Allah Sendiri yang Berkata Dia Punya?

 Allah Sendiri yang Berkata Dia Punya?

Landmark Perdamaian Lintas Agama (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM – Masalah akidah itu sejatinya mudah dan simpel, karena Islam itu sendiri memang mudah. Kemudahan itu tentu terutama terletak pada masalah akidah yang menjadi pondasi dasarnya, baru kemudian pada sisi ibadah dan muamalahnya.

Oleh karena masalah akidah itu mudah dan simpel, maka para sahabat dan ulama di zaman salafus salih tidak mengkaji masalah ini secara berlebihan, apalagi sampai memperdebatkannya. Tidak ada takwil, tidak ada juga itsbat.

Mereka mengimani saja apa yang disebutkan dalam Alquran dan hadis-hadis Nabi tanpa berusaha menafsirkannya. Ini yang dimaksud oleh Imam Syafii dalam ungkapannya :

نؤمن بما جاء من الله تعالى وبما جاء من رسوله على مراد الله ورسوله

“Kita mengimani semua yang datang dari Allah dan dari Rasul-Nya sesuai dengan maksud Allah dan Rasul-Nya.”

Jangankan untuk menafsirkannya, untuk mengalih-bahasakannya pun sebenarnya tidak diperkenankan. Imam Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan :

ما وصف الله تبارك وتعالى به نفسه فى كتابه، قراءته تفسيره، وليس لأحد أن يفسره بالعربية ولا بالفارسية

“Apa pun sifat yang Allah sifati Dzat-Nya di dalam kitab-Nya, tafsirnya cukup dengan membacanya. Tidak boleh seorang pun untuk menafsirkannya baik dengan bahasa Arab maupun dengan bahasa Persia.”

Jadi ayat-ayat tentang sifat itu cukup dibaca saja. Itulah tafsirnya. Ketika ia ditafsirkan dalam arti diuraikan, disyarahkan, dirincikan, dan sebagainya, disinilah awal kekeliruan dan masalahnya. Sebab, kalau dengan bahasa Arab saja tidak dibolehkan apalagi dengan bahasa selain Arab yang tentu tidak sekaya, sepadat dan sehebat bahasa Arab.

☆☆☆

Jika kita menemukan ada takwil dalam ungkapan salaf, sesungguhnya itu lebih sebagai respon dan reaksi atas pemahaman yang mulai menyimpang. Imam al-Ghazali berkata :

لما كان زمان السلف الأول زمان سكون القلب بالغوا فى الكف عن التأويل خيفة من تحريك الدواعي وتشويش القلوب ، فمن خالفهم فى ذلك الزمان فهو الذي حرك الفتنة وألقى الشكوك فى القلوب مع الاستغناء عنه

“Masa salaf pertama adalah masa-masa tenang. Oleh karena itu mereka menahan diri untuk melakukan takwil, khawatir kalau hal itu akan merusak suasana hati yang sudah tenang. Siapa yang berbeda dengan mereka dalam hal ini, dialah sesungguhnya yang memulai fitnah dan melemparkan berbagai keraguan di dalam hati, padahal itu tidak diperlukan.”

Jadi, takwil yang ditempuh oleh para ulama adalah sebagai obat. Kalau tidak ada penyakit tentu obat tidak diperlukan. Tapi ketika ada penyakit, obat tidak boleh disimpan-simpan. Mesti digunakan. Tentu dengan dosis yang tepat.

☆☆☆

Imam Ibnu al-Jauzi, seorang imam dalam mazhab Hanabilah, mengatakan dengan tegas:

التشبيه داء والتأويل دواؤه فإذا لم يوجد الداء فلا حاجة إلى استعمال الدواء

“Tasybih itu penyakit, sementara takwil adalah obatnya. Kalau tidak ada penyakit, obat tidak perlu dipakai.”

Sebab itulah, masih menurut Ibnu al-Jauzi, para sahabat tidak melakukan takwil karena di masa itu memang tidak ada penyakit tasybih.

وعلى ذلك فلا محل للاعتراض بأن الصحابة لم يشتغلوا بالتأويل ، فمثال من يعترض بذلك مثال رجل يقول : إن الصحابة كانوا إذا أرادوا أن يقصدوا مكة لا يدخلون الكوفة فهم لم يدخلوها لأن مقصدهم مكة والكوفة ليست على طريقهم ، لا لأن دخول الكوفة فى حد ذاته بدعة فكذلك هنا فإنهم إن تركوا التأويل فما تركوه لكونه محظورا بل لأن هذه الشبه والبدع لم تكن فى ذلك الوقت تفتقر إلى التأويل

“Tidak pada tempatnya kalau ada yang berkata, “Para sahabat saja tidak pernah membicarakan takwil.” Ini sama saja mengatakan, “Para sahabat ketika ingin ke Mekah (dari Madinah) tidak ada yang lewat Kufah …” Ini memang karena tujuan mereka adalah Mekah, sementara Kufah tidak ada di jalur antara Madinah dan Mekah. Mereka tidak melalui Kufah bukan karena melalui Kufah itu adalah bid’ah, tapi karena Kufah memang tidak menjadi jalan mereka menuju Mekah. Begitu juga dengan masalah takwil. Mereka tidak mentakwil bukan karena takwil itu terlarang, tapi karena di masa itu tidak ada penyakit yang membutuhkan obat takwil.”

☆☆☆

Di antara syubhat yang banyak dilontarkan di berbagai media sosial saat ini dalam masalah akidah adalah, “Bukan kita yang mengatakan Allah punya tangan, punya mata, punya wajah dan seterusnya. Allah sendiri yang mengatakan demikian. Apakah kita lebih tahu tentang Allah daripada Allah sendiri?”

