Al-Majriti: Sang Alkemis Muslim dari Daratan Andalus

 Al-Majriti: Sang Alkemis Muslim dari Daratan Andalus

Ilmuwan Muslim (Ilustrasi/Hidayatuna)

Digiqole ad

HIDAYATUNA.COM, Jakarta – Pada masa lampau ilmuwan-ilmuwan muslim sangatlah mengagumkan dalam penguasaan di bidang sains. Salah satu ilmuwan penting dari kalangan umat Islam terdapat nama Maslama Al-Majriti (Methilem). Ia adalah sosok alkemis muslim berasal dari daratan Andalus.

Sebelum membahas sosok Al-Majriti, perlu diketahui bahwa istilah alkemis adalah untuk menyebut orang mahir di bidang ilmu alkimia. Alkimia sendiri adalah protosains yang menggabungkan unsur-unsur kimia, fisika, astrologi, seni, semiotika, metalurgi, kedokteran, mistisisme, dan agama.

Alkimia dapat dipandang sebagai cikal-bakal ilmu kimia modern sebelum dirumuskannya metode ilmiah. Dalam hal ini sosok Al-Majriti merupakan sosok penting dalam bidang tersebut.

Dilansir Islamic Scientific Heritage menjelaskan bahwa Maslama Al-Majriti (Methilem) (w. 1007), adalah seorang astronom, kimiawan, matematikawan, dan ekonom Muslim berdarah Arab dari Madrid, Al-Andalus (sekarang Spanyol).

Al-Majriti hidup dan aktif pada masa pemerintahan Al-Hakam II. “Al-Majrīṭī adalah salah satu alkemis paling awal yang mencatat penggunaan merkuri (II) oksida,” tulis laporan Islamic Scientific Heritage melalui thread di akun Twitter resminya, dikutip Jumat (10/9/2021).

Dalam penjelasan tersebut diungkapkan bahwa sosok Al-Majrīṭī mengambil bagian dalam terjemahan Planisphaerium Ptolemy. Ia juga meningkatkan terjemahan Almagest yang ada.

Selain itu dirinya memperkenalkan dan meningkatkan tabel astronomi Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, dengan mengubah tanggal Persia ke tahun Hijriah.

“Menurut Said al-Andalusi, dia adalah matematikawan dan astronom terbaik pada masanya di al-Andalus,” tulis laporan tersebut.

Lebih lanjut, ilmuwan bernama lengkap Abul Qasim Maslamah bin Ahmad Al-Majriti itu juga disebut telah memperkenalkan metode survei baru dengan bekerja sama dengan rekannya ibn al-Saffar.

“Dia juga menulis buku tentang perpajakan dan ekonomi al-Andalus,” sambungnya.

Al-Majrīṭī juga meramalkan proses futuristik pertukaran ilmiah dan munculnya jaringan untuk komunikasi ilmiah. “Dia membangun sekolah Astronomi dan Matematika dan menandai awal dari penelitian ilmiah terorganisir di al-Andalus,” tandasnya.

Romandhon MK

Peminat Sejarah Pengelola @podcasttanyasejarah

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

twenty − 3 =