Ath-Thusi Jauh Lebih Awal Pakai Kontruksi Geometris

 Ath-Thusi Jauh Lebih Awal Pakai Kontruksi Geometris

Ath thusi

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Berbicara tentang tehnik postulat Euclid melalui kontruksi geometris, ilmuan muslim bernama Nashiruddin ath-Thusi lebih awal memakainya.

Jauh sebelum dua nama ilmuan Barat, Wallis atau Saccheri yang identik dengan sosok John.

Fakta ini menambah daftar panjang deretan penemuan hasil karya para ilmuan Islam di masa lampau yang diklaim Barat. Hal ini sebagaimana penjelasan Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU, Dr Arwin Juli Rakhmadi Butar Butar.

Dr Arwin menjelaskan bahwa ath-Thusi adalah ilmuan pertama atau yang lebih dulu mengembangkan kontruksi geometris terkait postulat.

“John Wallis (w. 1703 M) dalam penelitiannya menggunakan konstruksi geometris khusus tentang salah satu postulat Euclid, selanjutnya lagi teknik ini digunakan oleh Saccheri (w. 1733 M), faktanya, Nashiruddin ath-Thusi telah mengembangkan konstruksi geometris khusus sehubungan dengan postulat kelima Euclid,” ungkapnya dikutip Hidayatuna.com, Jumat (23/10/2020).

Disayangkan: Penemuan Ilmuan Islam Diklaim Barat

Atas hal itu, Arwin cukung menyayangkan, karena dalam faktanya banyak hasil penemuan dari para ilmuan Islam yang dalam fase perkembangannya kemudian diklaim oleh Barat.

Ia juga sedikit kecewa kepada dua ilmuan besar bidang sains tersebut yakni John Wallis dan Saccheri. Sebagai ilmuan yang dikenal ilmiah, mestinya mereka memberikan kredit khusus kepada Al-Thusi.

“Sayangnya dua ilmuwan Barat ini sama sekali tidak memberikan kredit kepada Al-Thusi,” jelasnya.

Sebagai informasi, sosok Nashiruddin ath-Thusi atau bernama lengkap Abu Jafar Muhammad Ibn Muhammad Ibnu Al Hasan Nasiruddin Al-Tusi adalah seorang ilmuwan serba bisa dari Persia. Dilansir dari Tirto, ia lahir pada 18 Februari 1201 Masehi di Kota Tus yang terletak di dekat Mashed, Persia (sekarang sebelah timur laut Iran).

Sebagai seorang ilmuwan yang tersohor pada zamannya, al-Thusi memiliki banyak nama, antara lain Muhaqqiq, Khuwaja Thusi, Khuwaja Nasir, al-Din Tusi, dan (di Barat dikenal sebagai) Tusi.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

seventeen − 10 =