KH Zainuddin Muhammad Zein atau yang lebih dikenal dengan nama Zainuddin MZ. Ia lahir di Jakarta pada tanggal, 2 Maret 1951. Beliau adalah seorang pemuka agama Islam di Indonesia yang popular melalui ceramah-ceramahnya di Radio dan Televisi. Dari Kiprahnya diberbagai stasiun televisi ia di juluki “Dai Sejuta Umat” karena dakwahnya yang dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

KH. Zainuddin MZ adalah dai kondang yang ceramanya selalu dinanti nantikan umatnya. Dimanapun dia ceramah selalu dihadiri oleh puluhan ribu jamaah. Dalam berdakwah ia menggunakan Bahasa yang mudah dimengerti, lebih banyak menggunakan pendekatan humanistis (kemanusian) artinya dalam berdakwah ia lebih banyak menyentuh, bukan menyinggung, mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, ibarat mencubit tetapi tidak terasa sakit. Metode dakwah seperti ini mencontoh metode dakwah yang diterapkan oleh Rasulullah Saw. Tujuannya dalam berdakwah adalah pesan dakwah harus mengena, sampai pada sasaran. Hal ini dibuktikan dengan hausnya umat atas siraman rohani Dai Sejuta Umat tersebut.

Dalam berdakwah Zainuddin tidak pandang bulu dakwahnya menyentuh semua kalangan. Zainuddin telah melahirkan taubat abad 20, yaitu suatu kesadaran massal para Bromocorah (orang-orang yang bergelimangan dalam dosa dan kemaksiatan) dari rakyat biasa hingga kalangan menengah keatas, di antarnya para PSK, pemabuk, pencuri, bahkan banyak ilmuwan, budayawan, seniman yang tidak peduli terhadap islam, menjadi cinta dan masuk islam karena terbius oleh kelihaian kata – kata Zainuddin MZ. Bahkan mereka menjadi barisan kuat dibelakang Zainuddin MZ dalm mengembangkan islam di Indonesia.

Zainuddin MZ merupakan Putra tunggal dari pasangan Turmudzi (Ayah) dan Zinabun (Ibu) ini juga di kenal sangat mengusung adat Betawi asli. Dari pernikahannya dengan HJ. Kholilah, Zainuddin MZ dikaruniai Empat orang anak yajni Fikri Haikal MZ,l Lutfi MZ, Kiki MZ, dan Zaki MZ. Sejak kecil Udin nama panggiln keluarganya sudah mahir berpidato. Dia suka naik keatas meja untuk berpidato didepan tamu Madrasah Tsanawiyah hingga tamat Madrasah Aliyah di Darul Ma’arif, Jakarta. Di sekolah ini ia belajar berpidato kian berkembang, setiap kali tampil, ia memukau teman-temannya. Kemampuannya it uterus terasah, berbarengan permintaan ceramah yang terus mengalir. Ia menempuh pendidikan tinggi di IAIN Syarif Hidayatullah dan berhasil mendapatkan gelar doctor honoris causa dari Universitas Kebangsa Malaysia.

Baca Juga :  Meneladani Semangat Menimba Ilmu Buya Hamka

Perkembangan karir Zainuddin mulkai dikenal luas sejak ceramh-ceramahnya mulai masuk dunia rekaman. Kasetnya beredar tidak hanya di Indonesia teteapi ke beberapa negara di Asia. Sejak itu, dai penggemar Dangdut yang juga sahabat Rhoma Irama itu mulai dilirik untuk tampil dilayar kaca, bahkan dikontrak sebuah biro perjalanan haji untuk bersafari bersama beberapa artis ke berbagai daerah lewat program Nada dan Dakwah.

Selain penceramah Zainuddin juga kemudian terjun ke dunia politik. Pernah aktif di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sejak tahun 1977-1982, jabatanya pun bertambah selain Da’i juga sebagai seorang politikus. Keterlibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH. Idham Chalid. Sebab, gurunya yang pernah jadi Ketua Umum PBNU itu salah satu seorang Deklarator PPP. Dia mengaku lama nyantri di Ponpes Idham Khalid yang berada di bilangan Cipete, yang belakangan identic sebagai kubu dalam NU, Zainuddin pun aktif menjadi pengurus PPP sebagai Dewan Penasehat DPW DKI Jakarta, sebelum akhirnya terlibat DPP. Partai merupakan fusi beberapa partai islam itu jauh-jauh hari sejak Pemilu 1977 sudah memanfaatkanya sebagai Votte-getter. Bersama Raja Dangdut H. Rhoma Irama, KH. Zainuddin MZ. Berkeliling berbagai wilayah mengampenyakan Partai yang saat itu bergambar Ka’bah.

Hasil yang diperoleh sangat signifikan dan mempengaruhi dominasi Golkar. kondisi itu membuat penguasa Orde Baru waswas dan membuatnya tak lepas dari ancaman teror. Totalitas K.H. Zainuddin M.Z. untuk PPP bisa dirunut dari latar belakangnya. Pertama, secara kultural dia warga nahdliyin, atau menjadi bagian dari keluarga besar NU. Dengan posisinya tersebut, dia ingin memperjuangkan NU yang saat itu menjadi bagian dari fusi PPP yang dipaksakan Orde Baru pada 5 Januari 1971. Untuk diketahui, ormas lain yang menjadi bagian fusi itu, antara lain, Muslimin Indonesia (MI), Perti, dan PSII.

Baca Juga :  Rangkayo Hj. Rasuna Said. Pembela Pancasila. (Kisah yang Tercecer)

Selain itu, ketrilibatannya dalam PPP tidak bisa dilepaskan dari guru ngajinya, KH Idham Khalid. Pada 20 Januari 2002, karena merasa tidak cocok dengan (PPP) Zainuddin bersama rekan politiknya mendeklarasikan PPP Reformasi yang kemudian berubah menjadi Partai Bintang Reformasi (PBR) dalam Muktamar luar biasa pada tanggal 8-9 April 2003 di Jakarta, bersama Zainal Maarif. Ia juga secara resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh partai ini. Zainuddin pun menjadi ketua umum pertamanya di PBR sampai tahun 2006. Kemudian terjadi pertikaian di PBR, Zainuddin pun kembali ke PPP atas tawaran Ketum PPP Suryadharma Ali.

Di tahun-tahun berikutnya, nama Zainuddin mulai tenggelam sebagai penceramah. Namun ia kemudian fokus menebarkan dakwah dan kembali berada di tengah umat sejak beberapa tahun terakhir.

November 2010, Zainuddin diketahui dirawat di rumah sakit akibat kecapekan dan stres. Setelah itu, dirinya tidak lagi muncul di layar kaca , hingga akhirnya menutup usia  pada umur 59tahun beliau meninggal di Jakarta 5 Juli 2011 bertepatan dengan 5 Sya’ban 1432 H dalam perjalan menuju Rumah Sakit Pusat Pertamina. Karena serangan jantung dan gula darah. Ia meninggal setelah sarapan bersama keluarga di rumahnya Gandaria I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sebagaimana permintaan beliau, jenazahnya dimakamkan di kompleks halaman masjid Fajrul Islam yang memang berada persis di depan rumah almarhum. Pemakaman dilakukan pada hari yang sama usai shalat Ashar.