Aisyiyah Ingin Jalan Dakwah Lewat Seni Budaya Bisa Disinergikan
Aisyiyah mengaku ingin agar jalan dakwah lewat seni budaya bisa disinergikan dengan berbagai lembaga yang ada di dalam Muhammadiyah.
HIDAYATUNA.COM, Yogyakarta – Ketua Lembaga Kebudayaan Pimpinan Pusat Aisyiyah, Mahsunah Syakir, mengungkapkan bahwa meski lembaga kebudayaan sudah menginjak periode ke 4, namun penyadaran penting eksistensi lembaga kebudayaan dalam persyarikatan Muhammadiyah belum dipahami oleh semua aktivis persyarikatan Muhammadiyah.
Dalam hal ini Mahsunah memberi catatan terkait masa depan lembaga pendidikan kebudayaan.
“Apakah lembaga kebudayaan ini akan menjadi semakin dikokohkan dalam organisasi ini atau tidak. Kemudian kalau dikokohkan akan menjadi seperti apa, karena setiap periode itu kan berbeda,” ujar Mahsunah dikutip dari laman resmi Muhammadiyah, Sabtu (14/3/2020).
Ia mengatakan, terkait dengan sinergitas antar majelis di persyarikatan dengan lembaga kebudayaan dinilainya sangat penting. “Tidak bisa tidak jalannya dakwah lewat seni budaya itu tentu harus sinergi dengan majelis-majelis yang lain,” ungkapnya.
Menurutnya kelemahan dari lembaga kebudayaan sendiri ialah tidak bisa menyentuh sampai bawah. Sehingga perlu bekerjasama dan bersinergi dengan majelis- majelis terkait, semisal majelis Dikdasmen.
“Maka nanti harus diperjelas sinergitas antar majelis dalam hal mengangkat program-program kebudayaan ini ke dalam program majelis lain dalam hal dakwah dengan seni budaya ini,” tuturnya.
Dalam penjelasannya, Mahsunah mengatakan visi misi dan program kerja prioritas dari lembaga kebudayaan. Terutama terkait dengan mengembangkan kebudayaan lokal yang berlandaskan Islam sebagai sarana dakwah dan sarana pendidikan karakater.
Mahsunah mengatakan, masyarakat lupa dengan sejarah awal penyebaran Islam di Indonesia ialah dengan menggunakan pendekatan seni budaya. Sehingga lembaga kebudayaan menilai pentingnya pengembangan di bidang tersebut. Terlebih saat ini pengembangan budaya sebagai sarana dakwah dan pendidikan mengalami tantangan kembali karena sebagian menganggapnya haram.
“Sekarang juga banyak amal usaha Aisyiyah semisal TK yang gurunya mengharamkan seni. Padahal kan seni itu merupakan sarana efektif untuk pendidikan karakter bagi anak-anak,” terangnya.