Cancel Preloader

Ahmad Dahlan

Belajar dari 7 Falsafah KH. Ahmad Dahlan

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Sosok KH Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis tidak lepas dari perjalanan panjang dari salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Muhammadiyah. Dalam sejarah perjuangan yang dilalui, dakwahnya memang tidak tertulis. Akan tetapi, dalam perjalan dirinya, ada salah satu muridnya, yakni KRH Hadjid.

KRH Hajid mengaku dirinya telah berguru kepada KH Ahmad Dahlan sudah enam tahun. Dalam rentang waktu tersebut, banyak pelajaran yang diambil olehnya. Akan tetapi, 7 pelajaran hidup yang diajarkan oleh KH Ahmad Dahlan ini menjadi pengingat dirinya serta disebutnya sebagai falsafah hidup.

7 Falsafah Hidup KH Ahmad Dahlan

1. Kita manusia ini hidup di dunia hanya sekali untuk bertaruh sesudah mati akan mendapat kebahagiaan atau kesengsaraan?

Kalimat ini merupakan plihan bagi setiap manusia yang hidup. Tentu untuk mendapatkan kebahagiaan setelah mati harus dibekali hidup yang bermanfaat di dunia. Hal yang harus kita ingat bahwa hidup di dunia hanyalah sementara. Maka dari itu, kita harus benar-benar berfikir apa yang harus dibawa ketika kita mati.

2. Kebanyakan diantara manusia berwatak angkuh dan takabur, mereka mengambil keputusan sendiri-sendiri

Hidup dalam lingkup sosial membuat kita harus berfikir bahwa tanpa manusia lain kita tidak bisa melakukan apapun sendiri. Bahkan ketika kita melakukan semuanya sendiri bukan berarti kita benar-benar melakukan sendiri. Sedikit banyak, orang lain justru membantu sebagai perantara keberhasilan pekerjaanmu. Termasuk ketika kita dirundung permasalahan, problem, untuk memperoleh jalan keluar, kita benar-benar butuh saran dan masukan dari orang yang tepat.

Maka dari itu, seyogyanya janganlah kita memiliki sikap takabbur dengan mengambil sebuah keputusan sendiri. Sebab kita hanyalah manusia yang memiliki kemampuan terbatas. Kita sangat membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalah, berdiskusi dengan orang lain, dengan mereka yang ahli dalam masalah tertentu yang sedang kita hadapi.

3. Manusia itu kalau mengerjakan pekerjaan apapun sekali, dua kali, berulang-ulang, maka kemudian menjadi biasa.

Inilah yang kita namakan proses. Diantara kita pasti memiliki impian, cita-cita. namun, tidak sedikit yang menikmati proses. Padahal untuk mencapai tujuan yang kita inginkan, kita harus melalui berbagai tahap, dan proses tersebut tidak bisa instan.

Bukankah sesuatu yang luar biasa berawal dari biasa. Maka dari itu, perlunya kita merenungkan falsafah ini supaya kita benar-benar menikmati proses yang ada untuk menjadi luar biasa.

4. Manusia perlu digolongkan menjadi satu dalam kebenaran, harus bersama-sama mempergunakan akal pikirannya, untuk memikirkan, bagaimana sebenarnya hakikat dan tujuan manusia hidup di dunia.

Belajar bersama untuk memaknai hidup, mengkaji ilmu agama senantiasa membuat kita benar-benar memahami berbagai perbedaan yang ada.

5. Setelah manusia mendengarkan fatwa bermacam-macam, membaca beberapa buku, dan sesudah mendiskusikan, memikir-mikir, menimbang-nimbang, membanding-banding kesana kemari, barulah mereka itu dapat memperoleh keputusan, memperoleh kebenaran yang sesungguhnya.

Dari falsafah ini kita belajar tentang pentingnya menambah pengetahuan untuk memahami sesuatu. sebab jika hanya berasal dari perspektif semata kemudian menghukumi sesuatu, seyogyanya kita belum bisa memiiliki refrensi yang cukup untuk mempertimbangkannya. Falsafah tersebut juga menjadikan kita bijak untuk menanggapi sesuatu.

6. Kebanyakan pemimpin rakyat belum berani mengorbankan harta benda dan jiwanya untuk berusaha agar manusia tergolong dalam kebenaran.

Kehidupan dalam konteks saat itu, barangkali KH. Ahmad Dahlan melihat mecam-macam pemimpin yang masih belum bisa bertanggung jawab atas kepemimpinannya. tidak heran ketika saat inipun kita melihat pemimpin yang demikian.

7. Pelajaran terbagi atas 2 bagian, yaitu belajar ilmu dan belajar amal.

belajar ilmu tidak lantas membuat kita percuma. Sebab ilmu pengetahuan menjadi salah satu dasar utama bagi manusia untuk melakukan sesuatu. setelah kita memiliki pengetahuan sebagai dasar, barulah kita bisa bergerak untuk melakukan sesuatu. keduanya tidak bisa dipisahkan. Ilmu tanpa amal terdapat kekosongan, begitupula sebaliknya.

Ilmu dan amal saling beriringan. Barang siapa berilmu maka dia harus berbuat, baik itu ilmu yang berhubungan dengan masalah ibadah maupun ilmu-ilmu yang lain. Tidak ada faedahnya ilmu yang tidak diamalkan. Amal merupakan buah dari ilmu, jika ada orang yang mempunyai ilmu tapi tidak beramal maka seperti pohon yang tidak berbuah.

Redaksi

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 + eight =