Bolehkah Seorang Muslim Memelihara Anjing?

 Bolehkah Seorang Muslim Memelihara Anjing?

Gus Baha ungkap Pelihara Anjing di Rumah Timbulkan Kemudharatan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Sempat ramai menjadi perbincangan publik perihal muslimah bercadar yang memelihara anjing hingga 70 ekor di halaman rumahnya. Di pandangan masyarakat awam, seorang Muslim yang memelihara anjing tentu bertentangan dengan Islam sebab yang mereka tahu air liurnya saja najis.

Lalu bagaimana sebenarnya pandangan Islam sendiri terhadap seorang Muslim yang memelihara anjing? Sebagaimana kita tahu bahwa apabila sampai terkena jilatan atau ludahnya, wajib membasuhnya dengan tanah hingga 7 kali.

Dalam sebuah hadis riwayat Abu Hurairah disebutkan, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila anjing menjilat wadah seseorang, maka keriklah (bekasnya). Lalu basuhlah wadah itu tujuh kali.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ulama berbeda pendapat dalam menyikapi memelihara anjing bagi seorang Muslim. Mengingat status najis atau kesucian binatang tersebut. Ulama Mazhab Syafi’i dan Hanbali berpendapat bahwa anjing najis secara kesuluruhan, baik segala yang kering dari anggota tubuhnya atau pun yang basah.

Berbeda halnya dengan ulama Mazhab Hanafi, ia berpandangan bahwa status anjing itu pada dasarnya suci. Kecuali bagian yang basah dari anjing seperti kencing, keringat, liur, dan segala yang basah hukumnya adalah najis.

Di samping itu, ulama Mazhab Maliki berpendapat bahwa status anjing suci secara keseluruhan dan tidak najis. Baik itu bagian yang kering dari hewan mamalia itu ataupun yang basah. Mereka berpandangan, hukum bersuci sebagaimana hadis di atas hanya berlaku khusus untuk membersihkan bejana, wadah, periuk, atau apa pun yang dipakai minum atau makan anjing.

Gus Baha : Anjing Tidak Najis

Umat Islam Indonesia yang bermazhab Syafii lebih condong menganggap anjing sebagai binatang yang najis. Gus Baha tampaknya tidak termasuk yang menganggap bahwa anjing najis.

Gus Baha mengatakan bahwa dalam semua periode Islam anjing tidak dianggap sebagai najis. “Sejak dulu itu nggak asing, orang memuji anjingnya Ashabul Kahfi. Tidak pernah ada masalah dengan anjing. Sampai periode sahabat tabiin. Rata-rata sahabat ya punya anjing,” ujar Gus Baha.

Gus Baha menambahkan bahwa sahabat yang merawat 100 kambing akan memberikan satu kambingnya ke anjing sebagai hadiah karena telah menjaganya dari serigala. Alquran pun mengistilahkan anjing di dalam surat Al Maidah ayat 4 yang berbunyi: wa mā ‘allamtum minal-jawāriḥi mukallibīna (dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu).

Anjing Menjadi Najis

Anjing menjadi najis dijelaskan oleh Gus Baha pada saat periode Syafiiyah, bukan di masa Imam Syafii. Ketika Imam Syafii hidup, masih banyak orang memelihara anjing, sementara itu di Indonesia sendiri banyak yang menganut mazhab Syafi’iyah sehingga mereka membenci anjing.

“Mahzab Syafi’iyah menganggap anjing itu najis, kita lupa keistimewaan anjing. Padahal itu tidak bertentangan. Kalau anjing memang dianggap pintar, kalau itu dikatakan najis biar tidak kamu sembelih dan dijadikan ternak. Justru barang istimewa itu tidak perlu dibunuh karena istimewa. Kalau anjing kamu samakan dengan ayam nanti disate terus cepat habis,” kata Gus Baha dikutip dari today.line.me.

Memelihara anjing dalam fiqih Islam tidak diharamkan karena anjing itu sendiri tidaklah najis. Hanya saja perlakuan pemilik apabila ia seorang Muslim, haruslah diatur sedemikian rupa sehingga terhindar dari najisnya.

Sebagaimana hadis Imam Bukhari, dari Abi Hurairah Radiallahu’anhu dari Rasulullah SAW berabda, “Telah diampuni seorang wanita pezina yang lewat di depan anjing yang menjulurkan lidahnya pada sebuah sumur. Dia berkata, “Anjing ini hampir mati kehausan”. Lalu dilepasnya sepatunya lalu diikatnya dengan kerudungnya lalu diberinya minum. Maka diampuni wanita itu karena memberi minum. (HR Bukhari).

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − two =