Apakah Ayat-Hadis Sifat Bisa Diketahui Maknanya?

 Apakah Ayat-Hadis Sifat Bisa Diketahui Maknanya?

Sisi lain dari fikih (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Seorang jemaah online bertanya, cara menyelesaikan makna kontradiksi dari dua kalam Imam Safarini dalam kitab Lawamiul Anwar berikut?

“Di satu sisi beliau mengatakan  نكل معناه (kita pasrahkan maknanya pada Allah). Di sisi lain, orang yg mengatakan Nabi tidak tahu makna ayat sifat beliau gelari dgn munharif (orang yang menyimpang) atau ahlu tajhil (orang yang menuduh bodoh).”

Ustaz Muhammad Ajib Asy-Syaafi’iy menjawabnya. Terkait kalamnya Imam as-Safarini yang menyebut Ahlu at-Tajhil ini yang penanya pahami.

Beliau itu sedang membantah kelompok yang meyakini ayat sifat itu tidak memiliki makna sama sekali. Ya, contohnya seperti kelompok Mu’tazilah, intinya kelompok ini tidak menganggap ayat sifat itu sebagai sifat.

Adapun Tafwidh itu jelas tidak menafikan makna. Tafwidh itu tetap meyakini di dalam sifat itu ada makna hanya saja tidak ditentukan alias diserahkan kepada Allah SWT.

Kesimpulannya, Imam as-Safarini membantah kelompok yang meyakini ayat sifat tidak memiliki makna. Sementara Ahlussunah wal Jamaah meyakini ayat sifat ada makna namun hal itu diserahkan kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.

Kalam imam as-Safarini yang sangat sharih tentang Tafwidh Makna, ini ada di halaman lain:

لوامع الأنوار البهية (1/ 219)

فمذهب السلف في آيات الصفات أنها لا تؤول، ولا تفسر بل يجب الإيمان بها، وتفويض معناها المراد منها إلى الله تعالى.

Tentang Hakikat Istawa

Jawaban di atas bagus sekali dan cukup jelas, tapi izinkan saya nambah perspektif saya. Semua ayat (ma anzalallah) ada maknanya, hal ini ada yang kita tahu dengan pasti dan ada yang tidak.

Misal ayat الرحمن على العرش استوى, kita semua tahu bahwa ayat itu berbicara tentang keagungan Allah, kemahatinggian yang tak tertandingi, penguasaan mutlak atas semesta dan seterusnya. Ini yang jelas kita dapat dari ayat tersebut dan kita tahu betul makna ini.

Rasulullah dan Salafus Shalih berhenti di pengetahuan atas makna yang ini saja tanpa menjelaskan dan membahas lebih detail. Tapi ada makna lain yang lebih dalam dan rinci, yakni tentang hakikat istawa itu sendiri.

Poin inilah yang diserahkan pada Allah sebab yang lain tak ada yang tahu sehingga tidak perlu kita tentukan dengan jalan takwil. Demikian juga tentang hadis nuzul.

Semua tahu bahwa kita diperintah bangun malam untuk salat, berdoa, istighfar dan seterusnya sebab itu waktu spesial. Salaf berhenti dan berpuas diri di makna ini saja. Ada pun soal hakikat nuzul maka tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Jadi, memang aneh apabila ada yang bilang bahwa ayat sifat tak ada maknanya sama sekali atau secara mutlak hanya Allah saja yang tahu. Seolah dia tidak paham apa-apa dan tak ada pesan apa-apa di sana yang bisa kita tangkap.

Ini ahlut tajhil yang sebenarnya yang tidak sopan memperlakukan ayat seolah ia adalah bahasa alien yang tidak jelas maknanya. Padahal Alquran turun dengan bahasa Arab yang jelas.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

20 − 16 =