Ajaran Berdoa dari Abu Nuwas Lewat Syair Al I’Tiraf

 Ajaran Berdoa dari Abu Nuwas Lewat Syair Al I’Tiraf

Abu Nawas (Ilustrasi/Hidayatuna)

HIDAYATUNA.COM – Abu Nuwas adalah sosok penyair yang terkenal ketika kekhalifahan Abbasiyah, tepatnya pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid. Abu Nuwas seringkali muncul dalam cerita 1001 malam.

Ia merupakan sosok lucu dan banyak tingKah yang membuat orang tertawa. Tetapi kadang juga membuat orang lain geram, namun karena dikenal sebagai pelawak, maka orang lain mewajarkannya.

Dia adalah sosok yang cerdik, memiliki pengetahuan yang luas. Banyak kejadian kontroversial dengan tujuan mengkritik masyarakat dan pemerintah dengan satir-satir yang dia buat.

Akan tetapi karena terlalu banyak membuat kontroversial, maka Abu Nuwas seringkali dipenjara. Meski di dalam penjara, pemerintah tidak bisa menghukum dia lebih jauh.

Hal ini terjadi karena ia adalah sosok cerdik. Ketika hendak dihukum, Abu Nuwas mengutarakan alasannya melakukan hal kontroversial sehingga pemerintah (hakim) memaklumi perbuatannya.

Salah satu peninggalannya yang patut kita contoh adalah syair al I’tiraf. Syair yang diciptakan oleh Abu Nuwas ini mengajarkan salah satu metode dan tata cara berdoa kepada Allah. Berikut bunyi syairnya:

Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni syurga // Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka // Terimalah tobat-tobat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba // Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat // Dosa-dosa hamba bagaikan tumpukan pasir // Terimalah tobat hamba, wahai yang Maha Mulia //  Sementara umur hamba kian hari kian berkurang // Dan dosa hamba kian bertambah, bagaimana mungkin hamba mampu memikulnya // Wahai tuhanku, hamba-Mu yang penuh dengan dosa ini, kini menghadap-Mu memohon ampunan // Jika Engkau mengampuni, pantaslah karna Engkau maha pengampun // Namun, jika Engkau menolak permohonan hamba, kepada siapa hamba berharap selain Engkau.

Asal usul Syair Al I’Tiraf dari Abu Nuwas

Ketika Abu Nuwas mengalami pencerahan, dia membuat sebuah syair berjudul al I’Tiraf (pengakuan). Syair tersebut adalah pengakuannya, dan bukti pertaubatannya. Seperti yang telah dikisahkan dalam banyak kitab dan juga persaksian para ulama.

Abu Nuwas adalah sosok yang cerdik tetapi sekaligus sosok yang kontroversial. Bahka sebelum bertaubat, dia seringkali mabuk-mabukan. Tetapi saat dia bertaubat, ia pun mengalami pencerahan dari Tuhan. Sosoknya kemudian menjadi ulama besar yang paham akan fiqih, hadis dan Alquran.

Tetapi dalam mengajarkan satu ilmu kepada muridnya, Abu Nuwas tetap menggunakan pendekatan yang jenaka. Metodenya untuk mengajar masih sama seperti sebelum dia bertaubat. Yakni dengan pendekatan humor.

Pasca pertaubatannya inilah, dan saat ia memiliki beberapa santri, terciptalah syair al I’Tiraf. Menurut beberapa sumber, syair ini adalah ciptaan dari Abu Nuwas yang diajarkan pada salah satu muridnya.

Saat muridnya bertanya pada Abu Nuwas, “Wahai Guru, apakah kita bisa menipu Tuhan?”

Ia menjawab, “Bisa, caranya dengan merayu tuhan lewat pujian dan doa, dengarkanlah apa yang aku katakan ini.” Kemudian dia mengumandangkan syair I’tiraf.  ada yang berpendapat jika kata ‘menipu’ tersebut bukan menipu dalam artian sifat yang jelek.

Hal ini didasarkan pada kata abu Nawas di atas, merayu dan memberikan pujian sama artinya kita sedang ingin mendapatkan hati seseorang. Ketika orang tersebut sudah kita dapatkan hatinya maka keinginan kita pasti akan dikabulkan olehnya.

Maka hal inilah yang diajarkan oleh Abu Nuwas, pertama kita harus merayu Tuhan, agar Tuhan berkenan pada kita semua. Ketika Tuhan sudah ridha, sudah sayang pada kita maka meminta apa pun pasti akan dikabulkan oleh Tuhan.

Ajaran doa dalam syair al-I’tiraf

Dari syair di atas kita dapat mengambil pelajaran cara berdoa. Pertama-tama kita sebagai manusia yang penuh dengan dosa, jangan langsung berdoa untuk meminta satu hal. Tetapi mulailah dengan pengakuan jika kita adalah manusia tempatnya salah dan dosa.

Setelah memahami bahwa kita adalah manusia yang selalu salah dan penuh dengan dosa. Maka di awal doa mulailah dengan memohon ampunan atas dosa yang telah diperbuat. Setelah itu mulailah meminta apa yang menjadi tujuan dari doa yang kita lakukan. Tetapi di akhir doa bertawasullah dengan nama Tuhan.

Seperti yang dikatakan oleh Abu Nuwas, diakhir doa diatas beliau mengakhiri dengan menyebut nama Tuhan sebagai satu-satunya tempat bergantung, yakni dalam kalimat “Namun, jika Engkau menolak permohonan hamba, kepada siapa hamba berharap selain Engkau.”

Lohanna Wibbi Assiddi

Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *