Cancel Preloader

Asosiasi Guru PAI Tanggapi Serius Penghilangan Frasa Agama Kemendikbud

 Asosiasi Guru PAI Tanggapi Serius Penghilangan Frasa Agama Kemendikbud

Ilustrasi/Hidayatuna

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pengilangan frasa agama dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang dirumuskan Kemendikbud mendapat perhatian serius dari Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII).

Ketua Umum AGPAII Mahnan Marbawi mengatakan bahwa hilangnya frasa agama dianggap sesuatu yang serius. Pasalnya pendidikan yang didasarkan agama adalah benteng untuk menghadapi tantangan masa depan.

Mahnan menjelaskan tantangan masa depan, mulai dari disrupsi teknologi, perubahan sosial-budaya, hingga perubahan iklim, akan melahirkan disrupsi budaya, agama tanpa makna, dan perubahan interaksi sosial.

“(Karena itu) Pendidikan harus dibangun di atas pondasi agama dan kemanusiaan. Bukan untuk mengejar hedonisme, individualistik, dan matrialistik,” ujar Mahnan dalam keterangan persnya dikutip Senin (8/3/2021).

Itulah sebabnya, tantangan saat ini, orientasi masyarakat akan lebih banyak kepada pemenuhan indrawi dan materialistik. Ia mengingatkan bahwa pendidikan jangan sekedar melahirkan manusia yang mampu beradabtasi dan berkolaborasi dalam memenuhi kesuksesan, melainkan juga harus dibentengi dengan pengetahuan agama.

Dengan penghilangan frasa agama, menurut Mahnan berpotensi akan melahirkan manusia yang materialistic. Untuk itu, pendidikan jangan hanya menjadi pemenuhan dahaga penyakit diploma.

“Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu bertindak secara benar, agar dapat belajar (ethical self-appropriation),” sambungnya.

Ia menjelaskan pendidikan dengan basis agama akan melahirkan manusia yang mampu bertanggungjawab sebagaimana hakekat martabat manusia.

Tanggung jawab itu lanjut dia, ditujukan tidak saja pada egoisme pribadi untuk mencapai kesuksesan materi dan mengejar hedonisme, melainkan sekaligus tanggungjawab kepada sesama, lingkungan, dan alam semesta dan Tuhan.

“Peta jalan pendidikan yang hanya melihat tantangan yang bersifat matrialistik, padahal pendidikan harus didasarkan kepada nilai agama,” tandasnya.

Romandhon MK

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

two + three =