Allah Itu Ada di Arasy atau di Langit?

 Allah Itu Ada di Arasy atau di Langit?

Arasy Allah (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Arasy itu makhluk biasa seperti makhluk lainnya hanya saja ukurannya luar biasa besar hingga tak ada makhluk yang lebih besar darinya. Bila Arasy dibandingkan dengan langit, mungkin sama seperti ukuran virus Corona dibandingkan dengan Galaxy Bima Sakti. Jauh, sangat jauh selisihnya.

Ukurannya antara keduanya adalah AL-KURSI, dalam contoh ini anggap saja seukuran tata surya hanya saja lebih besar. Ini hanya perbandingan untuk memudahkan, jangan tanya ukuran pastinya sebab tak ada yang tahu.

Lalu pertanyaannya, Allah di langit atau di Arasy? Bila pertanyaan itu dinyatakan pada Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah), maka jawabannya jelas Allah tidak bertempat. Itu pertanyaan konyol sebab yang berada di luar ruang dan waktu tidak relevan ditanyakan tempatnya.

Bagi Allah sama saja antara tempat yang satu dan tempat lainnya, sama-sama dekat dalam arti sama-sama diketahui dengan jelas seluruh detailnya dan dikuasai secara mutlak. Secara hakikat, tidak ada jauh dan dekat bagi Allah.

Keberadaan Allah Menurut Wahabi

Namun bila pertanyaan di atas ditanyakan kepada pendaku salafi alias para Taymiyun alias Wahabi, maka mereka akan kebingungan menjawabnya. Mereka tahu isi hadis yang membahas perbandingan antara ukuran langit, al-kursi dan Arasy, tapi mereka melupakan begitu saja soal itu.

Pokoknya Allah di langit begitu saja atau di Arasy begitu saja, kata mereka. Padahal keduanya adalah dua tempat yang jauh jauh jauh berbeda. Ayat Alquran yang betul-betul mereka imani hanyalah ayat yang secara sepintas menyatakan bahwa Allah di langit di suatu sisi dan di Arasy di sisi lain.

Adapun ayat-ayat lain yang sepintas menyatakan Allah di bumi, Allah bersama manusia, Allah di atas menara pengawas. Allah lebih dekat dengan urat  leher semuanya tidak diimani apa adanya seperti kebiasaan mereka tapi semuanya mereka takwil. Bila kita ikuti logika kacau mereka yang berkata bahwa takwil artinya menolak ayat dan tidak mengimaninya, maka mereka sudah menolak dan inkar pada begitu banyak ayat.

Menjawab Pertanyaan “Allah Ada Di mana”

Sekarang kita kembali ke bahasan semula. Mereka selalu mempropagandakan bahwa Allah bertempat di langit di satu waktu atau di Arasy ketika ditanya di waktu yang lain. Manakah yang benar?

Mereka takkan bisa menjawabnya dengan bahasa yang mudah. Kalau tidak percaya silakan tanya pada mereka. Paling-paling hanya berkata: “Di langit itu maksudnya di Arasy atau di langit dalam arti lebih spesifiknya di Arasy.”

Adakah kalimat yang lebih bodoh dari itu? Mulai kapan langit dan Arasy dianggap satu hal yang sama? Mereka akan kebingungan menjawab ini. Apa kutu yang nempel di kepala mereka juga bisa disebut berada di Planet Mars sebab sama-sama di atas mereka?

Makin bingung ketika dihadapkan pula dengan hadis nuzul tiap malam. Dalam otak kecil mereka, Allah disangka berpindah tempat dari atas Arasy ke bawah menuju langit lalu naik lagi ke Arasy. Makin bingung mereka apakah di langit atau di Arasy ataukah di keduanya sekaligus?

Sejak dulu ulama mereka berbeda pendapat apakah Arasy kosong dari Tuhan saat Tuhan (yang ada di benak mereka) turun ke langit. Itu akibat kekonyolan nalar yang mereka paksakan sendiri.

Akhirnya orang seperti Ibnu Utsaimin cuma bisa marah-marah dan berkata: “Kamu beriman atau tidak pada dalil itu? Kalau beriman maka percaya saja lalu diam”. Ini dogma pembodohan seperti ucapan penyembah berhala yang memaksa penyembah berhala diam saja tak usah banyak tanya kenapa patung kok disembah.

Allah Tidak Bertempat

Adapun bagi Ahlussunnah wal Jamaah yang asli (Asy’ariyah-Maturidiyah), hal seperti ini tidak menjadi masalah sedikit pun. Allah tidak bertempat, Dia wujud di luar ruang dan waktu sehingga bisa saja dikatakan bahwa Allah selalu istawa, sekaligus selalu nuzul, selalu dekat bersama kita, selalu di menara pengawas dan seterusnya sesuai semua dalil yang ada.

Semua dalil ayat dan hadis itu bisa dipahami secara hakiki tanpa bisa dibenturkan satu sama lain. Tak perlu seperti orang yang ngotot berkata bahwa yang ini harus ditakwil sedangkan yang itu harus ditelan bulat-bulat bunyi harfiyahnya sambil membawa-bawa vonis sesat kalau tidak mau ikut keblinger seperti mereka.

Semoga bermanfaat.

Abdul Wahab Ahmad

Ketua Prodi Hukum Pidana Islam UIN KHAS Penulis Buku dan Peneliti di Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Pengurus Wilayah LBM Jawa Timur.

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × 3 =