SEOUL, KOREA SELATAN – Dalam sebuah langkah signifikan yang menegaskan komitmennya terhadap dialog dan apresiasi budaya global, Museum Nasional Korea (NMK) secara resmi membuka Galeri Seni Islam Permanen pertamanya. Peresmian galeri ini, yang berlokasi strategis di Lantai Tiga Aula Pameran Permanen, menandai pengakuan mendalam terhadap peradaban Islam di tengah masyarakat Korea yang semakin multikultural.
Langkah monumental ini muncul seiring dengan meningkatnya geliat Islam di Korea Selatan, yang didorong oleh migrasi pekerja asing, mahasiswa internasional, serta pertumbuhan komunitas Muslim lokal. Kehadiran galeri permanen ini dianggap sebagai tonggak sejarah yang mencerminkan kedewasaan budaya Korea dalam merangkul peradaban global dan kebutuhan edukasi publik.
Kolaborasi Megah dengan Qatar
Sebagai pameran debutnya, Galeri Seni Islam menyambut koleksi istimewa dari salah satu institusi seni terkemuka di Timur Tengah: Museum Seni Islam (MIA) di Doha, Qatar. Pameran gabungan khusus ini, bertajuk "Seni Islam: Sebuah Perjalanan Kemegahan" (Islamic Art: A Magnificent Journey), menyajikan 83 karya artefak bersejarah yang luar biasa.
Koleksi yang dipamerkan meliputi rentang waktu yang menakjubkan, mulai dari abad ke-7 hingga abad ke-19, dan melintasi geografi dari Spanyol hingga Asia Tengah. Pameran kolaborasi ini akan memanjakan mata dan pikiran pengunjung selama 11 bulan penuh, dijadwalkan berakhir pada 11 Oktober 2026.
Membimbing Pengunjung Melalui Tiga Pilar Peradaban
Galeri permanen ini dirancang secara tematik untuk memandu pengunjung melalui tiga bagian utama yang menjadi fondasi peradaban Islam:
- 1. Seni Religi: Menghadirkan kekhidmatan spiritual melalui manuskrip Al-Qur'an dan benda-benda ritual seperti lampu masjid serta sajadah, menyoroti seni sebagai ekspresi keimanan.
- 2. Pertukaran Budaya: Menampilkan bagaimana seni Islam berinteraksi dan memengaruhi budaya lain, memberikan kesaksian akan warisan kolektif yang dihasilkan dari perdagangan (termasuk Jalur Sutra) dan migrasi. Artefak seperti keramik dan tekstil menjadi saksi bisu pertukaran lintas benua.
- 3. Seni Keraton Islam dengan Manuskrip: Mengungkap keanggunan dan kemewahan yang berkembang di istana-istana besar, dari Persia hingga Mughal.
"Koleksi dari Doha ini adalah harta karun yang menceritakan evolusi seni dan peradaban Islam selama lebih dari seribu tahun. Ini adalah kesempatan langka bagi masyarakat Korea untuk melihat kedalaman dan keindahan warisan global ini," ujar seorang kurator NMK.
Desain Arsitektur dan Pengalaman Imersif
Pengalaman mengunjungi galeri ditingkatkan oleh desain arsitektur yang cermat. Dengan tata letak segi delapan dan atap kubah, galeri ini secara estetika mencerminkan elemen khas arsitektur Islam, menciptakan suasana yang indah, tenang, dan agung.
Selain benda-benda fisik seperti astrolab (instrumen astronomi), perhiasan, dan tekstil, pengunjung juga disuguhkan pengalaman digital. Replika digital ruangan-ruangan bersejarah terkenal, seperti "Ruang Penerimaan Seorang Bangsawan di Damaskus", memungkinkan pengunjung merasakan nuansa ruang keraton dari jarak dekat, menjembatani kesenjangan waktu dan jarak.
Galeri Sebagai Jembatan Dialog Budaya
Pembukaan Galeri Seni Islam ini melampaui sekadar pameran artefak. Ia menjadi katalisator penting bagi dialog budaya, membantu melawan stereotip, dan mendorong apresiasi mendalam. Galeri ini secara formal mengakui sejarah pertukaran yang telah lama terjalin antara Korea dan Dunia Islam melalui perdagangan dan ilmu pengetahuan.
Melalui penekanan pada bagian "Pertukaran Budaya," NMK berupaya membongkar narasi sempit dan menunjukkan bagaimana ide, teknologi, dan desain dari dunia Islam menyebar dan memengaruhi berbagai peradaban lain, termasuk yang mencapai Semenanjung Korea.
Dengan demikian, pembukaan Galeri Seni Islam di NMK bukan hanya penambahan koleksi museum, melainkan bukti nyata pengakuan dan investasi jangka panjang Korea Selatan pada edukasi dan multikulturalisme, memposisikan Seoul sebagai simpul penting dalam jaringan dialog budaya global.