Begini Cerita Islamnya Sa’id bin Amir Al-Jumahi

 Begini Cerita Islamnya Sa’id bin Amir Al-Jumahi

Sa’id bin Amir Al-Jumahi (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Cerita Islamnya Sa’id bin Amir Al-Jumahi begitu mengesankan, sebab ia mengenal Islam sebagai agama tauhid. Bahkan Khubaib telah mengajari Sa’id sesuatu yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.

Ia akhirnya memahami bahwa hidup yang sesungguhnya adalah akidah dan jihad di Allah hingga akhir hayat. Selain itu, ia juga mendapatkan hal lain dari Khubaib yang mengajarinya juga bahwa iman yang kokoh akan membuat keajaiban dan kemukjizatan.

Sa’id bin Amir Al-Jumahi, seorang anak muda di antara ribuan orang yang tertarik untuk pergi menuju daerah Tan’im di luar kota Makkah. Kepergiannya ke Tan’im itu dalam rangka menghadiri panggilan pembesar-pembesar Quraisy.

Sebagaimana dilansir dari Republika.co.id, panggilan ini adalah untuk menyaksikan hukuman mati yang akan ditimpakan kepada Khubaib bin Adiy. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang diculik oleh mereka.

Sa’id pun mendapatkan kedudukan yang lebih daripada orang-orang karena kepiawaian dan postur tubuhnya yang gagah. Hal itu membuatnya mendapatkan tempat duduk yang berdampingan dengan pembesar-pembesar Quraisy, di antaranya Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan orang-orang yang mempunyai wibawa lainnya.

Kisah Pertempuan Sa’id dengan Khubaib

Saar pembesar-pembesar tersebut tiba, Sa’id bin Amir berdiri tegak memandangi Khubaib yang sedang diarak menuju kayu penyaliban. Iaa mendengar suaranya yang teguh dan tenang di antara teriakan wanita-wanita dan anak-anak.

Khubaib berkata, “Izinkan aku untuk salat dua rakaat sebelum pembunuhanku ini, jika kalian berkenan.”

Kemudian Sa’id memandanginya, sedangkan Khubaib menghadap kiblat dan salat dua rakaat. Alangkah bagusnya dan indahnya salatnya itu.

Kemudian ia melihat Khubaib menghadap pembesar-pembesar kaum dan berkata, “Demi Allah, jika kalian tidak menyangka bahwa aku memperpanjang salat karena takut mati, tentu aku telah memperbanyak salat.”

Kemudian ia melihat kaumnya dengan mata kepalanya, memotong-motong Khubaib dalam keadaan hidup.

Kemudian Sa’id bin Amir melihat Khubaib mengarahkan pandangannya ke langit dari atas kayu salib, dan berkata, “Ya Allah ya Tuhan kami, hitunglah mereka dan bunuhlah mereka satu persatu, serta janganlah Engkau tinggalkan satu pun dari mereka.”

Kemudian Khubaib bin Adiy menghembuskan nafas terakhirnya, dan di badannya tidak terhitung lagi bekas tebasan pedang dan tusukan tombak.

Hidayah dari Allah SWT.

Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, dan mereka telah melupakan kejadian Khubaib dan pembunuhannya karena banyak kejadian-kejadian setelahnya. Namun, Sa’id bin Amir Al-Jumahi tidak bisa menghilangkan bayangan Khubaib dari pandangannya walau sekejap mata.

Ia memimpikannya ketika sedang tidur, dan melihatnya dengan khayalan ketika matanya terbuka. Khubaib senantiasa terbayang di hadapannya sedang melakukan salat dua rakaat dengan tenang di depan kayu salib.

Sa’id mendengar rintihan suaranya di telinganya. Ketika Khubaib berdoa untuk kebinasaan orang-orang Quraisy, maka ia takut kalau tersambar petir atau ketiban batu dari langit.

Dari peristiwa penghukuman atas Khubaib itulah Sa’id mendapatkan pelajaran yang sama sekali belum pernah ia ketahui sebelumnya. Khubaib mengajarinya sesuatu yang lain, bahwa sesungguhnya seorang laki-laki yang dicintai oleh para sahabatnya dengan kecintaan yang sedemikian rupa, tidak lain adalah nabi yang mendapat mandat dari langit.

Sejak saat itulah Allah membukakan dada Sa’id bin Amir untuk Islam. Ia lalu berdiri di hadapan orang banyak dan memproklamirkan kebebasannya dari dosa-dosa Quraisy, berhala-berhala dan patung-patung mereka, dan menyatakan ikrarnya terhadap agama Allah.

Sa’id bin Amir berhijrah ke Madinah, dan mengabdikan diri kepada Rasulullah, dan ikut serta dalam Perang Khaibar dan peperangan-peperangan setelahnya. Lalu saat Nabi yang mulia dipanggil menghadap Tuhannya, Sa’id mengabdikan diri di jalan Allah dengan pedang terhunus di zaman dua khalifah; Abu Bakar dan Umar.

 

Sumber : Republika

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

12 − eight =