Berbahasa Sunda Pegon, Ini Khutbah KH. Hasyim Asy’ari di Majalah Era Jepang

 Berbahasa Sunda Pegon, Ini Khutbah KH. Hasyim Asy’ari di Majalah Era Jepang

Berbahasa Sunda Pegon, Ini Khutbah Kh. Hasyim Asy’ari di Majalah Era Jepang


HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Baru baru ini ahli filologi Islam dan juga dosen magister Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Jakarta, Ahmad Ginanjar Sya’ban membeberkan sebuah manuskrip kuno tentang khutbah ulama besar Nusantara, KH. Hasyim Asy’ari berbahasa Sunda Pegon yang dimuat di majalah “al-Syu’lah”. Yakni sebuah majalah yang terbit di era penjajahan Jepang.

Dilansir Hidayatuna.com dari akun Facebooknya, Kamis (9/7/2020), Ginanjar menjelaskan perihal khutbah KH. Hasyim Asy’ari yang dimuat di Majalah al-Syu’lah.

“Berikut ini adalah penggalan khutbah Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam versi terjemahan bahasa Sunda aksara Arab (Sunda Pegon) yang termuat dalam majalah “al-Syu’lah” edisi 1 Rajab 1363 Hijri (bertepatan dengan 1 Juli tahun Jepang 2604 atau tahun Masehi 1944), nomor 5 tahun 1,” tulis Ginanjar.

Ginanjar menjelaskan, Majalah “al-Syu’lah” merupakan majalah berbahasa Sunda Pegon yang terbit pada zaman pendudukan Jepang yang penerbitannya dikeluarkan oleh “Gunseikanbu Shumubu” (Departemen Agama Pemerintahan Balatentara Jepang).

“Di halaman terakhir majalah, terdapat keterangan pencetaknya adalah Gun-Kanetsu-Han yang beralamat di Pemandangan, Jakarta,” sambungnya.

Menurut Ginanjar, khutbah KH. Hasyim Asy’ari dalam bahasa Sunda Pegon ini termuat secara lengkap dalam 3 lembar halaman (hal. 16-18). Tertulis dalam pembukaan khutbah:

(Biantarana sesepuh agung Masyumi// Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dina patemon ulama di sakawilayah/ Jawa Tengah tanggal 25 Juni 2604 di Solo [Khutbah sesepuh besar Masyumi Kiyai Haji Hasyim Asy’ari dalam pertemuan ulama seluruh wilayah Jawa Tengah tanggal 25 Juni 22604 di Solo])

Setelah membuka dengan basmalah, hamdalah dan shalawat dalam bahasa Arab, Hadratus Syaikh kemudian mengatakan dalam bahasa Sunda:

(Kalayan asmana Allah anu mikaasih sarta mikanyaah. Sagala puji eta kagungan Allah Gusti nu murbeng alam. Rahmat jeung kabagjaan ka jungjungan urang Nabi agung Muhammad SAW jeung sakabeh kulawargana sarta ka para sahabatna [Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. Segala puji milik Allah yang menguasai alam raya. Rahmat dan kebahagiaan tercurah untuk jungjungan kita Nabi agung Muhammad SAW beserta semua keluarga dan para sahabatnya])

(Sim kuring nyanggakeun ka para juragan sadaya syukur sarta ucapan wilujeng sumping tina kasatiaan para juragan nu parantos sami kersa ngabulkeun ondangan pikeun ngahadiran ieu patemon [Saya menghaturkan kepada para tuan semua rasa syukur (terima kasih) dan ucapan selamat datang atas kesetiaan para tuan yang sudah berkenan memenuhi undangan guna menghadiri pertemuan ini])

“Saya menjumpai majalah “al-Syu’lah” edisi nomor 5 tahun 1 di rumah Ajengan Ahmad Muhibbuddin Mu’thi Abdul Mu’ty, keluarga pengasuh pesantren Nurul Fata, Cikondang, Sukabumi,” kata Ginanjar.

Teks khutbah berbahasa Sunda di atas lanjut dia, sejatinya adalah terjemahan dari teks asli yang ditulis dalam bahasa Arab dan disampaikan dalam rapat pertemuan para ulama Jawa Tengah yang diadakan di kota Solo pada 25 Juni 1944. Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari menyampaikan khutbah tersebut dalam kapasitasnya sebagai pucuk pimpinan tertinggi umat Muslim Indonesia.

Teks asli berbahasa Arab khutbah di atas dimuat dalam majalah “Soeara Moeslimin Indonesia” edisi Rajab 1363 Hijri (Juli tahun Jepang 2604 atau 1944 tahun Masehi). “Soeara Moeslimin Indonesia” adalah majalah berbahasa Melayu-Indonesia beraksara Latin (di dalamnya terdapat sisipan bahasa Jepang dan bahasa Arab) yang diterbitkan oleh “Madjelis Sjoero Moeslimin Indonesia” (Masjoemi).

“Dalam majalah “Soeara Moeslimin Indonesia”, pidato asli berbahasa Arab Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari tersebut termuat secara lengkap dalam dua halaman (hal 2-3),” tandasnya.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2 × two =