Berita Hoax Dalam Potret Sejarah Islam

 Berita Hoax Dalam Potret Sejarah Islam
Digiqole ad

Oleh: Mj. Ja’far Shodiq (Alumni Ponpes Kyai Parak Bambu Runcing)

HIDAYATUNA.COM Maraknya berita hoax (bohong) yang melanda dunia media sosial (medsos) saat ini bukanlah hal baru. Dalam catatan perjalanan sejarah pun banyak diisi oleh cerita-cerita yang terbukti hoax di kemudian hari. Mulai dari berita hoax serius yang dapat mempertaruhkan dan bahkan mengorbankan ribuan nyawa hingga berita hoax sepele yang sekedar menggelikan para pembaca atau pendengar sebuah kisah.

Dalam Islam, berita hoax sudah terjadi sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Seperti sebuah riwayat yang menceritakan tentang siti ‘Aisyah r.a, istri Nabi Muhammad yang difitnah selingkuh dengan seorang sahabat saat perjalanan pulang seusai perang. Waktu itu, siti ‘Aisyah r.a, tertinggal dari rombongannya karena sibuk mencari kalungnya yang jatuh di sekitar tenda. Untunglah ada sahabat yang bernama Shafwan bin Mu’athal bertugas dibarisan belakang rombongan perang kaum muslimin yang menemukannya sendirian. Shofwan memberi tunggangan kepada siti ‘Aisyah dan ia sendiri berjalan kaki sambil menuntunnya.

Keduanya berhasil menyusul rombongan, dan ketika orang-orang melihat keduanya, muncullah desas desus terjadi. Berita fitnah bahwa ‘Aisyah selingkuh dengan Shafwan disebarkan oleh kaum munafikin bersama tokohnya yaitu Abdullah bin Ubay bin Salul. Bahkan kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Nabi Muhammad. Sikap Nabi Muhammad pun berubah kepada siti ‘Aisyah karena cemburu serta diselimuti rasa kebimbangan akan kabar yang tersebar. Sampai-sampai siti ‘Aisyah menggambarkan sikap suaminya tersebut dalam ungkapannya “Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi SAW seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,”Bagaimana keadaanmu,” kemudian pergi,” kata Siti Aisyah yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.

Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai waktu satu bulan lamanya. Dan selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Rasulullah yaitu Surat An-Nur ayat 11-26 yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Ketika zaman Khulafaurrashidin, berita hoax pun menyebabkan perpecahan dikalangan kaum muslimin. Betapa dahsyatnya ketika kepemimpina khalifah Usman bin Affan sampai-sampai seorang sahabat tega membunuhnya karena termakan berita hoax yang menyatakan bahwa Khalifah Usman membuat surat untuk membunuh sebuah rombongan dari Mesir yang mengadu kepada beliau, padahal surat tersebut tidak pernah beliau buat.

Begitu juga kisah Ali bin Abu Thalib yang dibunuh oleh seorang sahabat yang terkena doktirn berita hoax yang menyatakan sayyidina Ali sebagai khalifah tidak bisa menegakkan hukum Allah . Sahabat tersebut adalah Abdullah bin Muljam yang terkenal alim dalam beribadah. Akibat kabar tersebut, Abdurrahman bin Muljam tiba-tiba benci setengah mati kepada sayyidina Ali dan berani membunuhnya karena baginya membunuh Ali merupakan jalan jihad untuk menegakkan hukum Allah. Bisa kita bayangkan betapa mudahnya membuat kerusakan (ke-fasadan) dengan dalil pembenaran melakukan perbuatan itu menggunakan dalil Al-Quran disertai  semangat jihad yang salah akibat berita hoax atau fitnah.

Pasca kepemimpinan Khulafaurrasyidin, produksi berita hoax tidaklah berhenti, justru semakin besar. Kita tahu pada masa ini bertebaran hadits-hadits palsu yang dibuat sebagai alat legitimasi dan pembenaran setiap prilaku kelompok yang berkpentingan. Baik itu dalam persoalan politik, keyakinan, perbedaan pandangan, keilmuan, bahasa, madzhab maupun identitas ke-sukuan. Boleh jadi hal inilah yang mendorong Umar Ibn Aziz, Khalifah pada masa Bani Umayah melaksanakan proyek pengumpulan dan penyeleksian hadits agar dapat dipisahkan mana hadis yang palsu (produksi hoax) dan mana hadits yang benar-benar berasal dari Nabi Muhammad SAW.

Dari kisah-kisah yang telah dipaparkan diatas, betapa sangat dahsyatnya perpecahan diantara kaum muslimin yang diakibatkan karena berita hoax yang diyakini sebagai kebenaran. Oleh karena itu, hidup di era teknologi yang tinggi dan di tengah gencarnya media sosial dengan berita yang setiap detik saling bermunculan, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bijak dalam menanggapi kabar yang belum tentu benar adanya. Paling tidak, apapun kabar yang kita peroleh hendaknya kita tabayyun (Konfirmasi) sehingga kebenaran berita tersebut bisa dipertanggungjawabkan. Apabila kita tidak mampu untuk melakukan tabayyun, karena disebabkan berbagai hal seperti jarak yang jauh serta tidak mengerti terhadap kejadian yang diberitakan, maka dengan tidak menyebarkan berita tersebut sikap kita sudah merupakan tabayyun itu sendiri.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 + 2 =