Cancel Preloader

Bolehkah Menelantarkan Tanah Wakaf?

 Bolehkah Menelantarkan Tanah Wakaf?

Menelantarkan Tanah Wakaf (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Empat mazhab fiqih memiliki pendapat berbeda dalam memaknai wakaf. Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki definisi tersendiri tentang wakaf.

Menurut MUI, sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya. Dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut.

Kemudian hasilnya disalurkan pada sesuatu yang mubah yang ada. Sementara itu UU 41/2004, wakaf diartikan sebagai perbuatan hukum Wakif.

Hal ini diniatkan untuk memisahkan dan menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu. Hal itu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan kesejahteraan umum menurut syariah.

Adakalanya tanah yang diniatkan oleh wakif untuk diwakafkan terlantar karena tidak ada dana untuk membangun. Hal ini bisa juga dilatari oleh niat wakif yang kurang kuat karena telah tersedia sarana yang sama di sekitar lingkungan tanah wakaf.

Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berinfak, termasuk wakaf. Islam juga memberikan penghargaan yang sangat tinggi nilainya kepada wakif (pewakaf).

Anjuran itu antara lain terdapat dalam firman Allah QS. Ali ‘Imran.

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” [QS. Ali ‘Imran: 92)

Penjelasan Hukum Tanah Wakaf yang Terlantar

1. Tanah Wakaf Terlantar karena Belum Ada Dana untuk Membangun

Di sini tampaknya tujuan wakaf yang diniatkan atau diikrarkan oleh wakif, sesungguhnya memiliki nilai mashlahat bagi masyarakat. Hanya saja untuk mewujudkan belum tersedia dana, yang akibatnya tanah wakaf untuk sementara ini menjadi terlantar.

Jika demikian, maka tujuan wakaf sebagaimana yang diniatkan atau diikrarkan oleh wakif harus dijaga dalam arti harus diupayakan terwujudnya.

Sedangkan akibat tidak atau belum tersedianya dana untuk membangun sehingga tanah wakaf tersebut menjadi terlantar, harus dihindari. Hal itu merupakan salah satu bentuk perbuatan mubadzir atau pemborosan yang dilarang oleh agama.

Untuk itu nadhir dibenarkan mengelola tanah wakaf tersebut dengan kegiatan-kegiatan produktif/komersial, yang kelak hasilnya adalah untuk mewujudkan niat wakif.

2. Tanah Wakaf Terlantar karena Tujuan Wakaf oleh Wakif Kurang Mashlahat

Di tempat itu telah tersedia sarana yang sama dengan yang diniatkan atau diikrarkan oleh wakif. Dalam kasus ini, jika tujuan wakaf yang diniatkan atau diikrarkan oleh wakif dipaksakan untuk dilaksanakan.

Sudah bisa ditebak bahwa harta wakaf, baik tanah maupun bangunannya tidak akan mendatangkan mashlahat secara maksimal. Dengan kata lain membuka terjadinya perbuatan yang mubadzir.

Untuk menghindari tindakan mubadzir ini dapat dilakukan penggantian tujuan wakaf. Misalnya dengan tujuan yang lain yang paling besar mendatangkan kemaslahatan bagi  umat/masarakat.

Jika dipandang bangunan produktif/komersial seperti mall atau hotel adalah alternasi tujuan wakaf yang paling mendatangkan kemashlahatan, tentunya itulah yang dipilih.

Namun jika ada alternasi lain, kiranya tidak salah untuk dikaji secara cermat, sehingga akan betu-betul mampu mendatangkan kemashlahatan yang paling besar bagi umat atau masyarakat.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

16 − 16 =