Berita Bohong (Hoax) dalam Al-Qur’an dan Bagaimana Menyikapinya?

 Berita Bohong (Hoax) dalam Al-Qur’an dan Bagaimana Menyikapinya?

Berita Bohong (Hoax) dalam Al-Qur’an

Oleh: Muchamad Mufid

إنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ [۱۱] لَّوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفْكٌ مُّبِينٌ [۱۲]

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”  (Q.S. An-Nur:11-12)

Ayat ini diturunkan berkaitan dengan perang Bani Musthaliq yang terjadi bulan Sya’ban tahun kelima Hijriyah. Sebuah komentar terhadap pemberitaan bohong yang menimpa Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah ra. dengan tuduhan berbuat zina. Dalam kisah Sayyidah Aisyah ra. yang diriwayatkan Imam Bukhari seorang yang menyebarkan kedustaan tersebut adalah Abdullah bin Ubay bin Salul.

Dalam Tafsir Jalalayn penyebar berita bohong tersebut adalah Abdullah bin Ubay, Hissan bin Tsabit, Misthah, dan Hamnah bin Jahsy. Padahal mereka itu adalah juga merupakan orang-orang yang menisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw. (memeluk agama Islam). Mereka menuduh Sayyidah Aisyah ra. melakukan zina dengan salah seorang sahabat bernama Shafwan bin al-Mu’aththal as Sulami adz-Dzakwaniy yang justru mendapati Ummul Mukminin tertinggal pasukan.

Suatu hal yang diajarkan Allah Swt. dalam ayat 11 di atas adalah berita bohong merupakan kebaikan bagi golongan Nabi. Sampai Allah Swt. sendiri yang melarang untuk beranggapan bahwa berita bohong adalah keburukan bagi Nabi. Kebaikan tersebut adalah sangat jelas perbedaan orang-orang yang mukmin dengan sebenar-benarnya dengan orang yang munafik (dalam ungkapan lain sering disebut juga fasik).

Walaupun dalam penegasan berikutnya bagi setiap orang yang menyebarkan kebohongan mendapat balasan dosa. Terlebih siapa diantara yang mengabil bagian terbesar (pertama kali pembuat berita bohong) mendapat adab yang besar. Hal ini merupakan sebuah ultimatum bagi semua orang yang menisbatkan dirinya kepada Nabi Muhammad Saw. (memeluk agama Islam) supaya berhati-hati dalam menyampaikan kebenaran.

Jangan sampai seorang mukmin menyebarkan fitnah yang dalam Al-Qur’an disebut bahwa fitnah lebih besar daripada pembunuhan. Hal tersebut tertuang dalam surah Al-Baqarah 191:

وَٱلْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلْقَتْلِ  : Dan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Dalam sebuah hadits perkataan yang baik (kejujuran) dikaitkan dengan keimanan seseorang.

                                                  عن أبي هريرة -رضي الله عنه- مرفوعاً: «من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرًا أو ليصْمُت

Dari Abu Hurairah ra. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir‎ hendaklah berkata yang baik atau diam.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Disadari atau tidak di zaman sekarang ini banyak sekali berita bohong (hoax) yang bertebaran dimana-mana. Baik di dunia maya, medsos, bahkan sampai grup rumpi emak-emak ada saja hoax yang beredar. Bisa dibayangkan betapa tak terhitungnya hoax hari ini sehingga kebenaran semakin terlihat kabur.

Justru terkadang hoax disebar bertujuan untuk kepetingan politik, dagang, popularitas, kecemburuan sosial, sampai urusan terkecil di lingkup keluarga. Lantas bagaimana seorang mukmin sejati seharusnya menyikapi hoax yang beredar? Jawaban tersebut terdapat dalam surah An-Nur ayat 12 di atas:

لَّوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُواْ هَٰذَآ إِفْكٌ مُّبِينٌ [۱۲]

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”

Dari ayat ini sungguh sebuah pelajaran berharga bagi setiap mukmin. Kembalikanlah segala berita yang diterima kepada diri sendiri untuk menilai kebenaran tersebut. Paling tidak memastikan berita yang diterima memang benar adanya atau justru sebuah kebohongan yang nyata.

Dengan adanya teknologi informasi yang begitu maju, perputaran informasi pun semakin cepat. Seseorang bisa dengan tanpa sadar membagian sebuah informasi yang baru hanya dilihat judulnya. Adapun isinya jangankan dicermati dan dicari kebenarannya, dibacapun terkadang tidak.

Jika setiap mukmin di zaman sekarang mau mengikuti risalah yang dibawa Nabi Muhammad Saw. terkait ayat di atas, maka berita bohong akan terhindarkan. Jika seseorang mendapati sebuah berita bohong di sekelilingnya maka cukuplah berita tersebut sampai padanya. Sehingga berita bohong tersebut tidak sampai menyebar luas. Dengan sendirinya berita bohong tersebut akan hilang dan kebenaranlah yang akan segera nampak.

Wallahu a’lam.


Alumni S2 PAI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Ustadz di TPQ Roudhotut Tholibin Karangsari Kebumen

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

11 − 4 =