Kajian

Bagaimana Pandangan Para Mufasir Terhadap Makna Islam Sebagai Jalan Keselamatan?

Oleh : Ulfah Nur Azizah


HIDAYATUNA.COM – Islam agama yang di wahyukan Allah memiliki ajaran yang berupa tauhid, keyakinan dan ketentuan yang mengatur hidup manusia, agama yang diridhai Allah. Maka hanyalah orang beriman dan menyakininya yang akan selamat diakhirat kelak. Begitupula sebaliknya, Islam datang sebagai agama pertengahan dari agama terdahulu dengan ajaran-ajaran hukum yang bersifat lahiriah, mengajarkan mengenai ajaran-ajaran ketuhanan yang bersifat ruhaniah (spiritual).

Islam dapat diartikan dengan selamat, bebas, pasrah , berserah diri, tunduk dan patuh. Dalam Islam al-Qur’an berkedudukan sebagai wahyu Allah, sebagai hukum-hukum Allah yang menunjukan jalan lurus, jalan menuju keselamatan baik dunia maupun akhirat ketika Islam diartikan dengan makna kontekstual maka akan berkembang sesuai pada konteks dan zaman nya, namun perlu digaris bawahi, pemahaman Islam secara konteks tidaklah meninggalkan makna Islam secara teks, menurut pandangan Sayyid Qutb bahwa Islam ialah kebutuhan dan ketundukan kepada Allah.

Lalu bagaimana pandangan para Mufasir modern terkait makna Islam? menurut Muhammad Arkoun ia mengomentari makna patuh dan tunduk, karena dalam pandangan Arkoun tarjamahan kata Islam tidak tepat yang dimaksud ialah umat Islam bukanlah tunduk dan patuh kepada Allah SWT, namun adanya cinta kepada Allah dan selalu bersandarkan diri kepadanya, sebagai agama dengan penuh pesan spiritual, ketika umat Islam beragama maka itu merupakan sebuah kebutuhan dirinya guna mengingat Allah bukan sebaliknya, Islam adalah perbuatan sukarela tulus ikhlas.

Toshihiko Izutsu menambahkan bahwa makna dasar muslim ialah seseorang yang melaksanakan penyerahan dirinya dan berkomitmen kepada Tuhan dan rasulnya, secara sukarela, dalam konteks ini Islam memiliki hubungan dengan iman, oleh karenanya seorang mu’min itu ditandai terhadap keyakinan atau kepercayaan yang kuat dan kokoh.

Baca Juga :  Intoleransi Beragama Di Sekolah, Keluarga Punya Peran Penting

Hal ini berbeda dengan pemikiran Sayyid Qutb yang menyatakan bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui agama Islam dengan sikap berserah diri kepada Allah selalu menjalankan perintah-perintahnya dan menjauhi larangannya maka melalui jalan ini lah jalan dalam memperoleh keselamatan.

Pemahaman para Orientalis dalam memaknai Islam hanya sebatas sikap tunduk dan pasrah pada syariat agama, disini Syahrur berbeda dari pendapat lainnya bahwa Islam agama yang dibawa oleh nabi Muhammad, namun ajaran nya sudah ada pada zaman nabi-nabi sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa tanpa harus memeluk agamanya dan mengimaninya ia sudah dikatakan Islam, disini tedapat persamaan pendapat menurut Abdullah Yusuf dan Muhammad Asad.

Abdullah Yusuf Ali dan Muhammad Asad berpendapat bahwa Islam adalah agama universal dan Islam merupakan jalan keselamatan dengan meyakini Tuhan, Hari Akhir dan beramal baik, Islam bukanlah agama yang ekslusif, Abdullah menyimpulkan bahwa, Islam adalah agama Rahmatan li- al amīn, yang saling bertoleransi dan menghormati agama-agama lain,menurutnya, Islam merupakan agama yang berlandaskan kepasrahan kepada Tuhan, karena sikap kepasrahan dan berserah diri ini merupakan ajaran bagi semua umat muslim.

Mengapa para mufasir modern barat berpendapat bahwa Islam bukanlah satu-satunya jalan keselamatan? Karena menurut mereka Islam hanyalah cara mempraktekan diri kepada Tuhan dengan rasa berserah diri tunduk dan pasrah, bahkan dapat dikatakan bahwa jika agama selain Islam memiliki kepasrahan diri kepada Tuhan dan tunduk serta patuh pada Tuhan maka itu dapat menjadi jalan keselamatan tidak harus menganut agama Islam.

Disini terlihat perbedaan pandangan Ibnu Katsir (seorang mufasir klasik) dilihat dalam penjelasan surat al-Baqarah ayat 62 dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa keselamatan hanya bisa didapat oleh mereka pemeluk agama Islam, karena menurut Ibnu Katsir tidak ada agama lain yang diterima oleh Allah melainkan agama Islam. Terlepas dari penjelasan makna Islam, Islam sendiri memiliki empat tingkatan menurut Thabathaba’i pertama, Islam yang menerima dan selalu patuh terhadap perintah dan menjauhi larangan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, maka tidak terdapat persoalan apakah iman sudah ada dalam hatinya atau belum.

Baca Juga :  Bolehkah Membungkus Makanan dengan Kertas yang Ada Asmaul Mu'adhom-nya?

Kedua, diikuti pada Islam tingkat yang pertama (penyerahan dan kepasrahan hati) dengan dikuatkan oleh iman yaitu berkeyakinan utuh pada agama, sebagaimana dalam surat al-hujurat ayat 15 yaitu “sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya kemudian tidak ragu-ragu dan berjuang kepada dijalan Allah dengan harta dan diri mereka, mereka itulah orang-orang yang “beriman tulus”.

Pada tingkatan ketiga, ketika jiwa sudah dipenuhi dengan keimanan maka pada tingkatan ini menyembah Allah seolah-olah ia melihat Allah dan jika tidak melihatnya, ia berkeyakinan bahwa Allah melihatnya, keempat, pada tingkatan ini bantuan ilahi memperlihatkan hakikat yang hakiki kepadanya, tidak akan sampai hanya dengan kehendak manusia kecuali Allah lah yang berkehendak, Allah menjadikannya sebagai kekasih sebagaimana dalam surat Yunus ayat 42 yaitu : “ketauhilah, bahwa para kekasih Allah itu, tidak ada takut pada mereka dan tidaklah mereka berduka cita, orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa”.

*Mahasiswa Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close