Apakah Buku Saja Cukup Tanpa Guru?

 Apakah Buku Saja Cukup Tanpa Guru?

Muhajirin Amsar, Ulama Hebat Bekasi Penulis Kitab Misbahul Dholam (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Apakah buku saja cukup tanpa guru? Masalah ini sempat menjadi perdebatan sengit di akhir abad kedelapan hijriah, bahkan sampai saling lempar sandal.

Masalah ini ditanyakan kepada para ulama. Masing-masing menjawab sesuai dengan kapasitas dan sudut pandangnya.
Syekh Abu Abdullah bin Abbad menjawab:
“Ini berbeda pada setiap orang dan keadaan. Kalau guru sekedar guru ta’lim (mengajar saja) maka buku saja cukup bagi yang punya kecerdasan. Tapi kalau guru tarbiyah (mendidik), ini wajib bagi yang bodoh dan sangat disarankan bagi selainnya. Karena seorang yang bodoh, jika ia sampai tanpa guru, tapi sifat ru’unah (kenakalan, kebodohan, ketidakmatangannya) tidak akan lepas dari dirinya meskipun ia sampai ke level tertinggi.”
Imam Al-Ghazali mengatakan:
قد يكون ذلك بلا شيخ ولكن الشيخ فاتح
Artinya:
“Bisa saja tanpa guru, tapi guru akan lebih membuka.”
Catatan : guru dalam konteks ini lebih dalam dunia tasawuf ; guru yang akan membimbing untuk menuju Allah Swt.
Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan juga berlaku dalam dunia keilmuan yang lain dalam beberapa kondisi.
والله تعالى أعلم وأحكم
[]

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *