Amalan Nisfu Sya’ban dan Fenomena “Mana Dalilnya?”

 Amalan Nisfu Sya’ban dan Fenomena “Mana Dalilnya?”

Pesan berantai Nisfu Sya’ban dan Fenomena “Mana Dalilnya?” (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Di aplikasi perpesanan telah beredar peran berantai yang terkait erat dengan amalan yang dibaca ketika Nisfu Sya’ban lengkap beserta niat puasanya. Menariknya, pesan pertanyaan yang disampaikan adalah menanyakan benar tidaknya amalan tersebut dan sedikit menanyakan ada tidak dalil  (Alquran dan Hadis) yang mendasarinya?

Saya tidak mempersoalkan pertanyaan yang diutarakan, dan itu benar-benar baik dan positif dan sebagai bentuk upaya menambah pengetahuan. Jika tidak bermanfaat baginya, paling tidak memberikan manfaat untuk saya agar kembali meninjau dan membuka ulang lembar-lembar yang perlu dibuka lagi.

Memang perlu diakui, pertanyaan “dalilnya mana, ya?” kerap menjangkiti dan seringkali terjadi. Kalau kita berhusnuzan boleh jadi apa yang menjadi keresahan dengan mencari tahu dalilnya.

Sebagai bentuk kehati-hatian dalam beragama dengan harapan, apa yang diyakini dan dilakukan olehnya bersumber langsung Alquran maupun Sunnah. Hal ini tidak dapat dilepaskan dengan tindak-tanduk kehidupan masa kini.

Masyarakat yang cenderung pada konstruksi nalar keilmuan modern dengan mensyaratkan bukti empiris sebagai validitas kebenarannya. Seperti misal kevalidan refrensi yang digunakan dengan kata lain tidak jauh beda dengan “dalilnya mana?”

Sehingga jika misal ada fenomena baru akan keluar “mana dalilnya?” Meskipun redaksi dari pamflet tersebut sama dengan ragam desain yang beraneka, bukan juga fenomena baru dan kerap tersebar di setiap tahunnya.

***

Lagi-lagi saya ulangi, saya tidak mempermasalahkan pertanyaannya, tidak ada yang salah dengan orang yang bertanya. Tetapi terkadang yang menjawab justru memberikan kesalahan.

Terkadang juga begini, seperti fenomena “tahlilan” lantas ada beberapa yang bertanya ihwal dalil terkait tahlilan. Jika sekadar menggunakan parameter dalil tidak akan ditemukan hadistnya.

Nabi Saw tidak pernah mengundang warga untuk duduk bersama mendoakan orang mati. Terlebih sambil makan-makan ayam, gule kambing, dan lain-lain, sudah makan, dapat berkat pula.

Lalu dengan lantangnya menganggap ini haram lantaran tidak ada dalil yang menyokong? Tentu tidak begitu juga.

Jika kita telisik apa saja yang dibaca dalam tahlilan dari awal hingga akhir, adakah unsur-unsur kesyirikan? Kesemuanya dipenuhi ayat-ayat Alquran dan kalimat-kalimat tayyibah.

Mengundang tetangga duduk sila bersama sambil makan bersama, bukan sama halnya dengan silaturrahmi? Seporsi berkat untuk dibawa pulang, bukankah hal itu termasuk sedekah?

***

Begitupun orang-orang yang begitu getol mempersoalkan terkait “bersalaman usai salat” dengan dalih tidak ada dalil dan tidak pernah dilakukan nabi Saw. Bukankah hal ini juga sebagai bentuk silaturahim kepada saudara seiman kita dengan cara bersalaman?

Giliran hal-hal baik ditanya dalil. Giliran pegang HP selepas salat, mengapa tidak menjadi soal?

Terkadang apa yang tidak ada dalam dalil dalam hal ini Alquran dan Sunnah. Memancarkan nilai-nilai Alquran dan Sunnah secara esensial.

Kembali lagi pada yang tadi, saya kurang begitu mengetahui amalan tersebut bersumber dari hadist atau tidak. Paling tidak yang saya yakini kesemua amalan tersebut merupakan amalan yang begitu baik dan memiliki banyak faidah dan keutamaan.

Selain Muharram, Rajab, Ramadhan, Sya’ban merupakan salah satu bulan yang dimuliakan. Sebagaimana yang sering kita dengar “Rajab Syahrullah, Sya’ban Syahru Rasulillah, Ramadhan Syahru Ummati Rasulillah”. Bulan Rajab adalah Bulan Allah, Sya’ban bulan Rasulullah, dan Ramadhan Bulan umat Rasulullah Saw.

Bahkan Sya’ban terdiri dari 5 huruf memiliki arti dan makna di setiap hurufnya. Akan saya nukilkan dari Syaikh Utsman Ibn Hasan Ibn Ahmad Syakir al-Khaubawiyyi dalam kitabnya Durratu an-Nasihin fi al-Wa’dhzi wa al-Irsyad. (lihat dalam Bab, fii Fadhilati Syahr Sya’ban al-Mu’dhzom, hal. 168) dengan arti begini

***

“Dari kata Syin = al-Syarofa wa as-Syafa’ah memiliki arti pertolongan dan kemulaian; ‘ain = ‘izzah wa al-karamah berarti kemuliaan dan kehormatan; ba’ = al-birr berarti kebajikan; alif = al-ulfah berarti kasih sayang; nun = an-nur berarti cahaya”.

Betapa agung bulan Rasulullah ini dengan segala keutamaannya. Jika misal Anda ingin mengamalkan beberapa amalan sebagaimana termaktub di atas, mari lakukan bersama-sama karena itu perbuatan baik dan tidak sedikitpun mengandung unsur-unsur kesyirikan.

Mari perbanyak melakukan amal shalih, dan perbanyak salawat atas Nabi-Nya Saw. Tidak hanya di bulan ini, tapi seterusnya. Allahumma Shalli ‘ala Muhammad.

Ali Yazid Hamdani

https://hidayatuna.com/

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

3 × two =