Apakah Fikih Perlu Berubah Seiring Zaman? 

 Apakah Fikih Perlu Berubah Seiring Zaman? 

Apakah Ayat-Hadis Sifat Bisa Diketahui Maknanya (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Bila Anda menanyakan pertanyaan “Apakah Fikih Perlu Berubah Seiring Zaman” pada pembaca buku yang hanya mengenal fikih sebatas kulit-kulitnya. Akan dijawab, “Ya, fikih perlu berubah bahkan perubahan itu adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan.”

Namun Anda akan mendapatkan jawaban, “Tidak, fikih tidak perlu berubah dan memang tidak boleh diubah.” Hal itu berlaku jika menanyakan pertanyaan yang sama pada orang yang betul-betul menggeluti fikih dan paham kaidah serta ushulnya.

Hal yang harus berubah sebagai keniscayaan pergantian masa dan tempat bukanlah fikih, tapi putusan fatwa terhadap kasus spesifik. Fikihnya tetap seperti sedia kala, namun di ranah fatwa harus selalu dikontekstualisasi. Apa beda keduanya?

Begini contohnya, fikih mengatakan bahwa hukum makan babi dalam keadaan normal adalah haram. Ini sampai kiamat tidak akan berubah, yang berubah adalah ketika ada orang yang kelaparan di tengah hutan menelepon seorang mufti:

“Apakah boleh dia memakan babi karena tidak ada makanan lain saat itu baginya?” Sang Mufti akan menjawab boleh, apabila diketahui bahwa unsur darurat terpenuhi.

Ketentuan Berubahnya Hukum Fikih

Di lain waktu, Sang Mufti akan menjawab tidak boleh apabila dia merasa unsur darurat sudah tidak terpenuhi. Demikian pula misalnya ada temuan sains yang menurut kajian para ahli dianggap berbahaya. Maka para fuqaha akan mengeluarkan hukum haram pada temuan tersebut.

Akan tetapi ketika seiring masa ditemukan solusi untuk menghilangkan efek bahayanya sedangkan di sisi lain temuan itu diperlukan. Maka hukum haram itu harus direvisi dengan fatwa tidak haram.

Meski terlihat keputusannya berubah, namun aturan fikih bahwa kemudaratan wajib dihilangkan tidaklah berubah dan tidak boleh diubah. 

Perubahan putusan hukum sesuai konteks dan kondisi seperti ini dalam istilah yang dikenal para fuqaha disebut sebagai “taghayyur al-ahkam”. Adapun istilah perubahan fikih atau “taghayyur al-Fiqh” sama sekali tidak dikenal dan tidak pernah digunakan sebab nilai-nilai fikih sudah paten.

Hal yang harus berubah hanyalah sisi implementasinya dalam menyesuaikan dengan realita spesifik, dan ini bukan ranah fikih tetapi ranah fatwa. Semoga bermanfaat 

 

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

5 × one =