Antum Percaya Sama Nabi Atau Kiai?

 Antum Percaya Sama Nabi Atau Kiai?

Penyebab ilmu orang alim kurang bersinar (Ilustrasi/Hidaytauna)

HIDAYATUNA.COM – “Antum Percaya Sama Nabi Atau Kiai?” Pertanyaan aneh dari segelintir kaum Muslimin yang sebenarnya tidak perlu dijawab dan sering membuat kita gerah.

Kiai dan Nabi jelas tidak akan bisa diperbandingkan. Sebab Nabi adalah manusia suci yang diutus Gusti Allah untuk umat-Nya dengan bimbingan wahyu-Nya. Sedangkan Kiai adalah penerus ilmu dan akhlak Kanjeng Nabi.

Zaman ini adalah zaman yang kita imani sebagai jaman kenabian Rasulullah Muhammad SAW yang sudah wafat belasan abad lalu. Namun, anehnya ada yang menolak mengikuti Kiai, dan ngotot mengklaim sebagai pengikut langsungnya Kanjeng Nabi.

***

“Antum ikut Kiai atau Nabi?” tanya dia seakan paling yes.

“Ikut Kiai!!!” jawabku tegas. Lalu kulanjutkan, “Apa kamu ketemu Nabi sehingga bisa langsung mengikuti beliau SAW?”

“Jelas tidak. Ana langsung mengikuti Nabi berdasarkan Qur’an Hadis,” jawabnya garang.

“Apa kamu lihat waktu Kanjeng Nabi keturunan ayat dan menyabdakan atau meneladankan Hadis?” tanyaku tak kalah garang.

“Astaghfirullah…. Antum tidak percaya Qur’an Hadis?” mulai ngamuk dia.

“Iya. Aku percaya Qur’an Hadis haqqul yaqin karena ngaji sama Kiai. Bukan ngaji sama Kanjeng Nabi. Terus kamu percaya Qur’an Hadis karena langsung ngaji sama Kanjeng Nabi, gitu?” sergahku

“Ya gak juga… Ana ngaji sama Ustaz Sunnah, murni Qur’an Hadis”, jawabnya mulai linglung

” Ya udah. Berarti kamu percaya sama Ustaz kamu itu,” kataku santai.

Kiai Bersanad ke Nabi

Aku lanjutkan, “Woles aja, Mas, Kiai itu murid dari para Kiai sebelumnya dan seterusnya hingga sanadnya sampai ke Kanjeng Nabi. Kalau sanadnya nyambung, mengikuti Kiai, ya berarti mengikuti Kanjeng Nabi juga.”

“Tidak bisa. Mana dalilnya?” jawabnya. Aku hanya tersenyum saja. Dia pasti tidak butuh dalil. Butuhnya hanya hidayah, hehehe. Sebab,  kalimat “mana dalilnya” adalah senjata mereka untuk membungkam kita.

“Coba dengarkan ya, Kanjeng Nabi bersabda: Sanad itu bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia inginkan… Rasulullah juga bersabda: Barangsiapa yang berkata tentang Kitab Allah dengan gagasannya sendiri, kalau benar dianggap salah, kalau tidak benar akan dimasukkan ke neraka Jahanam.” (Sambil kusebutkan nash asli sesuai yang tercantum di Hadis).

Gelagapan dia. Sebelum dia menggunakan jurus berikutnya, langsung kusergah karena sudah hafal tabiat saudara seiman beda jalan ini. “Shahih gak hadisnya? Kamu mau tanya itu?”

Mukanya terkejut sekali. Aku hanya tersenyum, dan mengatakan, “Mas, lebih baik kamu cari sanad gurumu nyambung gak ke Rasulullah daripada ribut mempertanyakan keshahihah Hadis yang sudah dinyatakan shahih dan hasan oleh para Imam Muhadditsin terdahulu.”

Dia kelicutan, gak bisa jawab. Aku hanya senyum lalu berpamitan. Urusanku banyak. Tidak ada waktu buat orang masa kini yang berhalusinasi sebagai murid langsungnya Kanjeng Nabi. Semoga mendapat hidayah.

Shuniyya Ruhama

Pengajar Ponpes Tahfidzul Quran Al Istiqomah Weleri-Kendal

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

6 − 4 =