Bagaimana Sejarah Berdirinya MUI?

 Bagaimana Sejarah Berdirinya MUI?

Wacana pembubaran MUI (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Selama ini kita sudah tak asing lagi dengan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Tapi tidak sedikit dari kita yang tahu betul bagaimana sejarah dan proses berdirinya lembaga yang berisi para ulama-ulama di Indonesia tersebut.

Dilansir dari laman website resmi MUI, lembaga ini merupakan Wadah Musyawarah para Ulama, Zu’ama, dan Cendekiawan Muslim di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kaum muslimin di seluruh Indonesia. MUI berdiri pada tanggal, 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 26 Juli 1975 di Jakarta, Indonesia.

“MUI berdiri sebagai hasil dari pertemuan atau musyawarah para ulama, cendekiawan dan zu’ama yang datang dari berbagai penjuru tanah air, antara lain meliputi dua puluh enam orang ulama yang mewakili 26 Provinsi di Indonesia pada masa itu,” tulis laman tersebut dilansir Kamis (7/10/2021).

Adapun 10 orang ulama yang merupakan unsur dari ormas-ormas Islam tingkat pusat, yaitu, NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti, Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI dan Al Ittihadiyyah. 4 orang ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut dan POLRI serta 13 orang tokoh/cendekiawan yang merupakan tokoh perorangan.

“Dari musyawarah tersebut, dihasilkan adalah sebuah kesepakatan untuk membentuk wadah tempat bermusyawarahnya para ulama. Zuama dan cendekiawan muslim, yang tertuang dalam sebuah “Piagam Berdirinya MUI,” yang ditandatangani oleh seluruh peserta musyawarah yang kemudian disebut Musyawarah Nasional Ulama I,” jelasnya.

Fase Kebangkitan Kembali Indonesia

Momentum berdirinya MUI bertepatan ketika bangsa Indonesia tengah berada pada fase kebangkitan kembali, setelah 30 tahun merdeka. Di mana energi bangsa telah banyak terserap dalam perjuangan politik kelompok dan kurang peduli terhadap masalah kesejahteraan rohani umat.

“Dalam perjalanannya, selama dua puluh lima tahun, Majelis Ulama Indonesia sebagai wadah musyawarah para ulama, zu’ama dan cendekiawan muslim berusaha untuk memberikan bimbingan dan tuntunan kepada umat Islam Indonesia dalam mewujudkan kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkapnya.

Selain itu juga memberikan nasihat dan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada Pemerintah dan masyarakat, meningkatkan kegiatan bagi terwujudnya ukhwah Islamiyah dan kerukunan antar-umat beragama dalam memantapkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Sampai saat ini MUI mengalami telah beberapa kali musyawarah nasional, dan mengalami beberapa kali pergantian Ketua Umum. Antara lain; Prof. Dr. Hamka (1977–1981), KH. Syukri Ghozali (1981–1983), KH. Hasan Basri (1985–1998), Prof. KH. Ali Yafie (1998–2000), KH. M. Sahal Mahfudz (2000–2014), Prof. Dr. HM. Din Syamsuddin (2014–2015), Prof. Dr. KH. Ma`ruf Amin (2015–2020), KH. Miftachul Akhyar (2020–Sekarang).

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

one × two =