Cancel Preloader

Guru Zaini, Sosok Ulama Pecinta Nabi yang Gemar Bersalawat

 Guru Zaini, Sosok Ulama Pecinta Nabi yang Gemar Bersalawat

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Kewajiban mencintai Nabi SAW sudah tentu berlaku bagi setiap muslim tanpa terkecuali, mulai dari anak kecil hingga lanjut usia. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam sebuah qasidah.

Makna qasidah tersebut, “Mencintai Nabi bagi manusia adalah wajib dan mencintai sahabat-sahabatnya adalah cahaya dengan petunjuk.”

Perihal cinta, esensi dari sebuah cinta adalah bentuk kebaikan. Seseorang yang merasakan hadirnya cinta dalam jiwanya pada hakikatnya dia menyadari atas ketidaksempurnaan dirinya sehingga membutuhkan objek yang dicinta untuk menyempurnakannya.

Tumbuhnya kesadaran akan cinta, sudah semestinya diimplementasikan dalam kecintaan kepada Nabi karena sungguh Nabi Muhammad SAW-lah yang pantas kita cintai bahkan melebihi kecintaan terhadap diri sendiri.

Sosok Pengenal Nabi

Di wilayah Kalimantan Selatan, sosok Guru Zaini atau yang lebih akrab dengan panggilan Abah Guru Sekumpul tentunya sudah tidak asing lagi bagi kaum muslim.

Pasalnya, sang ulama tersebut bagaikan lentera yang menerangi umat melalui cintanya kepada Nabi Muhammad. Majelis salawat teramai dengan ribuan jamaahnya berhasil mencuri perhatian jutaan orang untuk datang ke Sekumpul.

Figur kharismatik dengan pancaran ketenangan jiwa di wajahnya merupakan sosok yang tak akan terlupakan di hati para jamaahnya. Hal tersebut ditunjukkan setiap kali diadakan peringatan haulnya, lautan manusia berkumpul mendoakan dan berharap barokahnya.

Keistiqomahannya dalam mengajarkan umat untuk cinta kepada Nabi Muhammad beliau tunjukkan dengan keteladanan. Kelembutan perangainya, kesederhanaan hidupnya bahkan keluhuran akhlaknya tak lepas dari kehidupan sehari-harinya.

Tak aneh jika setiap orang yang pernah berjumpa dengan beliau, merasa sangat segan dan menghormatinya dengan penuh penghormatan.

Panutan Umat

Guru Zaini merupakan sosok yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu dan dakwah. Kisah hidup di masa kecil dalam pengembaraan ilmunya sangat pantas dipelajari bagi generasi muda islam saat ini.

Kondisi prihatinnya menuntut ilmu di tengah situasi keluarganya yang tak begitu mampu, kiranya menjadi teladan bagi para santri agar jangan menyerah dengan keadaan. Keteguhan, kesabaran dan ketawakkalannya menjadi bukti keberhasilannya sebagai seorang panutan.

Guru Zaini telah mengajarkan bagaimana caranya rindu kepada Nabi. Bait-bait qasidah yang selalu beliau lantunkan di tengah majelisnya, dengan kemerduan dan kekhidmatannya seakan mengetuk jutaan hati yang kemudian mengundang air mata saking cintanya kepada Al-Musthofa.

Hingga kini, umat masih merindukan sosok seperti beliau. Sang penyeru sejati yang mengajarkan pentingnya cinta kepada Nabi. Buktinya, peringatan haul di Sekumpul pada tiap tahunnya banyak dihadiri jutaan orang, baik dari dalam maupun luar negeri.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, peringatan haul tersebut tak dilaksanakan di tahun ini. Meski mengundang kekecewaan para jamaah, tentunya banyak pelajaran yang dapat kita ambil di tengah keadaan yang serba gundah.

Kiranya, meskipun tidak seperti biasanya, hendaknya teladan Guru Zaini dapat kita ambil dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun kondisinya.

Cinta Kepada Nabi dan Ahli Bait-nya

Kecintaan Guru Zaini kepada Nabi Muhammad SAW dan dzurriyah-nya tak bisa diragukan lagi. Sikap penghormatan dan pengangungan tersebut yang kemudian menjadi alasan beliau sangat dicintai para Habaib.

Hal itu merupakan poin utama yang beliau ajarkan kepada para jamaahnya. Yaitu cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan ahli baitnya.

Sebagaimana sabda Nabi SAW dalam salah satu hadisnya, “Cintai Allah sebab berbagai nikmat yang Dia karuniakan kepada kalian, dan cintailah aku karena kecintaan kalian kepada Allah. Serta cintailah ahli baitku karena kecintaan kalian kepadaku”

Tak ada kerugian kita mencintai baginda Nabi, sesempurna makhluk yang terjaga dari aib dan kesalahan. Tiak pula rugi kita bersalawat pada Nabi, yang kehadirannya bak mutiara diantara batu-batu.

Bahkan sungguh beruntunglah kita ditakdirkan menjadi umatnya Nabi, yang justru didambakan oleh para Nabi terdahulu. Semoga seiring berjalannya waktu kita dapat makin sempurna mencintai Nabi, hingga diakui sebagai umatnya Nabi dan kelak mendapat syafaatnya Baginda Nabi Muhammad SAW di hari nanti.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × 3 =