Bagaimana Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad?

 Bagaimana Hukum Merayakan Maulid Nabi Muhammad?

Apakah Nabi Muhammad Gembira atas Kematian Musuh-Musuh Islam? (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang istimewa. Bagaimana tidak, pada bulan tersebut manusia terbaik, hamba Allah dan utusan Allah termulia yaitu Nabi Muhammad saw., dilahirkan di dunia.

Pada 1400 abad yang lalu, tepatnya pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 576 M, baginda Nabi Muhammad dilahirkan dari pasangan Sayyid Abdullah dan Sayyidah Aminah radliya Allahu ‘anhuma.

Peringatan maulid Nabi Muhammad adalah acara rutin yang dilaksanakan oleh mayoritas kaum muslimin untuk mengingat dan memuliakan hari kelahiran Rasulullah.

Menurut catatan Sayyid al-Bakri, pelopor pertama kegiatan maulid adalah al-Mudzhaffar Abu Sa`id, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad.

Peringatan maulid pada saat itu dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kalangan dengan berkumpul di suatu tempat dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an.

Peringatan maulid Nabi tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah maupun sahabat.

Karena alasan inilah, sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan mengklaim bid’ah berdasar pada hadits berikut:

وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتُ الْأُمُوْرِ؛ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Artinya:

“Berhati-hatilah kalian dari sesuatu yang baru, karena setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setipa bid’ah adalah sesat.” (HR. Imam Ahmad).

Namun ada hadis lain yang berlawanan dengan hadits di atas:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:

“Siapa saja yang membuat sesuatu yang baru dalam masalah kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka dia ditolak.” (HR. Imam Al-Bukhori)

Yusuf al-Qaradhawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan أمرنا dalam hadis di atas adalah urusan agama, bukan urusan duniawi, karena dalam masalah duniawi diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan Syariat Islam.

Sedangkan dalam masalah agama adalah tidak diperbolehkan.

Namun banyak orang yang tidak bisa membedakan antara amaliyah keagamaan dan instrumen keagamaan.

Sama halnya dengan orang yang tidak memahami format, isi, sarana dan tujuan.

Akibat ketidakpahamannya, maka dikatakan bahwa perayaan maulid Nabi sesat, membaca Al-Qur’an bersama-sama sesat dan seterusnya.

Berkenaan dengan hukum perayaan maulid, As-Suyuthi dalam al-Hawi lil Fatawi menyebutkan redaksi sebagai berikut:

أَصْلُ عَمَلِ الْمَوْلِدِ بِدْعَةٌ لَمْ تُنْقَلْ عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِ مِنَ الْقُرُوْنِ الثَّلاَثَةِ، وَلكِنَّهَا مَعَ ذلِكَ قَدْ اشْتَمَلَتْ عَلَى مَحَاسِنَ وَضِدِّهَا، فَمَنْ تَحَرَّى فِيْ عَمَلِهَا الْمَحَاسِنَ وَتَجَنَّبَ ضِدَّهَا كَانَتْ بِدْعَةً حَسَنَةً” وَقَالَ: “وَقَدْ ظَهَرَ لِيْ تَخْرِيْجُهَا عَلَى أَصْلٍ ثَابِتٍ.

Artinya:

“Hukum Asal peringatan maulid adalah bid’ah yang belum pernah dinukil dari kaum Salaf saleh yang hidup pada tiga abad pertama, tetapi demikian peringatan maulid mengandung kebaikan dan lawannya,

Jadi barangsiapa dalam peringatan maulid berusaha melakukan hal-hal yang baik saja dan menjauhi lawannya (hal-hal yang buruk), maka itu adalah bid’ah hasanah.”

Al-Hafizh Ibn Hajar juga mengatakan: “Dan telah nyata bagiku dasar pengambilan peringatan Maulid di atas dalil yang tsabit (Shahih).”

Peringatan Maulid Menurut 4 Madzhab:

Peringatan Maulid Nabi Menurut Mazhab Syafi’i

Al-Imam al-Suyuthi mengatakan:

هُوَ مِنَ الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِ الْفَرَحِ وَالْاِسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

Artinya:

“Perayaan maulid termasuk bid’ah yang baik, pelakunya mendapat pahala. Sebab di dalamnya terdapat sisi mengagungkan derajat Nabi Saw dan menampakan kegembiraan dengan waktu dilahirkannya Rasulullah saw.”

Dalam kesempatan yang lain, beliau mengatakan:

يُسْتَحَبُّ لَنَا إِظْهَارُ الشُّكْرِ بِمَوْلِدِهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالْاِجْتِمَاعُ وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ وَنَحْوُ ذَلِكَ مِنْ وُجُوْهِ الْقُرُبَاتِ وَإِظْهَارِ الْمَسَرَّاتِ

Artinya:

“Sunah bagi kami untuk memperlihatkan rasa syukur dengan cara memperingati maulid Rasulullah saw, berkumpul, membagikan makanan dan beberapa hal lain dari berbagai macam bentuk ibadah dan luapan kegembiraan.”

Peringatan Maulid Nabi Menurut Mazhab Hanafi

Syaikh Ibnu ‘Abidin mengatakan:

اِعْلَمْ أَنَّ مِنَ الْبِدَعِ الْمَحْمُوْدَةِ عَمَلَ الْمَوْلِدِ الشَّرِيْفِ مِنَ الشَّهْرِ الَّذِيْ وُلِدَ فِيْهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Ketahuilah bahwa salah satu bid’ah yang terpuji adalah perayaan maulid Nabi pada bulan dilahirkan Rasulullah Muhammad saw.”

Bahkan setiap tempat yang di dalamnya dibacakan sejarah hidup Nabi Saw, akan dikelilingi malaikat dan dipenuhi rahmat serta ridla Allah Swt.

Peringatan Maulid Nabi Menurut Mazhab Maliki

Al-Imam Ibnu al-Haj ulama’ dari kalangan madzhab Maliki mengatakan:

مَا مِنْ بَيْتٍ أَوْ مَحَلٍّ أَوْ مَسْجِدٍ قُرِئَ فِيْهِ مَوْلِدُ النَّبِيِّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَفَّتِ الْمَلاَئِكَةُ أَهْلَ ذَلِكَ الْمَكَانِ وَعَمَّهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالرَّحْمَةِ وَالرِّضْوَانِ

Artinya:

“Tidaklah suatu rumah atau tempat yang di dalamnya dibacakan maulid Nabi Saw, kecuali malaikat mengelilingi penghuni tempat tersebut dan Allah memberi mereka limpahan rahmat dan keridhaan.”

Peringatan Maulid Nabi  Menurut Madzhab Hanbali

Al-Imam Ibnu Taimiyyah dari kalangan madzhab Hanbali mengatakan:

فَتَعْظِيْمُ الْمَوْلِدِ وَاتِّخَاذُهُ مَوْسِمًا قَدْ يَفْعَلُهُ بَعْضُ النَّاسِ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهِ أَجْرٌ عَظِيْمٌ لِحُسْنِ قَصْدِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ

Artinya:

“Mengagungkan maulid Nabi dan menjadikannya sebagai hari raya telah dilakukan oleh sebagian manusia dan mereka mendapat pahala besar atas tradisi tersebut, karena niat baiknya dan karena telah mengagungkan Rasulullah saw.”

Kesimpulannya adalah bahwa merayakan Maulid Nabi diperbolehkan, memang termasuk bid’ah tapi bid’ah yang baik karena dalam perayaan tersebut dilakukan untuk memuliakan Nabi Muhammad saw.

Dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an, dzikir, shalawat dan ceramah-ceramah agama. []

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *