Al-Andalus, Sejarah Muslim yang Hilang

 Al-Andalus, Sejarah Muslim yang Hilang

Al-Andalus, Sejarah Muslim yang Hilang

HIDAYATUNA.COM – Saat ini, dalam masa pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia dan juga termasuk di dalamnya umat Muslim serta menyebabkan berbagai aspek kehidupan berada dalam Bahaya. Struktur politik, sosial dan ekonomi di seluruh dunia terus merosot.

Menurut survei Pew pada 2015, ada hampir 1,8 miliar Muslim di seluruh dunia. Namun, umat Islam terpecah atas dasar sektarian dan bertempur satu sama lain.

Meskipun hal-hal tersebut menjadi hal yang suram untuk dilihat saat ini, tetapi umat Muslim dalam sejarah memiliki masa lalu yang gemilang.

Salah satunya tercermin dari sebuah sejarah umat Muslim yang hilang, Al-Andalus.

Dilansir dari Daily Times, sebuah artikel ditulis oleh Abdullah Ijaz mengungkapkan dalam masa kejayaannya Muslim memerintah Semenanjung Iberia dari 711 hingga 1492, memerintah selama hampir delapan abad.

Namun dalam rentang waktu yang berabad tersebut, ternyata juga mampu mengikis berbagai sejarah sehingga hilang dan tidak diketahui oleh kebanyakan Muslim masa kini.

Sejarah itu di antaranya adalah masa ketika Al-Andalus berkembang di Eropa secara sosial dan ekonomi. Dapat dikatakan bahwa zaman keemasan Islam memberikan fondasi bagi perkembangan barat bertahun-tahun kemudian.

Muslim terus maju dalam sains, seni, dan perdagangan. Periode pencerahan, keragaman, dan kedamaian yang gemilang. Itu tergambar dalam kehidupan sehari-hari masyarakat saat itu. Periode ini juga disebut sebagai “Zaman Keemasan Islam:” Penggambaran sejati tentang inklusivitas dan kerukunan antaragama, yang juga dikenang sebagai “Convivencia” dalam bahasa Spanyol, yang berarti hidup berdampingan semua agama.

Sekitar abad ke-10, Kordoba muncul sebagai kota terkemuka di seluruh dunia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan seni yang spektakuler. Dari kelahiran Ghazal di abad ke-7 hingga menyusun prinsip-prinsip dasar Aljabar, ada banyak penemuan oleh cendekiawan Muslim terkenal saat itu.

Menariknya, sebagian besar penemu mengkhususkan diri dalam berbagai bidang, bukan hanya satu. Masjid Kordoba menggambarkan simbol kejayaan dan menunjukkan kekuatan dinasti Umayyah. Masjid itu penting karena berbagai alasan. Itu dianggap sebagai tempat sholat yang besar sekaligus universitas bagi para intelektual Muslim.

Semenanjung Iberia juga melahirkan beberapa sarjana Islam terkemuka dalam sejarah Muslim seperti Ibn ‘Arabi dan Ibn Rusyd (Averroes). Ibn ‘Arabi mengajarkan nilai-nilai spiritualitas, kemanusiaan dan ajarannya bersifat universal bahwa setiap manusia melampaui kebenaran dengan menempuh jalan yang unik. Karyanya telah mempengaruhi tidak hanya dunia Muslim tetapi lebih dari itu. Di sisi lain, Ibnu Rush memadukan pemikiran Islam dengan filsafat Yunani kuno. Dia meringkas karya Aristoteles dan Plato dan memberikan pengaruh yang cukup besar baik pada Islam maupun Eropa selama berabad-abad.

Taman Alhambra yang terletak di wilayah Granada selatan Spanyol memberikan pemandangan megah layaknya surgawi di bumi; umat Muslim merindukan surga. Taman yang dibangun dengan inspirasi oleh ayat-ayat Alquran tentang sungai yang mengalir dan taman yang indah itu pada tahun 1984, dinyatakan sebagai situs Warisan Dunia UNESCO.

Sejarah Al-Andalus yang hilang dari sejarah itu mengajarkan kita tentang hidup berdampingan secara damai dan toleransi. Itu juga menavigasi kita ke sejarah besar Islam di mana Muslim unggul di semua bidang kehidupan. Jadi, jika kita merenungkan kehidupan mereka dan melihat apa yang mereka lakukan secara berbeda, itu mungkin memberi kita arahan dan sistem nilai. Alih-alih hanya mengagungkan masa lalu kita dan memuji kemenangan dan pemerintahan Muslim, sekaranglah waktunya untuk mengikuti jejak para pemimpin dan cendekiawan besar. Tidak hanya menjadikan Islam sebagai agama ritual tetapi menerapkan prinsip-prinsip yang benar dan mendapatkan lebih banyak ilmu.

Redaksi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

13 − five =