Berkah Puasa Untuk Seluruh Alam

 Berkah Puasa Untuk Seluruh Alam

Kembali suci di hari raya Idul Fitri (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Berkah dari bulan puasa ini terpancar dan mengenai seluruh isi alam semesta. Bukan hanya untuk manusia yang merasakan istimewanya bulan Ramadhan ini, tapi juga untuk hewan, tumbuhan, gunung, lautan dan udara, semuanya mendapatkan berkah di bulan suci.

Untuk menebar berkah puasa bagi seluruh alam, tentu tidak hanya mengandalkan kuasa-Nya. Kita pun perlu melakukan hal-hal baik kepada seluruh alam sehingga berkah bagi semua.

Lalu bagaimana caranya, agar alam juga mendapatkan berkah dari bulan puasa ini?

Kewajiban melestarikan lingkungan

Dalam berpuasa memang Allah tidak menganjurkan umatnya untuk melestarikan lingkungan. Tuhan hanya menyuruh hambanya untuk menahan hawa nafsu, seperti makan, minum, seks, ghibah, dan nafsu-nafsu lainnya beserta berbuat kebaikan.

Model kebaikan ini bisa bermacam-macam. Membaca Alquran merupakan salah satu kebaikan dan dianjurkan oleh Allah.

Dari membaca Alquran inilah orang yang berpuasa akan menemukan kewajiban untuk menjaga pelestarian lingkungan. Jadi, minimal selama satu bulan saja, umat muslim menjaga lingkungan sekitarnya.

Menjaga lingkungan juga sebagai anjuran dari tuhan dan juga suatu kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 11-12:

Artinya: “Dan bila dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab “Sesunggunya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.” (11)  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (12)”

Riwayat tentang Berbuat Kerusakan di Bumi

Sebagian riwayat mengatakan yang dimaksud dengan merusak di muka bumi adalah orang-orang munafik yang berbuat kerusakan dengan maksiatnya. Jika mereka dikatakan telah berbuat kemaksiatan (kemunafikan) maka mereka menjawab bahwa mereka sedang berbuat kebaikan pada Tuhan.

Tetapi ada dua riwayat yang menarik untuk dikaji karena dua riwayat tersebut mengatakan kerusakan di ayat tersebut belum terjadi. Pelakunya juga belum ada pada masa ketika ayat tersebut turun.

Riwayat pertama adalah waki’ Isa ibnu Tunus dan Assam Ibnu Ali mengatakan dari al-A’masy dari Minhal ibnu Amr Ibnu Abbad ibnu Abdulla al Asadi. Dari Salman al-Farisi, dalam konteks ayat di atas, orang-orang yang di maksud masih belum ada (di masanya).

Riwayat yang kedua dari Ibnu Jarir mengatakan telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Usman ibnu Hikam. Telah menceritakan kedapa kami Abdur Rahman ibnu Syarik, telah menceritakan kepadaku ayahku. Dari al-A’masy, dari Zaid ibnu Wahb dan lain-lainnya, dari Salman al-Farisi sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa mereka masih belum ada.

Dua riwayat ini menarik untuk diperhatikan, jika orang yang dimaksud berbuat kerusakan pada masa tersebut belum ada, lantas apakah yang dimaksud pada ayat tersebut adalah kita, manusia modern.

Mengganggu Ekosistem

Berbuat kerusakan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah merubah keseimbangan ekosistem sehingga bisa terganggu. Pertumbuhan gedung-gedung tinggi, dan juga eksploitasi alam, baik diambil pasirnya, logam mulianya, atau eksploitasi hewan-hewan.

Jika itu mengganggu ekosistem maka itu berarti sedang merusak lingkungan, merusak di atas bumi. Lantas, jika orang-orang yang melakukan eksploitasi tersebut menganggap dirinya sedan berbuat baik untuk kepentingan umat manusia.

Seperti meratakan gunung untuk diambil pasirnya, dan pasir tersebut untuk kepentingan pembangunan gedung-gedung. Lalu berujung kepada pemahaman jika meratakan gunung adalah baik karena untuk kepentingan umat manusia.

Jika pemahaman seperti ini dibenarkan, maka ayat diatas sudah menemukan subjeknya, yakni umat manusia yang berbuat kerusakan pada masa sekarang ini. Mereka menganggap kerusakan tersebut sebagai kebaikan.

Puasa dan Pelestarian Lingkungan

Puasa menganjurkan pelakunya untuk berbuat baik, berbuat kebaikan itu tidak dibatasi hanya dengan manusia saja. Tapi harus dipahami jika lingkungan atau alam membutuhkan kebaikan dari manusia. Jika tidak, maka alam akan hancur dengan sendirinya.

Puasa yang mengajarkan kebaikan, maka sudah semestinya diterapkan, bukan hanya kepada manusia saja tapi juga pada lingkungan sekitar. Salah satu cara untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari adalah ketika ingin membeli makanan untuk sahur atau buka, maka kurangi penggunaan wadah plastik sekali pakai.

Dengan begitu maka kita selama berpuasa bisa mengurangi sampah plastik di lingkungan. Kebiasaan selama satu bulan puasa tersebut kemudian menjadi habit sehingga 11 bulan kita juga mau untuk melestarikan alam.

Kemudian menjaga lingkungan, dengan tidak menebang tumbuh-tumbuhan yang bisa menyerap air dalam jumlah banyak. Dengan melakukan hal-hal kecil tersebut, minimal selama 1 bulan penuh maka bumi akan terus lestari hingga nanti terjadinya kiamat.

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 + nine =