Kajian

Beragama dan Pusaran Provokasi Simbol

Oleh: Didi Manarul Hadi

HIDAYATUNA.COM – Menurut Berger, “simbol keagamaan selalu berada pada puncak gunung dari peristiwa bersejarah, legenda-legenda dan sebagainya, juga memiliki kekuatan untuk mengarahkan pikiran manusia”. Pada dasarnya manusia memang tidak bisa lepas dari adanya simbol, karena sejatinya simbol inilah yang menjadikan manusia mengenal alam semesta dengan segala isinya, yaitu berupa tanda atau nama dari sebuah esensi benda yang mengisi alam semesta. Bahkan, manusia yang lahir di zaman sekarang bisa mengetahui sejarah orang-orang terdahulu salah-satunya yaitu dengan menggunnakan simbol-simbol yang ditinggalkan oleh orang-orang terdahulu.

Akan tetapi, dengan adanya simbol terkadang manusia tertipu dan terjerumus pada teka-teki yang keliru, yaitu penyalahgunaan memaknai simbol sebagai makna yang universal dan kaku. Padahal, menurut  Jary and Jary, bahwa makna dari sebuah simbol tidak selamanya mengandung makna universal, tetapi pemaknaan terhadap simbol akan tergantung pada komunitas masyarakat dimana simbol tersebut digunakan. Sepertihalnya simbol agama yang seringkali menjadi pemicu provokasi pemecah belah bangsa dan tindakan persekusi.

Banyak sekali fenomena provokasi yang terjadi disebabkan karena adanya simbol keagamaan, salahsatunya peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia yang mempersoalkan logo hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-75, hanya karena sedikit menyerupai salib yang itu merupakan simbol dari agama kristiani.

Selain itu, sebelumnya juga banyak provokasi-provokasi yang dilakukan hanya gara-gara simbol keagamaan, seperti lambang palu arit yang identik dengan PKI, pohon beringin yang identik dengan natal, masjid berarsitektur segitiga yang disamakan dengan lambang illuminati dan lain sebagainya. Itulah yang dimaksud dengan kekeliruan dalam menggunakan pemaknaan simbol, yang penyebabnya adalah karena pemaknaan simbol secara universal dan kaku.

Selain itu, simbol keagamaan seringkali disalahpahami interpretasianya dalam praktek dan perilaku dari ajaran agama itu sendiri, yaitu menjadikan ajaran agama hanya sebatas simbolik semata. Sehingga banyak orang yang memahami agama hanya dari kulitnya saja dan tidak menginterpretasikannya kepada esensi atau nilai dari ajaran agama tersebut.

Baca Juga :  Membedah Makna Terbelenggunya Setan Pada Bulan Ramadhan

Perilaku beragama seperti inilah yang pada akhirnya menjadikan agama itu sebagai sesuatu yang kaku dan beku, yaitu mejadikan simbol keagamaan sebagai sumber tekstual yang berupa doktrin permanen yang tidak bisa diubah kedalam berbagai penafsiran. Padahal simbol keagamaan tidak bisa dikonsumsi secara mentah, melainkan perlu adanya interpretasi dari simbol tersebut untuk mengambil sebuah esensi dari agama yang dijadikan sebagai pemahaman beragama seseorang.

Keberhasilan para ulama terdahulu dalam mengembangkan Islam ke nusantara tiada lain karena mampu menginterpretasikan simbol agama kedalam budaya nusantara, sehingga terjadilah sebuah konstruk keagamaan yang dinamis dan mampu memberikan sebuah nilai atau esensi dari agama itu sendiri kepada berbagai lapisan masyarakat nusantara.

Syekh Maulana Makdum Ibrahim atau yang dikenal dengan Sunan Bonang salahsatunya yang mampu mengenalkan Islam melalui seni kebudayaan jawa yaitu gamelan, sedikit demi sedikit nilai-nilai ajaran agama dimasukkan dalam tembang-tembang jawa dan sekilas memperkenalkan agama Islam melalui cerita-cerita sederhna, sehingga masyarakat nusantara pada waktu banyak yang tertarik dan berbondong-bondong mengikuti ajaran Sunan Bonang.

Pada intinya para ulama dulu yang menyebarkan agama Islam ke nusantara atau yang lebih dikenal dengan wali songo tidak mengajarkan agama secara kaku, ia mampu berbaur dengan budaya nusantara dan bahkan tidak menghancurkan agama atau kepercayaan terdahulu yang ada di nusantara dengan mempersoalkan simbol-simbol keagamaan atau kepercayaan.

Andaisaja wali songo mempersoalkan simbol-simbol ke-agamaan yang ada pada waktu itu, maka Islam tidak akan sebesar ini, terlebih nilai-nilai agama yang diajarkan sangat mempengaruhi dan membangun watak peradaban bangsa Indonesia, yaitu nilai-nilai Islam yang ramah, damai, penuh cinta dan kasih sayang.

Salahsatu bukti peninggalan wali songo yang mencerminkan sebuah interpretasi simbol kedalam budaya dan corak nusantara adalah majid menara kudus, yang bangunannya mirip seperti bangunan tempat peribadahan agama hindu, ini menandakan bahwa Sunan Kudus tidak mempersoalkan simbol keagamaan atau dengan pemaknaan simbol yang kaku dan universal, melainkan memperhatikan interpretasi dan esensi dari sebuah simbol keagamaan.

Baca Juga :  Gus Dur, Sepakbola, dan Seni Memimpin Indonesia

Kisah ulama terdahulu ini bisa menjadikan sebuah refleksi atau pembelajaran yang patut kita tauladani sebagai umat beragama hususnya agama Islam harus mampu menginterpretasikan simbol keagamaan kedalam berbagai aspek kehidupan serta tidak memahami simbol agama secara kaku, apalagi dengan adanya simbol keagamaan malah menghilangkan esensi atau nilai dari ajaran agama itu sendiri, sehingga menjadikan provokasi, menebar kebencian dan permusuhan diantara umat beragama.

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close