Belajar dari Anak Gugat Ibu Kandung karena Warisan

 Belajar dari Anak Gugat Ibu Kandung karena Warisan

Anak Gugat Ibu Kandung Gara-gara Warisan (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Belakangan ini beredar berita menyesakkan dada yang mengguncang dunia maya. Kasus mentereng ihwal “seorang anak yang menggugat ibu kandungnya” yang berlokasi di Aceh lantaran harta warisan. Tidak hanya gugatan atas warisan berupa tanah seluas 894 meter dengan sebuah rumah tiga tingkat, sang anak diketahui juga menuntut kerugian materil dan imateril sejumlah 700 juta rupiah.  

Saya tidak ingin menyorot lebih dalam bagaimana duduk perkara gugatan yang terjadi. Di satu sisi, mungkin akan menyatakan sepihak pada barisan yang bakal membela sang anak, dan beberapa lainnya mungkin membela pada garis sang ibu. Itu sangat mungkin terjadi. 

Alangkah baiknya jika misal segala persoalan yang kita hadapi dapat dipetik hikmah untuk kehidupan lebih baik di masa mendatang. Bukankah mengambil sisi-sisi yang baik nan positif jauh lebih baik daripada menyoroti sisi negatif yang muncul darinya? 

Perebutan Warisan Mengarah pada Penindasan

Sengketa warisan laiknya lagu lama yang kembali bertabuh dan kembali terdengar gaduhnya. Perlu diakui, memang bukan menjadi hal baru dan dapat menimpa siapa saja. Ketika perebutan warisan telah terjadi, gelap mata akan mengemuka dan pasti tidak pandang bulu, siapa pun itu.

Entah itu saudara maupun kerabat terdekat, bahkan termasuk pada orangtuanya sendiri, dan ini tak terelakkan lagi. Padahal teramat jelas status quo orangtua adalah orang yang memang merawat, mendidik, menyayangi dll sedari kecil hingga besarnya.

Diktum Homo Homini Lupus yang memiliki arti “manusia adalah serigala bagi sesamanya”. Diktum yang digelorakan seorang filsuf pesimistis kebangsaan Inggris Thomas Hobbes menemukan momentumnya di sini. Spesies manusia yang memiliki kecenderungan suka mengelabui, saling tikam-terkam, dan tindakan kekejaman lain yang mengarah pada penindasan manusia sesamanya. 

Diakui atau tidak, selain memiliki kecenderungan pada hal-hal baik, tidak bisa dihindari manusia pun memiliki potensi pada kecenderungan untuk melakukan hal-hal buruk. Tindakan saling tikam, membunuh dan dibunuh, mengelabui dan dikelabuhi merupakan satu paket kehidupan yang mewarnai tindak-tanduk manusia.  

Dalam konteks ini, seorang anak menggugat sang ibu merupakan hal lumrah. Siapa pun dapat melakukan hal itu dan mungkin dapat dikatakan merupakan bentuk lain dari serigala itu. Kapan pun bisa saja mencabik manusia lainnya. 

Menggugat Ibu di Zaman Rasul

Dari sekelumit kejadian di muka, mengingatkan kembali pada kitab al-Qiraah al-Rasyidah juz 4. Di lingkungan pondok dikenal dengan pelajaran Muthala’ah yang mengacu pada salah satu tajuknya “Ma Jazaau al-Waalid Min Waladihi”. Sebuah kisah yang terinspirasi dan diangkat dari hadis yang mengisahkan kejadian yang hampir sama persis dengan kasus di awal. 

Siapa sangka kasus serupa juga pernah terjadi di zaman nabi dahulu. Sedikit bercerita, kisah ini juga disitir dari kitab yang tadi. Syahdan, seorang pemuda datang untuk mengadu pada nabi terkait ayahnya. “Wahai nabi, sesungguhnya Ayahku telah mengambil hartaku” “Pergilah dan datanglah kembali dengan ayahmu,” pinta nabi Saw.  

Hingga akhirnya sang anak benar-benar datang bersama dengan ayahnya, dan Nabi menanyakan ihwal kebenaran atas apa yang digugat sang anak. “Apa benar kau telah mengambil harta anakmu?” Tanya nabi.

Sang ayah itu pun memberi jawaban panjang lebar ihwal apa yang terjadi, mulai dari keluh kesah, perjuangan dalam mendidik, menafkahi. Hingga merawat si anak di kala sakit, dan segala bentuk perjuangan lainnya yang tak kalah melelahkan dalam merawatnya. (lebih lanjut, hal. 11-12) 

Namun apa yang terjadi setelah perbincangan panjang lebar tersebut, sungguh teramat adiluhung akhlak nabi yang terejawantah dalam sikap dan pernyataannya  atas peristiwa ini. Begini jawaban beliau saw, “anta wa maaluka li abika” yang memiliki arti, “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu”.  

Intinya baik dari kisah dan kejadian tadi memiliki keterhubungan “seorang anak menggugat orangtua”. Kembali pada jawaban Rasul saw, tidak berlebihan jika mengatakan seorang dan segala hal yang dimilikinya adalah milik bapakmu (termasuk juga ibu).

Apa tidak cukup bagaimana seorang ibu menanggung beban mengandung selama 9 bulan. Tidak berhenti di situ, melahirkan juga mempertaruhkan nyawa untuk mengeluarkan bayi yang dinanti-idamkannya. ahkan sedari tidak mengetahui apa-apa, dirawatnya, dididik, dicinta-kasih-sayangi dan ibu tetap kokoh tersenyum meski lelah-letih menghinggapi tubuhnya.

Jangan Sakiti Ibumu!

Jika mengacu pada dalil-dalil teologis, Alquran bahkan menyandingkan kebaktian orangtua sebagai wasilah memperoleh ridha Allah. Dalam suatu redaksi menyebut “jangan sesekali mengatakan ahh” (QS. Al-Isra’ ayat 23), dan dalam diktum hadis pun demikian memiliki ragam pernyataan yang senada.

Berucap “ahh” saja dilarang, apalagi tindakan lainnya yang berpotensi menyakiti hati ibu atau orangtua. Sungguh tidak lah berlebihan Jika ada yang mengatakan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”. Perlu diakui, seorang ibu mampu mendidik dan merawat 3 hingga 10 anak lebih sekaligus. Tetapi 3 anak bahkan 10 anak sekalipun belum tentu mampu merawat seorang ibu di usia senjanya. 

Apa pun persoalan yang menimpa, sebesar apapun guratan luka yang tergores, bahkan sedahsyat apapun polemik yang terjadi antara orangtua dan anak. Seorang anak yang menjadi pejabat bahkan raja maupun ratu sekalipun, tetaplah ada seorang ibu dan ayah yang tulus menyayangi dan membesarkannya. Apalah mereka tanpa pengorbanan orangtua. 

Ukuran kasih sayang tidak dapat ditukar dengan uang. Untuk Anda yang bertakdir membaca tulisan ini, mari sedikit bertanya sudahkah berbuat baik nan berbakti pada orangtua? Orangtua tidak membutuhkan jumlah nominal yang diberikan.

Akan tetapi kebaktian dan penghormatan pada orangtua jauh lebih bernilai dan berharga di mata mereka. Kita yang hebat sekarang karena ada orangtua yang membesarkan. 

Selagi mereka masih ada, mari berbakti dengan harap memperoleh ridhaNya. Bagi yang telah tiada, semoga diberikan yang tempat terbaik di sisiNya. 

Wallahu A’lam bi al-shawab 

اللهم اغفر لنا ذنوبنا و ذنوب والدينا وارحمهما كما ربينا صغيرا 

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

8 − 1 =