Kalau kita tanya, tolong tunjukkan mana ayat Allah mengatakan Dia punya tangan, mata, dan wajah? Mereka mengatakan :

يَدُ اللهِ … (الفتح : 10)

عَلَى عَيْنِي … (طه : 39)

وَجْهُ رَبِّكَ … (الرحمن : 27)

Lalu sebagian orang akan angguk-angguk sambil berkata dalam hati, “Benar juga ya… Allah sendiri yang mengatakan “tangan Allah… “mata-Ku…” “wajah Tuhanmu…”.

Lalu untuk menepis tuduhan tasybih, ditambahkanlah kalimat : “tapi tidak seperti tangan kita, tidak seperti mata kita, tidak seperti wajah kita…” Atau dalam kalimat lain : بلا كيف “tanpa kaif,” (Dr. Abdul Fudhail menyebut ini dengan بلكفة balkafah ).

Inilah kenapa ia disebut syubhat. Sekilas terlihat meyakinkan. Ketika dikaji lebih dalam baru tersingkap kelemahannya.

☆☆☆

Untuk membantah syubhat ini, kita mulai dengan sebuah pertanyaan, “Apakah benar Allah mengatakan bahwa Dia punya tangan, mata dan tangan; ataukah itu sesuatu yang Anda pahami dari ayat?

Jelas ini adalah pemahaman Anda terhadap ayat, karena ayat menggunakan tarkib idhafi (تركيب إضافي) dan ini tidak serta merta berarti kepemilikan. Beda halnya kalau redaksi yang digunakan ayat adalah : للهِ يَدٌ, atau : للهِ عَيْنٌ , atau للهِ وَجْهٌ .

Memahami tarkib idhafi hanya bermakna ‘milik’ tentu sesuatu yang keliru. Kalimat بيت الله ‘rumah Allah’, misalnya, adalah tarkib idhafi. Apakah ini berarti bahwa Allah punya rumah, hanya saja beda dengan rumah manusia? Dalam banyak ayat disebutkan : ناقة الله ‘onta Allah’. Apakah ini berarti bahwa Allah punya onta, hanya saja beda dengan onta kita?

Bagaimana seharusnya menyikapi ayat-ayat seperti ini? Kembali saja kepada arahan dari Ibnu Uyainah di atas. Jangan ditafsirkan. Tafsirnya adalah membacanya. Kalau ternyata ada resiko jatuh kepada tasybih maka lakukanlah takwil. Ikuti nasehat Ibnu al-Jauzi berikut ini:

إن نفيت التشبيه فى الظاهر والباطن فمرحبا بك وإن لم يمكنك أن تتخلص من شرك التشبيه إلى خالص التوحيد وخالص التنزيه إلا بالتأويل فالتأويل خير من التشبيه

“Kalau engkau bisa menafikan tasybih secara lahir dan batin maka itu yang terbaik. Tapi jika engkau tak bisa lepas dari ‘pengaruh’ tasybih menuju tauhid yang murni dan bersih kecuali dengan melakukan takwil maka takwil jauh lebih baik daripada tasybih.”

Meskipun di bagian akhir sering ditimpali dengan kalimat : “bila kaif,” “Tapi tidak serupa dengan tangan, mata, dan wajah makhluk”, padahal di awal dikatakan : “Allah punya tangan, mata dan wajah”, akan sangat sulit untuk bisa lepas dari pengaruh tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Karena bagaimanapun; tangan, mata, wajah, tetap saja bagian dari tubuh, meskipun tangan pada berbagai makhluk hidup berbeda-beda (tangan manusia berbeda dengan tangan kera misalnya). Tapi yang namanya tangan tetap saja anggota atau bagian dari badan.

☆☆☆

Dampak lain yang tak kalah berbahayanya adalah seseorang akan kehilangan kenikmatan membaca ayat-ayat yang sesungguhnya berbicara tentang kemahabesaran Allah, kemahakuasaan Allah, perhatian Allah, lalu dipahami bahwa ayat itu berbicara tentang Allah punya tangan, wajah, tangan dan sebagainya.

Syekh Abu Hazm Abdurrahman al-Hukmi, seorang peneliti di Arab Saudi, menulis :

Diantara dampak yang ditimbulkan dari mengkaji akidah salafi adalah terputusnya nash (ayat atau hadits) dari konteksnya. Ini membuat efek psikologis dan ruhi dari nash-nash itu menjadi hilang. Ayat-ayat yang berbicara tentang targhib dan tarhib dengan uslub yang tinggi dan membekas, akan kehilangan ruh ketika ia dipahami sebagai ayat yang berbicara tentang Allah punya ini, punya itu.

Ini diakui sendiri oleh beberapa orang yang mengkaji kitab-kitab akidah dalam manhaj itu. Kalau sebelumnya, di saat membaca al-Quran, mereka merasakan energi yang luar biasa, bahkan sering membuat mereka menangis, tapi setelah membaca kitab-kitab akidah tersebut mereka kehilangan energi itu. Seolah-olah mereka membaca ayat yang berbeda dari yang mereka baca sebelumnya.

Parahnya, bayangan dan persepsi ini terus bersemayam dalam pikiran mereka. Sehingga ketika mereka membaca ayat seperti يد الله فوق أيديهم “tangan Allah di atas tangan mereka…” yang langsung terbayang bukan kebersamaan Allah dengan hamba-hamba-Nya yang beriman, bantuan dan pertolongan Allah, dan makna-makna agung lainnya, melainkan : “Allah punya tangan”.

نسأل الله السلامة

 

Yendri Junaidi

Pengajar STIT Diniyah Putri Rahmah El Yunusiyah Padang Panjang. Pernah belajar di Al Azhar University, Cairo.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

six + 3 =