Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Para Sufi dan Tasawuf?

 Bagaimana Seharusnya Kita Menyikapi Para Sufi dan Tasawuf?

Teladan Kebaikan Seorang Wazir Kepada Bawahannya (duniasantri.co)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Bagaimana seharusnya kita menyikapi para sufi dan tasawuf? Syaikh Ibnu Taymiyah menawarkan pandangan yang proporsional dalam hal ini.

Ia berkata:

فَطَائِفَةٌ ذَمَّتْ «الصُّوفِيَّةَ وَالتَّصَوُّفَ». وَقَالُوا: إنَّهُمْ مُبْتَدِعُونَ خَارِجُونَ عَنْ السُّنَّةِ وَنُقِلَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ فِي ذَلِكَ مِنْ الْكَلَامِ مَا هُوَ مَعْرُوفٌ وَتَبِعَهُمْ عَلَى ذَلِكَ طَوَائِفُ مِنْ أَهْلِ الْفِقْهِ وَالْكَلَامِ.

Sebuah kelompok mengkritik sufisme dan tasawuf. Mereka mengatakan bahwa sufi adalah ahli bid’ah yang keluar dari sunah (ajaran Nabi) dan hal ini telah dikutip dari sebagian Imam yang isinya dikenal, dan pendapat ini diikuti oleh sebagian kelompok dari ahli fiqih dan ahli kalam.

وَطَائِفَةٌ غَلَتْ فِيهِمْ وَادَّعَوْا أَنَّهُمْ أَفْضَلُ الْخَلْقِ وَأَكْمَلُهُمْ بَعْدَ الْأَنْبِيَاءِ

Kelompok lain melampaui batas dalam memuji mereka dan mengklaim bahwa mereka adalah makhluk yang paling utama dan sempurna setelah para nabi.

وَكِلَا طَرَفَيْ هَذِهِ الْأُمُورِ ذَمِيمٌ. وَ الصَّوَابُ أَنَّهُمْ مُجْتَهِدُونَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَمَا اجْتَهَدَ غَيْرُهُمْ مِنْ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ

Artinya:

“Kedua pendekatan ini sangat buruk. Yang benar adalah bahwa mereka adalah orang yang berijtihad dalam ketaatan kepada Allah, sebagaimana ijtihad yang dilakukan oleh kelompok-kelompok lain dari kalangan ahli ketaatan kepada Allah.” (Ibnu Taymiyah, Majmu’ Fatawa)

Pandangan tersebut moderat, tidak larut pada celaan mutlak atau pujian mutlak. Tindakan dan pendapat para sufi adalah ijtihad yang bisa saja benar dan bisa juga salah, seperti lumrahnya ijtihad.

Tapi saya pribadi lebih cenderung pada pendapat yang lebih ketat soal ini yang membatasi tasawuf pada sikap dan penyucian jiwa yang sesuai dengan petunjuk al-Qur’an dan sunnah saja.

Artinya, kalau tingkah lakunya melenceng maka mereka bukan sufi dan tidak layak disebut sufi sama sekali, namun hanya mengaku-ngaku sebagai sufi.

Pendapat ini dinyatakan oleh banyak imam tasawuf sendiri seperti Imam al-Junaid, Al-Ghazali, al-Qusyairi dan lain-lain.

Demikian sekiranya pembahasan mengenai bagaimana seharusnya kita menyikapi para sufi dan tasawuf. []

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *