah orang yang berwasiat meninggal.

Sesuai sabda Rasulullah saw, :

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيْلُ بْنُ عَيَّاشِ حَدَّثَنَا شُرَحْبِيْلُ بْنُ مُسْلِمٍ الخَوْلَانِىُّ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَهُ البَاهِلِيَّ يَقُوْلُ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ – صلى الله عليه وسلم- يَقُوْلُ فِى خُطْبَتِهِ عَامَ حِجَّةِ الْوَدَاعِ إِنَّ اللهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ فَلاَ وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar telah menceritaka kepada kami Isma’il bi Ayyas, telah meceritakan kepada kami Syurahbil bin Muslim Al-Khaulani, aku telah mendengan Abu Umamah Al-Bahili ra. Beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada saat khutbah haji wada’: “Sesungguhnya Allah swt memberikan hak kepada orang yang mempunyai hak, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Ibnu Majah)

Wasiat tergolong 4 jenis yaitu wasiat mutlak, wasiat bersyaar, wasiat am, dan wasiat khas.

  • Wasiat Mutlak

Adalah wasiat yang dilakukan dengan bebas atau tidak terikat dengan syarat-syarat tertentu yang dikenakan ke atas harta yang diwasiatkan oleh pewasiat. Oleh karena itu menurut Mazhab Syafi’i dan Hanbali kesan dari wasiat mutlak ini adalah ia akan berkuasa selama-lamanya.

  • Wasiat Bersyarat

Adalah wasiat yang mempunyai syarat-syarat tertentu yang diberikan oleh pewasiat. Para Fuqaha berpendapat bahwa sah adanya syarat-syarat dalam wasiat asalkan ia tidak menyalahi Syara’ baik yang berkaitan dengan harta, tujuan atau cara mengerjakannya dan hendaklah wasiat itu membawa kebaikan kepada penerima. Oleh Karen aitu wasiat yang mempunyai syarat-syarat yang sah akan mengikat penerima wasiat untuk menerima wasiat beserta syarat-syaratnya atau menolak wasiat tersebut. Seandainya syarat-syarat yang terkandung didalam wasiat adalah sah disisi Syara’ tetapi tidak dipenuhi oleh penerima wasiat maka wasiat itu menjadi batal.

  • Wasiat ‘Am

Adalah wasiat yang dibuat berbentuk umum seperti kepada penduduk sebuah kampung atau bandar. Wasiat ini untuk semua penduduk tempat yang diwasiatkan tersebut baik yang beragama Islam maupun tidak beragama Islam. Menurut Imam Syafi’i jumlah penduduk suatu tempat tersebut yang menerima wasiat paling kurang tiga orang.

  • Wasiat Khas

Adalah wasiat yang dikhususkan untuk pihak tertentu. Terdapat kemungkinan pewasiat dalam berwasiat kepada orang tertantu mebuat perbandingan kadar yang hendak diwasiatkan dengan kadar yang sepatutnya diterima oleh salah seorang ahli waris pewasiat. Sebagai contoh pewasiat mewasiatkan bagian anak laki-lakinya sedangkan ia mempunyai seorang saja anak maka kadar pemberia wasiat yang membenarkan ialah ½ bagian harta tetapu jika anaknya tidak setuju, maka wasiat itu hanya 1/3 bagian saja. Seterusnya jika diwasiatkan dengan kadar bagian anak-anaknya dan pewasiat hanya ada dua orang anak saja maka penerima wasiat berhak mendapat 1/3 bagian harta saja.

Sumber : Buku Fiqh Sunnah Karya Sayid Sabiq,

Kitab Sunan Ibnu Majah Kerya Abu Abdullah Muhammad bin Yazid al-Qazwaini

Kitab Al-Faraid Wa Al-Mawaris Wa Al-Wasaya Karya Muhammad al-Zuhaili

Buku Fiqh Islam Wa Adillatuhu Karya Wahbah Az-Zuhaili

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eighteen + eleven =