Kabar Internasional

Ajukan Izin Shalat, Muslim Ini Dipecat Dari Kerjanya


HIDAYATUNA.COM, Washington – Seorang muslim asal Amerika Serikat, E’Lon Brown (37 tahun) kini resmi menjadi pengangguran. Ia dipecat dari pekerjaannya setelah ajukan izin meminta agar dibolehkan melaksanakan shalat di sela kerjanya.

Dalam pengajuan izinnya itu, Brown meminta kepada pihak perusahaan agar diizinkan melaksanakan shalat fardhu dan shalat Jum’at. Namun perusahaan menolak.

Brown bekerja di Automatic Distributor Corp dan SttlaffMax. Karena ditolak izinnya, ia melalui pengacaranya mengajukan keluhan kepada Komisi Ketenagakerjaan Amerika Serikat dan Komisi Hak Sipil Indian atas tuduhan diskriminasi.

Dilansir dari Republika, Ahad (28/6/2020) Brown sudah bekerja selama seminggu di perusahaan tersebut. Brown bekerja untuk Distributor Otomatis, yang berbasis di Bangor, Maine, tetapi memiliki lokasi di 5111 W. 76th St. Ia dipekerjakan melalui StaffMax, yang merupakan agen kepegawaian di Speedway.

Dalam surat keluhan tersebut, Brown merupakan seorang Muslim sehingga wajib hukumnya untuk menjalankan shalat fardlu lima waktu dan shalat Jumaat berjamaah. Brown meminta diberikan keringanan waktu untuk melakukan shalat fardlu selama 5-10 menit, sedangkan untuk melaksanakan shalat Jumat, ia izin untuk diberikan waktu satu jam.

Brown bekerja sebagai pengepak di lokasi Indianapolis Distributor Otomatis pada 17 Desember 2019. Jarak perusahaanya dengan masjid hanya lima menit dan ia meminta akomodasi keagamaan melalui StaffMax untuk menjalankan kewajibannya itu sebagai Muslim.

Brown mengatakan kedua pengawasnya menerima permintaannya tetapi menolaknya. Ketika Brown menindaklanjuti kembali permintaannya pada minggu selanjutnya, salah satu pengawas mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak dapat mengabulkan permintaan Brown.

Pengawas tersebut menyatakan, bahwa jika memberikan izin kepada Brown artinya mereka juga harus mengabulkan semua orang juga. “Mereka harus mengakomodasi semua orang, yang tidak bisa mereka lakukan,” kata pengaduan.

Baca Juga :  Sejumlah Massa di Bangladesh Tolak Kunjungan PM India

Tanggal 26 Desember, Brown mengaku menerima pesan teks dari StaffMax yang menyatakan memutuskan hubungan kerjanya. Seorang karyawan StaffMax kemudian mengkonfirmasi bahwa pekerjannya dihentikan karena kebutuhan keagamaannya itu. (MK/Hidayatuna)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close