HIDAYATUNA.COM – Berjabat tangan merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Nusantara. Kebiasaan ini telah berlangsung lama dan dilakukan diberbagai tempat termasuk ketika selesai shalat berjamaah di masjid. Jabat tangan merupakan ciri masyarakat Nusantara yang identik dengan kelembutan, sopan satun dan ketulusan.

Mengenai jabat tangan Rasulullah SAW bahkan menganjurkannya ketika bertemu dengan sesama muslim. Anjuran ini menjadi salah satu dasar umat muslim Nusantara melakukan jabat tangan. Dari Al Bara’ bin ‘Azib, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya: “Tidaklah dua muslim itu bertemu lantas berjabat tangan melainkan akan diampuni dosa di antara keduanya sebelum berpisah.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmidzi).

Berkaitan dengan ini, lantas bagaimana hukum jabat tangan setelah shalat?. Ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, karena memang tidak ada dalil yang secara khusus menganjurkan ataupun dalil yang melarang. Ada yang mengatakan jabat tangan setelah shalat adalah bid’ah (hal baru). Tapi menurut Imam Nawawi termasuk bid’ah yang diperbolehkan (bid’ah al-mubahah), bahkan disunahkan bila bertujuan untuk silaturahmi. Dalam kumpulan fatwanya, Fatwa Al-Imam An-Nawawi, ia mengatakan,

المصافحة سنة عند التلاقي، وأما تخصيص الناس لها بعد هاتين الصلاتين فمعدود في البدع المباحة (والمختار) أنه إن كان هذا الشخص قد اجتمع هو هو-قبل الصلاة- فهو بدعة مباحة كما قيل، وإن كانا لم يجتمعا فهو مستحب، لأنه ابتداء اللقاء

Artinya: “Jabat tangan disunahkan ketika bertemu. Adapun kebiasaan masyarakat yang mengkhususkan salaman setelah dua shalat (subuh dan ashar) tergolong bid’ah yang diperbolehkan. Dikatakan bid’ah mubah jika orang yang bersalaman sudah bertemu sebelum shalat. Namun jika belum bertemu, maka berjabat tangan disunahkan karena termasuk bagian dari silaturahmi.”

Bahkan beliau berpendapat bersalaman selepas shalat itu bisa jadi hukumnya sunnah. Yaitu jika orang yang disamping kita memang belum bersama kita di awal shalat. Beliau berkata:

وَأَمَّا هَذِهِ الْمُصَافَحَةُ الْمُعْتَادَةُ بَعْدَ صَلَاتَيْ الصُّبْحِ وَالْعَصْرِ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ رحمه الله أَنَّهَا مِنْ الْبِدَعِ الْمُبَاحَةِ وَلَا تُوصَفُ بِكَرَاهَةٍ وَلَا اسْتِحْبَابٍ، وَهَذَا الَّذِي قَالَهُ حَسَنٌ، وَالْمُخْتَارُ أَنْ يُقَالَ: إنْ صَافَحَ مَنْ كَانَ مَعَهُ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَمُبَاحَةٌ كَمَا ذَكَرْنَا، وَإِنْ صَافَحَ مَنْ لَمْ يَكُنْ مَعَهُ قَبْلَهَا فَمُسْتَحَبَّةٌ؛ لِأَنَّ الْمُصَافَحَةَ عِنْدَ اللِّقَاءِ سُنَّةٌ بِالْإِجْمَاعِ لِلْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ فِي ذَلِكَ

Artinya: “Ada pun bersalaman ini, yang dibiasakan setelah dua shalat; subuh dan ‘ashar, maka Asy Syaikh Al Imam Abu Muhammad bin Abdussalam Rahimahullah telah menyebutkan bahwa itu termasuk bid’ah yang boleh yang tidak disifatkan sebagai perbuatan yang dibenci dan tidak pula dianjurkan, dan ini merupakan perkataannya yang bagus. Dan, pandangan yang dipilih bahwa dikatakan; seseorang yang bersalaman (setelah shalat) dengan orang yang bersamanya sejak sebelum shalat maka itu boleh sebagaimana yang telah kami sebutkan, dan jika dia bersalaman dengan orang yang sebelumnya belum bersamanya maka itu sunah, karena bersalaman ketika berjumpa adalah sunah menurut ijma’, sesuai hadits-hadits shahih tentang itu.”

Berjabat tangan tentulah tidak ada jeleknya karena merupakan salah satu wujud mempererat silaturrahim. Berjabat tangan tentulah tidak membutuhkan waktu lama dan tidak mengganggu dzikir yang disunnahkan dilakukan setelah shalat. Meskipun begitu berjabat tangan setelah shalat tidak boleh dianggap sebagai hal wajib. Wallahu a’lam.

Sumber:

  • Fatwa Al-Imam An-Nawawi
  • Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/325